Prime banner

SALATIGA – Kurang lebih 10 tahun, Faridatul Mutmainah (14) harus hidup tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Gadis penyandang difabel ini tinggal di rumah bersama sang kakak, Imam fakhrurozi (19) dan hidup dari hasil kasih sayang sang bibi, Siti Khotimah (39), di kampung Tambakselo RT 6 RW 2 Desa Pasekan Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Seulas senyum muncul di wajah gadis berpanggilan katul itu, tak lama setelah Tribun menyapanya. Sekujuh tubuhnya tampak utuh meski kedua kaki dan tangannya tidak bisa difungsikan dengan baik. Kendati tidak bisa diajak berkomunikasi selayaknya orang normal, Katul masih memahami maksud orang yang mengajaknya bicara.

“Saya merawat dia dan Imam sejak ibunya pergi sekitar 10 tahun lalu. Dalam sehari-hari dia saya perlakukan sama, kalau dia sudah mengacak-acak tempat ya saya tegasi,” jelas Khotimah (6/2/2018).

Sang ibu, Rubiah, pergi berpamitan untuk bekerja tanpa ada kepastian di mana. Sementara ayah Katul juga setahun terakhir tak ada kabarnya. Kepala Desa Pasekan, Juli (43) mengungkapkan ayah katul pernah berkomunikasi dengannya pada tahun 2017 lalu.

“Katanya dia mau kerja di Jogja, namun dia juga tidak jelas keberadaannya. Sampai sekarang dia tak mengabari lagi,” tutur Juli.

Tempat tinggal Khotimah sendiri sebenarnya merupakan dua bangunan yang menjadi satu di bagian belakang. Ia dan keluarga Rubiah tinggal berdampingan di pemukiman sederhana yang letaknya sedikit menanjak tersebut.

Di ruang belakang itulah, Katul tidur dan menghabiskan hari-harinya. Sang kakak, Imam, mengatakan untuk membantu sang bibi ia terbiasa bekerja serabutan. Imam pun menunjukkan kepedulian serupa terhadap Katul, antara lain mengawasinya saat ia bermain-main di lantai ruang belakang yang sebagian besar masih berupa tanah.

“Sebenarnya difabel Katul ini baru muncul setelah ia jatuh dari permainan baby walker, meski sudah dibawa ke dokter namun tak juga sembuh,” kata Kepala Dusun Tambakselo, Ayu Astuti (25).

Menurut Ayu, pernah ada seseorang yang mengaku perwakilan dari suatu yayasan yang menawari perawatan terhadap Katul. Namun ia menolaknya dengan alasan tidak jelasnya keberadaan alamat yayasan tersebut.

“Saya khawatir ternyata maksudnya tidak seperti yang diucapkan. Katul sebenarnya punya adik kecil, namun oleh ayahnya dititipkan ke seseorang di kampung lain,” beber Ayu.

Semetara Khotimah sendiri tidak akan berkeberatan jika ada pihak yang menawarkan bantuan perawatan Katul. Khotimah merupakan ibu tiga anak, dan salah satu di antaranya juga mengidap difabel, Kartini.

“Saya sejauh ini hanya bisa membantu memandikan dan menyuapinya. kalau ada yang bisa memijat atau semacamnya sampai keadaan katul membaik tentu saya akan sangat terbantu,” tutur Khotimah yang hidup dari uang kiriman suaminya di Jakarta.

Sedangkan Juli menyebutkan, pihak dessa selama ini sudah maksimal dalam membantu keluarga Khotimah. Kebutuhan seperti beras rutin dikirimkan kepada Khotimah.

“Harapan saya selaku kepala desa adalah ada kepedulian dari pemerintah yang memiliki wilayah ini, agar warga kami yang mengalami kesusahan ini bisa lebih ringan bebannya,” jelas Juli. [Ponco]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner