Prime banner

Tidak pernah aku sangka, jika kepergian istriku ke Hong Kong akan membawa malapetaka yang datangnya tiba-tiba. Alasan belum memiliki rumah tempat tinggal sendiri tak kuasa aku tolak saat istriku memaksa meminta ijinku pergi bekerja ke Hong Kong.

Pernikahanku dengan istriku telah berlalu sejak lima tahun yang lalu. Usai menikah, aku dan istriku bertempat tinggal di rumah mertuaku sekaligus menjaga mertuaku yang kondisinya sakit-sakitan. Keseharian kami di tahun pertama perkawinan kami lalui dengan wajar-wajar saja. Aku bekerja di sebuah perusahaan sebagai karyawan, sedangkan istriku di rumah menjadi ibu rumah tangga saja sembari menjaga ibu mertuaku yang sakit. Setiap hari aku pulang untuk istriku dan mertuaku, setiap bullan uang gajian seluruhnya selalu aku serahkan pada istriku untuk mengelolanya.

Entah kenapa, diakhir tahun pertama pernikahan kami, tiba-tiba istriku mengutarakan ingin bekerja ke luar negeri, dengan alasan ingin segera mandiri, memiliki rumah tempat tinggal sendiri, memiliki modal yang bisa digunakan untuk berwirausaha. Gajiku bekerja setiap bulan memang terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari aku, istriku dan kedua mertuaku. Namun jika untuk memenuhi keinginan istriku dalam waktu singkat, tentu gajiku tidak mungkin bisa memenuhinya. Hal tersebutlah yang meskipun berat, akhirnya aku mengijinkan istriku untuk berproses bekerja ke luar negeri. Hong Kong sebagai tujuannya.

Setelah berproses di PPTKIS selama 2 bulan, akhirnya istriku terbang ke Hong Kong untuk memulai bekerja. Disaat masa potongan gaji, antara bulan pertama sampai bulan ke lima, komunikasi antara istriku dengan kami yang di Indonesia terjalin lancar dan wajar. Namun memasuki bulan keenam istriku di Hong Kong, tiba-tiba istriku tidak pernah menghubungi kami lagi. Dan nomer yang biasa kami hubungipun sudah tidak bisa dihubungi lagi.

Berkali-kali aku berusaha mencari tahu apa sebabnya dan bagaimana kondisi istriku. Beberapa kali aku mendatangi PPTKIS yang memberangkatkannya, namun bukan jawaban memuaskan yang aku dapatkan. Melainkan pembunuhan karakter dengan kalimat yang  memfitnah dan melecehkan. Oleh pihak PPTKIS, aku justru diserang balik “barangkali kamu main perempuan ya”. Padahal sehari-hari, sepulang dari tempat kerja aku langsung pulang ke rumah untuk segera mengurusi ibu mertuaku yang kondisinya sakit-sakitan. Menyuapi makan, membantu saat akan ke kamar kecil.

Setelah setahun lamanya tak juga ada kabar dari istriku, aku melakukan upaya mencari dengan meminta tolong pada tabloid Apakabar+ setelah aku diberitahu oleh seorang teman. Melalui tayangan tabloid Apakabar+, aku menceritakan seluruhnya dari awal hingga saat aku di wawancarai oleh jurnalisnya perihal kronologi hilangnya kabar istriku. Kemudian hasil wawancara kami dimuat di salah satu edisi.

Efektif sekali, tidak butuh waktu lama, beberapa saat usai pemberitaan itu beredar, istriku tiba-tiba muncul menghubungi kami lagi melalui nomer ponselku. Namun, sebelum aku semppat menanyakan kabar dan bagaimana bisa hilang kontak, istriku justru terlebih dahulu memarah-marahi aku. Dia tersinggung dengan penayangan pencarian kami di tabloid Apakabar+, kemudian dia tiba-tiba menuduh aku main perempuan persis seperti yang dituduhkan oleh staf PPTKIS yang memberangkatkan istriku. Kemudian sambungan diputus sepihak.

Aku yang tidak menduga akan terjadi hal demikian, terheran-heran. Tidak yakin yang barusaja nelpon adalah istriku jika melihat isi pembicaraannya. Namun, jika mendengar suaranya, suara tadi adalah suara milik istriku. Kejadian tersebut tentu saja mempengaruhi gairah hidupku, membuat kalut pikiranku.

Aku menahan tidak memberitahukan kejadian tersebut kepada kedua mertuaku sebab aku khawatir dengan kondisi beliau berdua terutama ibu mertuaku. Pun demikian, aku juga tidak memberitahu siapapun perihal kejadian dan isi komunikasi istriku yang menyakitkan. Setelah aku merasa tenang, dengan mempertimbangkan banyak hal, terutama kondisi ibu mertuaku yang semenjak aku menjadi menantunya aku merasa kian dekat dan kian kuat ikatan emosional diantara kami, akhirnya aku memilih bertahan dengan segala resikonya.

Kedua mertuaku sebenarnya berkali-kalii bertanya padaku perihal istriku, namun aku hanya bisa memberi jawaban tidak tahu, sembari menenangkan hati dan pikiran mereka untuk tetap sabar dan berdoa semoga Allah selalu melindungi semua. Aku tidak ingin kedua mertuaku menderita akibat ulah anak perempuannya. Aku ingin mereka baik-baik saja, aku juga ingin ibu mertuaku bisa segera sehat seperti sedia kala meskipun kemungkinannya sangat kecil.

Setelah empat tahun berlalu, pada bulan ini Agustus 2016, tiba-tiba datang sepucuk surat yang tertuju padaku dari kantor pengadilan Agama di kabupaten tempat aku berdomisili. Setelah aku buka, isi dari surat tersebut ternyata surat keputusan pengadilan tentang pengabulan permohonan cerai yang diajukan oleh istriku melalui jasa seorang pengacara. Dalam surat tersebut, dinyatakan bahwa antara aku dengan istriku sudah tidak ada hubungan suami istri lagi.

Kaget sekali aku membaca isi surat tersebut. Segera aku menuju ke kantor pengadilan agama dengan membawa surat tersebut untuk mempertanyakan kebenarannya. Sesampai di kantor pengadilan, aku mendapat jawaban bahwa surat tersebut, benar, resmi dan asli. Saat aku menanyakan kenapa bisa ada keputusan seperti itu, kapan sidangnya dan kenapa aku tidak diundang dalam sidang tersebut, pihak pengadilan menjawab, bahwa mereka telah tiga kali mengirimi aku surat panggilan namun aku tidak diketahui lagi tempat tinggalnya, padahal aku tetap tinggal di rumah mertuaku, tidak pindah kemana-mana.

Selanjutnya, saat aku bertanya apa alasan istriku mengajukan gugatan cerai, pihak pengadilan menjawab bahwa sesuai dengan data mereka, aku dilaporkan sebagai suami yyang tidak bertanggung jawab, tidak pernah memberi nafkah lahir dan batin lebih dari enam bulan, dan yang lebih menyakitkan, aku disebut pengangguran.

Meninggalkan kantor pengadilan aku tidak langsung pulang ke rumah mertuaku. Aku siinggah terlebih dahulu di sebuah masjid, untuk menyerahkan seluruh kegundahanku kepada Allah SWT. Setelah berkali-kali aku pertimbangkan, akhirnya aku memutuskan, Yanti sudah bukan istriku lagi, aku telah dikhianati, aku telah didzalimi melalui tangan pengacara yang tidak profesional lantaran hanya mengejar uang bayaran saja. Aku tetap berkomitmen untuk pulang dulu ke rumah mertuaku, menjaga kedua mertuaku, menanggung hidup kedua mertuaku, merawat sakit kedua mertuaku. Entah sampai kapan. Semoga Allah memberi kami yang terbaik. [Seperti dituturkan W kepada Asa dari Apakabaronline.com]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner