Prime banner

WONOGIRI – Didalam hidup seseorang, sebenarnya memikul harapan dari beberapa orang. Jika harapan tidak bisa terpenuhi, seringkali mengakkibatkan kekecewaan mendalam. Begitulah setidaknya, pelajaran berharga yang bisa diambil dari insiden yang menimpa keluarga Setyowati, seorang PMI Hong Kong yang ternyata sudah hijrah ke Makau, yang pada bulan November  tahun kemarin dicari keluarganya lantaran sudah 8 tahun tidak ada kabarnya.

Kebingungan Jumiyatin (56), serta Leni Susanti akhirnya terjawab dengan hal mengejutkan, yang kembali membuat keluarga besar Setyowati kalangkabut. Pasalnya, setelah sempat keluarga Setyowati meminta bantuan ApakabarOnlline.com  pada 17 November tahun kemarin untuk mempublikasikan pencarian mereka terhadap Setyowati, 4 bulan berselang, tiba-tiba Setyowati muncul di rumah orang tuanya di Desa Wulanga jaya Kecamatan Tirowo Kabupaten Muna Barat Sulawesi Tenggara.

Leni, Sejak Bayi Ibunya Pergi Ke Hong Kong Meninggalkannya Tanpa Pernah Menghubunginya

Dituturkan oleh Nunung Nurjanah, sepupu Setyowati yang tinggal di Wonogiri Jawa Tengah,  Setyowati tiba-tiba pulang ke rumah orang tuanya pada Sabtu, 10 Maret kemarin.

“Kata kakaknya, Mbak Wati pulang dalam kondisi hamil. Belum sempat ditanya oleh Bu Dhe (ibunya Setyowati), mbak Wati sudah terlebih dahulu marah-marah ke ibunya, kakaknya dan bapaknya. Mbak Wati marah karena dicari dan fotonya nampang di Apakabar tahun kemarin. “ tutur Nunung kemarin (20/03) petang.

Nunung menuturkan, kedatangan Setyowati pada tanggal 10 Maret kemarin bukannya membuat suasana menjadi tenang dan bahagia. Kemarahan Setyowati serta kedatangannya yang dalam kondisi hamil membuat Jumiyatin ibunda Setyowati syok. Saking tidak kuatnya menahan beban keterkejutan, Jumiyatin sampai tidak sadarkan diri, kemudian menusul suaminya, mengalami serangan jantung.

Kondisi tersebut sempat membuat geger tetangga yang mendengar dan melihat kedatangan Setyowati. Saat Juniyatin tidak sadarkan diri, tetangga berbondong – bondong datang memberi bantuan dan menunjukkan simpati mereka. Beberapa tetangga yang berusaha menasehati dan menenangkan Setyowati malah sempat ikutan disemprot dengan kata-kata kasar yang diucapkan Setyowati.

Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, dua oorang tetangga ada yang sempat mengambil video serta foto atas kejadian tersebut. Beruntung, video dan foto kepulangan Setyowati yang membuat petaka bagi keluarganya tidak sampai tersebar di sosial media.

Jumiyatin sempat dicarikan pertolongan medis di rumah sakit, namun seminggu berselang, tepatnya tanggal 17 Maret kemarin, Jumiyatin berpulang menghadap Illahi, meninggalkan keluarga dan dunia yang fana ini.

Dalam kondisi Jumiyatin dirawat karena serangan jantung, Setyowati bukannya ikut membantu mengurusi ibunya yang sakit disebabkan oleh kedatangan dan kondisinya. Setyowati justru menghilang lagi.

“Sampai saat ini mas, mbak Wati tidak ada yang tahu pergi kemana lagi. Keesokan harinya setelah bu dhe dirawat, tanggal 12 itu mbak Wati pergi lagi tanpa ada yang dipamiti. Bu dhe meninggal, mbak Wati tidak tahu.” tutur Nunung.

“Yang paling membuat bu dhe terkejut sampai pingsan hingga akhirnya meninggal dunia, saat Bu dhe bertanya ke mbak wati kamu selama ini kemana saja, mbak Wati dengan enteng menjawab “ngelonthe di Makau” sambil meludah ke lantai didepan Bu dhe berdiri” lanjutnya.

Menyikapi kepergian Setyowati kali kedua ini, menurut penuturan Nunung, keluarga sudah pasrah dan ikhlas, Setyowati mau pergi kemana.

“Kami semua sudah ikhlas mas, daripada menjadi beban dan menambah masalah, kalau mbak Wati memang tidak mau peduli dengan ibunya, dengan bapaknya, dengan Leni anak perempuannya yang sebentar lagi mau naik kelas 3 SD, ya sudah, terserah. Semoga Allah memberi hidayah” tegas Nunung.

Melalui ApakabarOnline.com, Nunung menitipkan pesan, jika Setyowati membaca berita ini, sekedar untuk diketahui saja bahwa ibunya Jumiyatin telah meninggal dunia 7 hari setelah kedatangannya.  Dan demi kebaikan serta masa depan Leni, anak perempuan Setyowati, keluarga berencana akan memindahkan Leni ke Wonogiri pada pergantian tahun ajaran depan.

“Mbak Wati, saat kenaikan kelas, keluarga akan membawa Pak dhe dan Leni ke Wonogiri. Ini keputusan keluarga. Terserah, mbak Wati mau peduli atau tidak, yang penting keluarga bermaksud menyelamatkan Pak dhe dan Leni dari trauma dan sakit hati mereka” pungkas Nunung.  [Asa/Lahuri]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner