Prime banner

NGANJUK – “Sebenarnya, rencana kami dulu akan membuka usaha di kampung saja, di Nganjuk. Jadi cukup saya saja yang kerja di Hong Kong, hasilnya biar dikelola suami saya untuk modal usaha.” Terang Windarti Saat mengawali percakapan dengan ApakabarOnline.com, Senin (11/06/2018) siang kemarin.

Windarti, merupakan mantan PMI Hong Kong yang karena ulah suaminya, terpaksa harus ngebreak kontrak dengan majikannya demi memikirkan nasib anak perempuan sematawayangnya. Sebab, menurut pengakuan Windarti, apa yang dia sepakati dengan suaminya, ternyata meleset jauh, bahkan cenderung menyisakan perih akibat penerlantaran yang telah dilakukan oleh Widiyanto, suaminya yang saat ini tercatat sebagai salah satu PMI di Taiwan.

Dalam penuturannya, sejak sebelum menikah dengan Widiyanto, Windarti telah bekerja di Hong Kong. Windarti dan Widiyanto bertemu, berkenalan kemudian menikah atas mediasi yang dilakukan oleh teman Windarti semasa di Hong Kong. Widiyanto, merupakan pria asal Grobogan Jawa Tengah yang sebelumnya hanya menganggur saja di rumah setelah terkena PHK dari bekerja di sebuah pabrik rokok di areal Blora.

Setelah menikah dengan Windarti, Widiyantopun boyongan ke Sugih Waras, Prambon Nganjuk, dimana kampung halaman Windarti berada. Setahun setelah menikah, mereka dikaruniai anak perempuan yang kini telah berusia 3 tahun.

6 bulan usai melahirkan anak perempuannya, Windarti kembali bekerja ke Hong Kong lantaran selama menikah dengan Widiyanto, mereka tak juga memiliki penghasilan tetap.

“Dengan pendapatan yang tidak pasti, sedangkan kebutuhan sehari-hari semakin bertambah tinggi, kan kesulitan kami mas. Sementara suami saya tidak bekerja. Mau bikin usaha, modal berupa uang sudah tidak punya, sebab hasil kerja di Hong Kong sebelumnya sudah habis buat beli sawah, dan bangun rumah” terang Windarti.

Windarti beruntung, majikan lamanya kembali bersedia menerima dirinya bekerja. Setelah melewati proses calling visa di sebuah PPTKIS, sebulan kemudian, saat anaknya berusia 7 bulan, Windarti kembali terbang ke Hong Kong. Majikan Windarti sudah melunasi seluruh biaya proses sehingga begitu tiba di Hong Kong, Windarti terbebas dari potongan gaji.

Gaji yang diterima Windarti utuh, dan setiap bulan dikirim ke Widiyanto. Mereka saat itu menyepakati akan membuka usaha, tapi masih belum menemukan ide, usaha apa yang akan dirintis.

Di tengah perjalanan, saat Windarti telah 14 bulan bekerja di majikannya, tiba-tiba Widiyanto mengutarakan niatnya untuk berproses bekerja ke Taiwan. Windartipun merestui.

“Saat itu saya hanya bisa mengiyakan saja, lha wong di rumah juga nganggur gak nemu pekerjaan. Uang kiriman saya yang dijadikan biaya untuk proses ke Taiwan” aku Windarti.

4 bulan setelah Widiyanto mendaftar, hari keberangkatannya ke Taiwan pun tiba. Widiyanto diterima bekerja di sebuah industri pembuatan aksesoris mobil di Kaohsiung Taiwan.

“Hanya  itu mas yang saya tahu. Dia kerja di pabrik pembuat aksesoris mobil di Kaohsiung. Sampai Taiwan, dia langsung ngabari saya. Sebulan pertama juga masih sering komunikasi” jelas Windarti.

Petaka menyakitkan, diketahui oleh Windarti setelah masuk bulan ketiga Widiyanto kerja di Taiwan sudah tidak bisa lagi dihubungi.

“Saya bingung mas, Khawatir terjadi hal buruk pada suami saya. Tiba-tiba tidak bisa dihubungi, dan tidak pernah menghubungi. Saya takut, suami saya jadi TKI kaburan” lanjutnya.

Kekhawatiran Windarti akan suaminya terjawab sebulan kemudian. Seorang teman Windarti yang juga bekerja di kota yang sama, memberitahukan kabar tentang suaminya, sembari menunjukkan sebuah akun facebook, dimana didalamnya terdapat puluhan foto Widiyanto intim dengan seorang perempuan yang juga sesama PMI di Taiwan.

“Ternyata dia selingkuh mas, dia mengkhianati aku dan anakku, dia merusak rumah tangga kami, dia tega melupakan anak kami” tutur Windarti yang terhenti oleh isak tangisnya.

Mengetahui suaminya telah mengkhianati rumah tangga mereka, tanpa pikir panjang, Windarti memutuskan untuk pulang.

“Saya ngebreak kontrak di Hong Kong karena ini. Saya tidak sanggup membayangkan, bagaimana anak saya sendirian di sini, sedangkan saya kerja di Hong Kong dan bapaknya di Taiwan seperti itu” terang Windarti.

Ben ya ndhuk, bapak lali karo awake dewe. Kamu jangan sedih ya nak, lebaran kali ini ibu hanya bisa membelikanmu sepotong baju, sebab ibu harus nabung untuk biaya sekolahmu masuk PAUD habis lebaran nanti. Ibu tidak akan meninggalkanmu pergi nak.” gumam Windarti kepada anaknya.

Kepada ApakabarOnline.com, Windarti mengaku hanya menginginkan kejujuran dan ketegasan dari suaminya. Sebab, bagi Windarti, untuk meneruskan rumah tangganya dengan Widiyanto, rasanya tidak mungkin.

“Sakit mas, saya pilih hidup dengan anak saya saja, biar dia hidup dengan perempuan itu. Hanya, saya ingin dia gentleman, mengakui apa yang telah dia lakukan selama ini, dan mengambil langkah sebagai laki-laki sejati. Jangan pengecut dan diam-diam seperti saat ini” harap Windarti.

Jika mengacu pada Undang- Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pasal 49, perbuatan Widiyanto bisa dituntut pidana dan dapat dikenai sangsi denda serta kurungan selama 3 tahun lamanya atas penerlantaran terhadap dua orang yang menjadi tanggung jawabnya. [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner