Prime banner

Sekilas, orang mungkin mengira bahwa Choirul Mahpuduah adalah pengusaha kue biasa. Melalui bendera bisnis “Pawon Kue” namanya kini bersanding dengan nama-nama besar pengusaha kuliner lainnya. Tapi siapa sangka, perempuan 40 tahun ini memiliki perjalanan hidup yang cukup berliku.

Berawal sebagai buruh, Irul, sapaan akrabnya, kini juga menjadi sosok inspiratif. Melalui bisnis aneka kue, ia mampu memberdayakan puluhan warga di sekitar tempat tinggalnya di daerah Rungkut Lor, Surabaya. Bahkan, daerah tersebut kini mendapat predikat Kampung Kue. Sederet penghargaan, mulai Pahlawan Ekonomi Surabaya hingga #shemeansbusiness dari Facebook pun disabetnya.

“Orang mungkin melihat saya hari ini. Tapi tak banyak orang tahu bagaimana saya memulai karir. Saya sudah melalui berbagai macam kegagalan. Ditangkap polisi, di-PHK, digusur satpol PP sudah saya alami,” katanya, Kamis kemarin.

 

  1. Bermodal ijazah SMK, Irul nekat mengadu nasib ke Surabaya

Kisah panjang Irul bermula pada tahun 1990. Kala itu, Irul muda memutuskan untuk merantau ke Surabaya. Meski sempat ditentang oeh sang ibu, perempuan asal Kediri ini tetap membulatkan tekadnya untuk mengadu nasib ke Kota Pahlawan. “Saya ini lulusan SMK Pertanian, di rumah disuruh nyangkul terus, bosan,” kata dia.

Bermodal ijazah SMK, ia pun berangkat ke Surabaya dan bekerja di sebuah pabrik peralatan rumah tangga. Awalnya, tak ada masalah dengan perjalanan karir Irul. Bahkan, ia dipercaya menjadi perwakilan buruh. Masalah bermula saat ia mulai menemukan kejanggalan pada pabrik tempatnya bekerja. Di sana, beberapa hak buruh perempuan diabaikan.

“Tak ada tempat ganti baju khusus perempuan, jadi kalau mau ganti baju harus sembunyi-sembunyi di bawah mesin. Bahkan, Ketika kita cuti haid harus diperiksa. Kita harus menunjukkan celana dalam, benar-benar merah atau tidak,” kata Irul.

 

  1. Irul menginisiasi adanya gerakan buruh di pabriknya

Sebagai bentuk protes, Irul pun memutuskan untuk mogok kerja. Bahkan, ia menginisiasi demo buruh di internal perusahaan. Lantaran tak kunjung ada perbaikan, ia pun mengajak sekitar 3 ribu karyawan lainnya ngeluruk ke kantor DPRD Kota Surabaya untuk mengadukan masalah tersebut.

Bukannya mendapat jawaban, Irul malah ditangkap polisi. “Aku sempat nginep di kantor polisi. Aku dituduh sebagai provokator. Diinterogasi, gak dikasih makan,” ujar Irul. Untungnya, penahanan itu hanya terjadi semalam. Ia dibebaskan setelah ribuan buruh lainnya memilih melanjutkan mogok menuntut pembebasannya.

 

  1. Demo yang dilakukannya berujung PHK

Masalah semakin pelik karena seminggu kemudian, Irul justru menerima pemutusan hubungan kerja. Oleh perusahaan, ia dianggap bolos saat melakukan mogok kerja. Tak mau berlama-lama meratapi nasib, pada 1993 dia kemudian memilih bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang peduli terhadap hak-hak buruh.

Dari LSM ini, ia belajar tentang berbagai upaya advokasi. Bahkan, ia kemudian mengajukan gugatan perdata terhadap perusahaan yang memecatnya. Hasilnya, ia menang di tingkat kasasi dan menerima uang ganti rugi.

 

  1. Mulai berfikir harus ada sumber penghasilan yang pasti

Setelah cukup lama bergelut dengan dunia perburuhan, pada tahun 2001, ia menemukan sebuah titik balik. “Saya mulai berfikir bahwa harus ada mesin ekonomi,” kata Irul. Ia pun memutuskan untuk menjadi pedagang kaki lima. Sayangnya, kebijakan pemerintah kota saat itu membuatnya tak bisa bertahan lama menggeluti profesi tersebut. “Sedikit-sedikit digusur.”

 

  1. Irul menginiasiasi terbentuknya kelompok pengrajin kue

Tak habis akal, pada 2005, ia memutuskan untuk mengajak beberapa warga di daerah Rungkut Lor Surabaya untuk memulai usaha kerajinan tangan. Sayangnya, usaha ini juga berjalan tak lama karena perputaran uangnya dianggap terlalu lama. Ia pun menginisiasi berdirinya sebuah kelompok pengrajin kue. Dengan modal patungan sebesar Rp 150 ribu, Irul dan dua  rekan lainnya memulai usaha ini.

Meski sempat mendapat tentangan, inisiatif ini pun didukung oleh warga sekitar. Selain menjadi sumber penghasilan tambahan, adanya kelompok ini juga menghindarkan mereka dari para rentenir. “Selama ini hidup mereka terjerat bunga rentenir,” ujarnya.

Setelah berjalan lebih dari satu dekade, usaha Irul mulai menampakkan hasil. Jumlah pengrajin kue yang dibinanya kini sudah 65 orang. Bahkan, modal bergulir yang awalnya hanya Rp 150 ribu, kini mencapai Rp 25 juta. “Modal ini kami pinjamkan secara bergilir. Kelompok kami sekarang juga sudah berbadan hukum, berbentuk koperasi.”

 

  1. Penghargaan tertinggi adalah menjadi bermanfaat bagi orang lain

Sederet penghargaan pun sudah menjadi koleksi Irul saat ini. Yang terbaru, ia terpilih menjadi 1 dari 3 orang yang diganjar predikat #shemeansbusiness 2018 dari Facebook. Irul dianggap menjadi sosok perempuan yang mampu menjadi penggeran ekonomi bagi lingkungannya.

“Saya senang dengan berbagai penghargaan itu, tapi yang paling membahagiakan tentu bisa bermanfaat bagi orang lain, itu lebih penting,” kata Irul.

 

  1. Jangan jadi karyawan, millennials harus berpikir jadi bos

Berkaca dari berbagai pengalaman hidupnya, Irul pun memiliki pesan untuk para generasi millennials. Pesan pertama adalah, jangan pernah menjadi orang tergantung pada orang lain. Sikap tersebut, kata dia, bisa memicu berbagai pelecehan, mulai harga diri, hingga seksual.

Kedua, ia mengingatkan agar generasi muda tak mudah patah semangat. Terakhir, dia menyarankan agar millennials menggantungkan cita-citanya setinggi mungkin. “Kalau bisa jangan jadi karyawan. Saya sudah kapok jadi karyawan. Mulailah bikin bisnis, jadi bos saja, mau apapun itu tergantung kita.” [Net]

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner