Prime banner

BANYUWANGI – Ada uang istri disayang, tak ada uang, istri di tendang. Saat masih jadi PMI seluruh gaji dikirim ke suami, giliran pulang sakit sakitan, hidupnya terlantar. Begitulah nasib Lusia Yuswati saat ini. Perempuan asal Kademangan Blitar kelahiran 1969 ini sehari-hari tergolek tak berdaya diatas pembaringan di rumah tetangganya di kawasan RT 3 RW4  Dusun Krajan, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

Katemi (55 tahun) tetangga sekaligus pemilik rumah yang ditumpangi Lusia menuturkan, bahwa Lusia divonis menderita kanker payudara sejak tahun 2004 saat Lusia masih bekerja di Singapura. Perawatan medis pernah dia dapatkan, dan salah satunya adalah dengan metode kemo terapi usai benjolan kanker di payudara sebelah kiri diangkat oleh dokter.

Setelah merasa sehat, Lusia kembali lagi ke aktifitasnya sebagai PMI, hingga suatu hari melalui temannya, Lusia berkenalan dengan seorang laki-laki warga Genteng Banyuwangi. Perkenalan tersebut berlanjut ke jenjang pernikahan yang di langsungkan di kampung halaman Lusia Yuswati, Desa Sumberejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Sebelum pernikahan dilangsungkan, Lusia bercerita apa adanya mengenai kondisi dirinya yang sulit untuk memiliki keturunan lantaran pernah menjalani kemoterapi, dan kekasih yang kemudian menjadi suaminyapun tidak mempermasalahkan. Berjanji  menerima Lusia apa adanya.

“Waktu sebelum nikah, saya bilang ke calon suami jika sakit kanker payudara dan enggak mungkin bisa memberikan keturunan karena efek dari kemotrapi. Dia bilang enggak apa-apa dan ia berjanji akan menerima saya apa adanya. Saya pulang dan kami menikah di Blitar tempat asal saya,” kata Lusia

Usai melangsungkan pernikahan, Lusia tinggal dan menetap bersama suaminya di Genteng Banyuwangi. Karena suami Lusia tidak bekerja, semakin hari, tabungan Lusia semakin menipis, beberapa bulan setelah menikah. Lusia kembali lagi bekerja ke luar negeri. Hong Kong menjadi pilihannya lantaran dia anggap gajinya lebih besar dibanding Singapura.

Selama bekerja di Hong Kong, seluruh gajinya dia kirimkan ke suami di Genteng Banyuwangi. Disamping menyadari kondisi suami yang tidak memiliki penghasilan, Lusia juga menyimpan harapan, dengan uang kiriman, suaminya bisa membuka usaha sendiri.

“Suami saya tidak punya pekerjaan yang tetap. Jadi kalau minta uang sekarang ya harus sekarang dikirim. Saya enggak berani menolak. Takut. Jadi semuanya saya kirim ke suami. Katanya dibuat modal usaha, dibuat bangun rumah tapi ternyata semuanya enggak ada yang jadi,” lanjutnya.

Setelah 5 tahun bekerja di Hong Kong, tahun 2014, penyakit Lusia kambuh lagi. Kanker payudara yang pada tahun 2004 dia sangka telah sembuh total, ternyata masih menyisakan akar yang saat itu tumbuh menjadi besar. Lusia memutuskan untuk pulang ke Banyuwangi, berkumpul bersama suami. Harapan Lusia, dirinya akan mendapatkan perhatian dan dukungan moral dari suami selama proses penyembuhannya.

Lagi-lagi, Lusia harus menelan harapan tersebut dalam-dalam. Kenyataan tak seindah yang dia harapkan. Suami Lusia justru pergi meninggalkannya. Malahan, beberapa waktu kemudian, melalui SMS, Lusia diceraikan suaminya. Suami Lusia menyuruhnya untuk mengambil sendiri surat cerai di pengadilan. Tentu ini menyakitkan, sedangkan sebelumnya tidak pernah ada tanda-tanda perceraian.

“Rasanya sakit hati saya. Saat masih sehat semua penghasilan untuk dia tapi sekarang saya dibuang seperti ini,” kata Lusia sambil menangis dan mengusap air mata dengan ujung selimutnya.

Saya tidak punya siapa-siapa lagi di Banyuwangi. Jika tidak ada Bu Katemi saya enggak tau bagaimana nasib saya. Beliau yang ngurus saya. Wira wiri kemana-mana termasuk ngurus pengobatan ke rumah sakit. Bu Katemi dan keluarganya menerima saya padahal saya bukan siapa-siapa mereka,”tutur  Lusia yang diikuti dengan tangisnya.

Sementara Katemi yang duduk di tepi ranjang berusaha menenangkan Lusia dan memijat kaki Lusia yang kurus kering. “Walaupun saya enggak dibayar, saya ikhlas buat ngerawat mbak Lusi. Ini demi kemanusian,” ujarnya sambil tersenyum.

Perempuan yang rambutnya dipenuhi dengan uban itu bercerita ada peristiwa yang membuat dia sedih berkepanjangan yaitu ketika dia dan suaminya mengendarai sepeda motor ke Malang untuk mengurus pengobatan Lusia.

Setelah menempuh perjalanan hampir 8 jam dan mengantre sejak jam 5 pagi, dia diberi tahu petugas rumah sakit Syaiful Anwar jika kartu BPJS milik Lusia sudah tidak berlaku karena dicabut statusnya oleh suami Lusia. Padahal Lusia harus segera menjalani kemotrapi.

“Saat tahu BPJS mbak Lusi tidak berlaku lagi saya rasanya lemes dan langsung ke parkiran dan membangunkan suami saya yang masih tidur di atas sepeda motor. Langsung pulang ke Banyuwangi saat itu juga. Kok ya tega padahal kondisi mbak Lusi sudah kayak gini. Selain itu kenapa enggak ngomong padahal rumah yang disewa bertetangga dekat dengan saya,” ucapnya.

Katemi bukan hanya sekedar menyiapkan makanan untuk Lusia, tapi juga memandikan dan membersihkan tubuh Lusia saat buang air besar dan buang air kecil. Dengan telaten, dia juga menggunting kuku Lusia yang panjang dan membantu Lusia untuk memiringkan tubuh jika Lusia merasa pegal karena tidur terlentang sepanjang waktu.

Dia melakukan hal tersebut dengan pelan dan hati-hati karena kondisi tulang Lusia sudah rapuh dan kondisi tulang paha sebelah kiri juga sudah patah.

ika nama mbak Lusi sudah masuk ke kartu keluarga saya kan tenang. Nggak apa-apa karena yang penting dia bisa sehat lagi. Saya sering bilang enggak usah mikir macem-macem. Fokus sehat,” kata dia.

Untuk kebutuhan sehari-hari, Katemi bekerja serabutan di pasar dan mengandalkan gaji pensiun suaminya.  Selain itu, dia juga masih harus memibayai kuliah anak bungsunya yang sudah masuk semester akhir.

“Di pasar banyak yang bisa dilakukan tapi sekarang enggak bisa lama-lama di pasar soalnya kasihan Mbak Lusi kalau ditinggal kelamaan. Kalau ngomong rejeki pasti ada jalan keluar. Gusti Allah tidak akan tidur. Itu yang selalu saya bilang ke mbak Lusi,” pungkasnya. [Asa/Ira]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner