Prime banner

NGAWI – “Saya dilepaskan, setelah saya pulang dari rumah sakit karena saya sakit. Beberapa hari kemudian, saya dibelikan tiket dan dipulangkan dengan dikasih uang 10 juta rupiah untuk upah selama 2 tahun bekerja” beber SK kepada Apakabaronline.com.

“Dengan surat dokter yang saya bawa dari Malaysia, kata Dokter di Indonesia, saya menderita leptospirosis” tambahnya.

SK (25) warga Paron Ngawi ini merupakan korban penganiayaan yang dilakukan oleh majikannya di kawasan Damansara Malaysia selama 2 tahun dia bekerja di sana. Majikan SK merupakan seorang warga keturunan India yang menurutnya memiliki sangat sadis dan tak berperikemanusiaan. Penderitaan SK dimulai sejak bulan kedua dirinya tinggal di rumah majikannya yang menurutnya sekitar bulan Maret tahun 2014.

Di keularga tempatnya bekerja, SK ditugasi mengurusi 13 anjing berbagai jenis milik majikannya. Tugas SK disamping memberi makan anjing, juga mengurusi pekerjaan rumah tangga seperti bersih-bersih rumah dan pekarangan, serta memasak.

“Rumahnya itu besar, pembantunya hanya saya sendiri. Orangnya ada 8. Kadang-kadang kalau pas sodaranya datang, bisa belasan orang yang harus saya ladeni. “ terang SK.

“Saya bekerja dari sebelum subuh sampai menjelang subuh lagi. Jadi sering saya hanya tidur setengah jam. Jatah makan hanya 1 kali sehari, itupun makanan sisa mereka makan” lanjutnya.

Penderitaan SK ini diperparah dengan kelakuan anak majikannya yang sering memaksa SK untuk melayani kebutuhan biologisnya.

“Kedua anak laki-laki majikan saya sering memperkosa saya. Sudah tak terhitung lagi berapa kali. Bahkan majikan laki-laki saya juga ikut-ikutan.” aku SK diantara linangan air matanya.

Lantaran berposisi menjadi budak nafsu di rumah tersebut, oleh majikannya SK diberi obat anti hamil, agar perbuatan bejat 3 orrang laki-laki di rumah tersebut tidak sampai membawa akibat kehamilan.

Kondisi dan perlakuan yang diterima SK, mau tidak mau membuatnya menderira secara fisik dan mental. 13 anjing yang setiap hari dia kasih makan, tidak pernah dirawat kesehatannya oleh majikan. Beberapa kali SK terkena serangan anjing saat memberinya makan. Luka bekas serangan anjing sampai saat ini masih membekas di beberapa bagian tubuhnya.

Jika SK merasa kelelahan, kemudian staminanya turun, otomatis akan mempengaruhi kecekatan dia dalam bekerja. Mengetahui hal demikian, majikan SK bukannya menyuruh beristirahat atau berobat, tapi justru malah melakukan kekerasan fisik dengan memukul, menampar dan kekerasan mental dengan membentak dan memaki-maki.

Klimaksnya, menjelang akhir tahun kedua SK bekerja, Januari 2016, SK jatuh sakit. SK sudah tidak kuat lagi bangun.

“Saya antara sadar dan tidak saat itu saya masih sempat dikata-katai kasar dan di tampar supaya bangun. Namun saya sudah tidak kuat lagi. Saat saya sadar, tahu-tahu saya di rumah sakit” lanjut SK

SK mengaku, momen dia dirawat di rumah sakiit menjadi momen awal kebebasan dia dari segala penderitaan. Sebab, usai pihak rumah sakit mengijinkan SK pulang, majikan SK langsung membelikan tiket ke Surabaya berikut memberinya uang Rp. 10 juta rupiah sebagai gaji selama 23 bulan bekerja.

“Hanya 10 juta. Padahal, dulu waktu mau berangkat, gaji saya itu sekitar 3 juta rupiah setiap bulan” kenang SK.

SK mengaku sama sekali tidak memprotes apa yang diberikan majikannya (tiket pesawat dan uang 10 juta) lantaran menurutnya, yang ada dalam benaknya hanyalah segera ingin bebas dan ppulang ke rumahnya di Paron Ngawi Jawa Timur.

Sesampai di rumah, kondisi kesehatan SK bukan membaik, tapi justru malah memburuk. Setelah berobat ke ppuskesmas, dengan menunjukkan surat yang dia bawa dari rumah sakit di Damansara Malaysia, SK dirujuk untuk mendapatkan perawatan di RSP dr Harjono Madiun.

“Dalam surat tersebut, kata pihak puskesmas dan rumh sakit, saya menderita Leptospirosis” ujarnya.

Setahun menjalani pengobatan, kondisi kesehatan SK semakin membaik. Hanya mental SK yang belum sepenuhnya pulih seperti saat sebelum ke Malaysia.

“Mendengar  suaranya atau mendengar namanya disebut saja saya sudah ketakutan, apalagi disuruh melihat atau memegang anjing. Saya bisa pingsan” aku SK.

SK mengalami trauma yang begitu mendalam. Hingga berita ini diturunkan, SK berobat dengan biaya sendiri. Tidak pernah sekalipun SK menerima bantuan pengobatan sebagai seorang PMI korban penganiayaan. Baik pemerintah daerah maupun LSM, belum ada satupun yang membantu SK pulih dari deritanya, apalagi membantu SK mendapatkan keadilan. [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner