Prime banner

Entah kenapa, profesi deomestic helper masih saja sering dipandang sebagai profesi yang rendah hingga pantas direndahkan, profesi yang hhina hingga pantas dilecehkan, profesi murahan hingga pantas diperlakukan sesuka hati majikan. Tak sekali dua kali, penderitaan domestic helper menghiasi jagad media masa. Mulai dari penderitaan yang tergolong ringan, hingga yang mengakibatkan nyawa melayang.

Timur Tengah, hingga kini masih dipandang sebagai negara tujuan penempatan pekerja migran yang sering melahirkan masalah. Seperti halnya yang menimpa pekerja migran asal Filipina, Alona Vicente Lizad ini. Penderitaan Alona tersebar ke jagat sosial media setelah di unggah dalam laman sosial media milik Angga Jonnyantara.

Dalam unggahan pada 10 September kemarin, tergambar jelas bagaimana penderitaaan Alona yang oleh majikannya dipaksa untuk tinggal di atap rumahnya. Setiap hari, Alona melewati siang dengan paparan panas matahari khas padang pasir, dan setiap malam, udara dingin membekukan tulang menyelimuti tidurnya.

Majikan Alona tidak memberi  kamar untuk pembantunya. Tempat tinggalnya adalah diatap rumah yang langsung beratapkan langit. Pun demikian dengan kebutuhan kamar mandi, majikan Alona tidak mengijinkan Alona menggunakan kamar mandi berikut benda-benda didalamnya. Praktis, selama beberapa bulan bekerja, Alona mandi tidak pernah menggunakan sabun, rambutnya dicuci tanpa shampoo. Urusan makan ? Alona hanya diberi jatah makan sehari sekali. Seringkali makanan sisa yang diberikan.

Dalam rekaman videonya, Alona mengaku tidak bisa berbuat banyak dengan penderitaan yang sedang dia hadapi. Alona hanya berharap, agar segera bisa keluar dari tempat tersebut untuk dipulangkan ke negara asalnya jika memang di Saudi Arabia dia tidak akan menemukan majikan yang manusiawi untuknya bekerja.

Saat berita ini dutulis, postingan Angga telah dikomentari lebih dari 11 ribu orang, dan telah dibagikan kepada lebih dari 95 ribu pengguna sosial media. [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner