Prime banner

CIREBON – Hampir dua belas tahun lamanya menghilang dan tak ada kabar dengan keluarga, Pekerja Migran Indonesia (PMI) Suneni Murti Warsudi akhirnya ditemukan dan dipulangkan ke kampung halamannya di Cirebon.

Perempuan kelahiran Cirebon, Jawa Barat, itu berangkat ke Arab Saudi pada 2006 dan bekerja sebagai asisten rumah tangga pada sebuah keluarga di Kota Jizan yang berjarak sekitar 680 kilometer dari Jeddah. Saat berangkat, usianya masih 18 tahun. Namun di paspor, usianya dibuat lebih tua dari yang sebenarnya.

Dilansir dari liputan 6.com, Suneni sempat berkirim kabar kepada keluarga di Tanah Air, tapi setelah itu hilang kontak. Dari pengakuan Suneni, nomor yang sebelumnya bisa dihubungi sudah tidak aktif lagi. Sejak itu, tidak ada komunikasi lagi antara dia dan keluarganya yang beralamat di Desa Sarabau, Kecamatan Plered, Cirebon.

Suneni berhasil ditemukan saat dia ditemani sang pengguna jasa mengajukan penggantian paspor yang habis masa berlakunya sejak 2009. Sejak datang ke Arab Saudi, perempuan yang mengaku hanya tamatan sekolah dasar ini tidak pernah mengganti paspor.

Saat diwawancarai petugas imigrasi mengapa ia tidak mengganti paspor dalam jangka waktu yang begitu lama, Suneni menjawab terbata-bata pertanyaan petugas. Tingkahnya membuat petugas curiga dan akhirnya mengantar Suneni ke bagian Teknis Tenaga Kerja untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Petugas bagian tenaga kerja mengecek di database pengaduan. Ternyata, Suneni termasuk daftar TKI yang dicari keluarganya sejak 2011 melalui surat dari Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS), Al-Hijaz Indojaya, yang memberangkatkannya ke Arab Saudi.

Majikan Suneni lalu diminta menghadap ke staf Teknis Tenaga Kerja KJRI Jeddah, Mochamad Yusuf, dan diajak berbicara. Dari hasil penelusuran, diperoleh fakta bahwa selain majikan tidak menawarkan pembantunya itu untuk pulang atau cuti ke kampung halamannya. Lagipula, Suneni mengaku tidak ingin pulang karena masih betah.

“Saya masih butuh kerja,” ucapnya.

Melalui pendekatan dan penyelesaian secara kekeluargaan, majikan menyerahkan sisa upah Suneni senilai 50.700 riyal (Rp 177.450.000) yang masih ada di majikan karena tidak diminta.

“Saya enggak minta (ke majikan), nanti dia kasih kalau (saya) mau kirim,” tuturnya.

Suneni menuturkan sejak pertama bekerja hingga berhenti bekerja dari sponsornya itu, ia menerima upah bulanan sebesar 600 riyal (Rp 2.100.000). Bekerja pada keluarga dengan tujuh anak, Suneni sehari-hari mencuci, menyetrika pakaian, dan membersihkan rumah.

“Majikan baik. Kalau ada madrasah (sekolah) saya bekerja mulai jam enam, tidur kadang lima jam. Kerja lagi sampai pukul 10 malam,” katanya.

Melalui pendekatan dan penyelesaian secara kekeluargaan, majikan menyerahkan sisa upah Suneni senilai 50.700 riyal (Rp 177.450.000) yang masih ada di majikan karena tidak diminta.

Menanggapi fenomena ini, Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin, mengimbau seluruh PMI di Arab Saudi agar mengingatkan para majikan mereka supaya mengganti paspor sebelum masa berlakunya habis.

“Memperbaharui dokumen paspor menjadi salah satu jalan bagi kami untuk mengetahui keberadaan PMI dan membantu permasalahannya, sehingga KJRI lebih mudah memberikan perlindungan,” ujar Konjen.

Konjen menyesalkan maraknya PMI yang menolak pulang karena alasan betah bersama majikan walaupun telah puluhan tahun berpisah dengan keluarga.

“Niat mulia pemerintah untuk memberikan perlindungan terkadang tidak sejalan dengan keinginan sebagian PMI. Tidak mau pulang ke keluarga meskipun telah lama dicari-cari,” kata Konjen. [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner