Prime banner

YOGYAKARTA – Sosok yang ramah dari Kampung Tahunan. Umbulharjo, Yogyakarta ini adalah mantan PMI Malaysia yang tetap bersemangat walau pernah menuai kegagalan dalam usahanya. Tekad kuat dan semangat pantang menyerah dalam berusaha akhirnya berhasil mengantarkan Mr. Lobs masuk dalam blantika kuliner yang dinovatif di Yogyakarta.

Setyawan Setya 40 tahun dan Anggun 35 tahun adalah  pasangan eks PMI ( Pekerja Migran Indonesia) yang mempunyai tekad usaha di negri sendiri dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang tidak atau belum terpikirkan oleh orang lain.

Kepada Apakabar Plus Setyawan eks PMI 15 tahun di Malaysia ini menceritakan perjalanannya dalam memulai usaha. Pada tahun 2014 pertengahan Ia pulang ke Indonesia belum mempuyai ide apapun tentang usaha, karena waktu itu hanya ingin pulang dan kerja seadanya.

“Setelah sampai dirumah kami mempunyai keinginan untuk buka tambak udang di Kutoarjo. Dalam hitungan panen 3x kurun waktu 6 bulan kami mengalami kegagalan dan memakan kerugian sekitar 300 juta rupiah. Sawah, rumah semua tergadai, ungkapnya.” kenangnya.

“Kira-kira akhir 2014 mulai untuk usaha lobster dengan modal sisa-sisa dari kebangkrutan membuka tambak udang sebesar 500 ribu rupiah saja. Saat itu iseng-iseng saja jalan ke Cilacap beli lobster, karena saat itu melihat lobster yang kecil-kecil kok hanya dibuang saja. Pada saat membeli lobster tidak ada niatan untuk usaha, saya hanya beli 10.000 atau 20.000 saja dan itupun sudah dapat banyak. Akhirnya pada kesempatan lain saya kembali lagi membeli Rp100.000-Rp 200.000 itupun sudah mendapatkan 30kg lebih lobster.” lanjutnya.

“Saya sampai bingung untuk apa lobster sebanyak ini. Sampai dirumah bertemu sama adik yang kebetulan juga eks PMI Malaysia yang sudah menjalankan usaha dan mempunyai beberapa outlet. Dia menyarankan untuk menjual ke link-link dia untuk memasok lobster ke resto San Mor di depan Universitas Gajah Mada (UGM) Jogja.” lanjutnya.

Lobster kecil-kecil yang terbuang tidak ada nilainya dan tak berharga ini menjadi kesempatan mereka untuk membuat sesuatu yang murah meriah. Saat itu instragram lagi booming, kami memanfaatkan sosial media (sosmed) dan berkembang pesat.

“Saya melihat kecenderungan pelanggan membeli produk makanan Mr. Lobst bukan untuk dikonsumsi, tapi untuk selfi. Melihat kondisi yang seperti ini timbul pemikiran “kenapa gak bikin sesuatu diluar pemikiran orang lain, sesuatu yang tidak dipikirkan orang lain”. Akhirnya saya bikin makanan seafood berbahan lopster tidak ada yang lain. Harga diluar untuk makanan seafood seharga 99.000 rupiah sedang di lapak saya seharga 5000 rupiah saja, orang bilang saya gila. Saya jawab iya memang saya gila, karena untuk merevolusikan sesuatu kita harus memikirkan sesuatu yang agak gila.” tururnya dengan penuh keyakinan.

“Akhirnya saya merambah ke kerang, cumi dan udang, dan itu semua dibawah harga standart. Mereka menjual dengan harga 99.000 rupiah, saya menjual 25.000 rupiah. Dalam menjalani usaha tidak langsung tumbuh berkembang, karena dalam revolusi kuliner pasti banyak tantangannya. Tantangan untuk suplay, tantangan dengan kompetitor, tantangan untuk pemasaran itu sendiri karena orang pasti menilai barang yang murah pasti tidak enak. Tantangan seperti ini menjadi kesempatan bagi kami untuk menunjukkkan kepasar “ini lho harga murah tapi asli, yang murah tapi bukan dari barang murahan”. jelasnya.

Dari pengalaman yang diakui Setyawan dalam menjalankan usaha memang tidak langsung berhasil, jatuh bangun telah ia lalui. Namun ia tetap mengutamakan mempertahankan bendera dulu atau branding yaitu “Mr.Lobst. membuka usaha di kalangan high class Sahid Mall Jogja pun sudah dilakukan, walau dalam segi pendapatan tidak sebanding dengan pengeluaran, tapi ia tetap bertahan demi mempertahankan branding dulu. Akhirnya omset terus naik dan branding ia dapatkan.

Dari pengalaman yang ia lalui bisa mengambil kesimpulan bahwa “ Tidak semua tempat yang strategis itu mendatangkan suatu yang besar”. Seperti yang diceritakan kepada Apakabar Plus pengalaman membuka lapak di tempat strategis di Kadiningratan yang sangat ramai tempat anak muda berkumpul, menu dan sajian  resto ini omsetnya tidak sesuai.

Strategi baru ia lakukan untuk membuka lapak di Lippo Plaza Jogja, dengan menu fast food menghasilkan omset yang terus menanjak naik walau lapak ini lebih kecil di bandingkan dengan menu resto di tempat sebelumnya. Ide menu sajian fast food ia dapatkan lantaran pihak Lippo mengajukan tantangan untuk tidak membawa produk asli Mr. Lobst dan tantangan mengenai penyediaan air, akhirnya ide fast food (cepat saji) tercetus. Solusi untuk berinovasi bagaimana memasak seafood dengan mengurangi kebutuhan air. Semua menu di olah dengan mengurangi kebutuhan air yaitu dengan dibakar, digoreng.

Menu yang disajikan simple dan menarik, seperti nasi goreng lobster, lobster bakar, cumi bakar, kerang hijau bakar, fish ball bakar, dalam satu set menu sudah termasuk minum seharga Rp.10.000 saja. Dengan tampilan menu yang menarik, makanan bergengsi dengan harga yang ekonomis pasti menarik perhatian pelanggan. Dalam kegiatan saat Apakabar Plus mengunjungi lapak yang berlokasi di Seven Sky Lippo Plaza terlihat ramai sekali bahkan sampai berantri panjang menungu pesanan. Kedua pasangan, dan putranya serta karyawan sangat sibuk bahkan berbuka puasa pun tidak sempat. Bapak satu anak ini meniru sistem yang dilakukan oleh Mc Donald dan Kentucky Fried Chicken (KFC) yang cepat saji.

Tidak sia-sia dalam mempertaruhkan semua perjuangan untuk mempertahankan branding mendapatkan hasil yang memuaskan. Dalam satu hari pendapatan yang ia hasilkan tidak kurang dari Rp 2000.000 dan hasil bersih sekitaran RP.1.500.000, dengan modal operasional Rp. 300.000 perhari untuk belanja bahan bakunya. Dalam satu bulan pasangan alumni Mandiri Sahabatku Hong Kong dan Malaysia  ini bisa menghasilkan Rp 2000.000×30 hari = Rp.60.000.000 di kurangi biaya operasional dan menggaji karyawan Rp1.500.000 x 4 orang karyawan termasuk putra yang ikut membantu dalam usaha ini, dan masih bisa menabung.

Pengusaha yang ramah dan pantang menyerah ini berpesan untuk teman-teman yang masih berada di negeri orang,” Pokoknya jangan takut pulang ke Indonesia, di negeri kita banyak sekali peluang untuk membuat suatu usaha, bahkan banyak sekali peluang yang saat ini ada disekitar kita baik di Hong Kong atau Malaysia juga negara lain yang bisa diaplikasikan dengan produk di Indonesia, bahkan tidak kuliner saja, masih banyak jenis usaha lain, dan belajar entreprenuer itu sangat penting sekali”, pesan Setyawan. [Emma]

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner