Prime banner

Ramadhan hampir meninggalkan kita dan tiada tersisa daripadanya melainkan sedikit saja Berbahagialah orang-orang yang telah berbuat kebaikan dan menutupnya dengan sempurna. Adapun orang-orang yang telah menyia-nyiakannya maka berusahalah untuk menutupnya dengan kebaikan pula, karena yang dinilai dari amal adalah penutupnya.

Hati orang-orang yang bertakwa selalu merasakan kerinduan kepada bulan Ramadhan ini dan merasakan kepedihan yang sangat apabila harus berpisah darinya. Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak menangis ketika berpisah dengannya, padahal dia tidak mengetahui apakah bisa bertemu lagi dengannya atau tidak? Apakah masih ada umur untuk kembali bertemu dengannya? Nah, banyak diantara orang-orang yang saleh (salafus saleh) mengakhiri Ramadhan dengan berbagai hal yang patut kiranya kita menirunya. Berikut ulasannya.

 

Penentuan Amal

Para sahabat bersungguh-sungguh dalam memperbaiki dan menyempurnakan amal mereka kemudian setelah itu mereka memperhatikan dikabulkannya amal tersebut oleh Allah dan takut apabila amal yang telah mereka kerjakan sekian lama ditolak.

Berkata sebagian salaf –rahimahumullah: Mereka (para sahabat) berdoa kepada Allah–subahanahu wa ta’ala selama enam bulan agar dipertemukan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada Allah –subahanahu wata’ala selama enam bulan agar amal mereka dikabulkan.

Umar bin Abdul Aziz –rahimahullah keluar pada hari raya Iedul Fitri dan berkata dalam khutbahnya: Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah berpuasa karena Allah–subahanahu wa ta’ala selama tiga puluh hari, dan kamu shalat (tarawih) selama tiga puluh hari pula, dan hari ini kamu keluar untuk meminta kepada Allah–subahanahu wa ta’ala agar dikabulkan amalmu.

Sebagian dari mereka tampak bersedih ketika hari raya Idul Fitri, lalu dikatakan kepadanya:

Ini adalah hari kesenangan dan kegembiraan. Dia menjawab: Kamu benar, akan tetapi aku adalah seorang hamba yang diperintah oleh Tuhanku untuk beramal karena-Nya, dan aku tidak tahu apakah Dia mengabulkan amalku atau tidak?

Dari kisah di atas, jelaslah bahwa mereka takut bilamana amal mereka tidak diterima oleh Allah. Bahkan mereka hampir tak menghiraukan hari kemenangan (Idul Fitri) dikarenakan cemas terhadap amal-amal mereka di Bulan Ramadhan.

 

Ikhlas, Agar Tak Sia-sia

Jika demikian, patutlah kita cemas dan khawatir bagaimana bila amal-amal kita di Bulan Ramadhan bagaikan tumpukan abu yang diterbangkan oleh angin yang sangat kencang, hilang tak berbekas (sia-sia).

Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menerima suatu amalan kecuali ada padanya dua syarat, yaitu: Ikhlas karena Allah dan mutaba’atus sunnah atau mengikuti sunnah Rasulullah (sesuai tuntunan dan ajaran Nabi Muhammad) serta yang paling baik, sebagaimana dalam quran surat Al Mulk {67}:2

“(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baikamalnya.”

Al-Fudhail bin ‘Iyad mengatakan bahwa yang dimaksud ayat tersebut dengan yang lebih baik amalnyaadalah yang ikhlas karena Allah semata dan mengikutisunnah Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam.

Ikhlas adalah amalan yang berat karena hawa nafsu tidak mendapatkan bagian sedikitpun, namun kita harus selalu melatih diri kita sehingga menjadi mudah dan terbiasa untuk ikhlas.

Mudah-mudahan ibadah puasa kita, ibadah dan amal-amal lain yang turut mewarnai kehidupan kita di Bulan Ramadhan diterima dan ditetapkan pahala yang berlipat ganda oleh Allah hingga kita mencapai derajat taqwa sebagai tujuan utama puasa Ramadhan.[]

 

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner