Prime banner

BOJONEGORO – Ani Rustiana warga Temayang Bojonegoro ini hanya bisa menghirup nafas dalam -dalam setiap kali teringat pengalamannya 20 bulan terakhir bekerja di Hong Kong. Pasalnya, apa yang dia alami, jauh sekali dari apa yang dia angan-angankan. 4 tahun mengais rejeki di Negeri Beton, perempuan kelahiran 26 tahun silam ini dipaksa keadaan untuk hengkang dari keadaan rumah majikannya setalah sempat dia lalui selama 20 bulan.

“Majikan saya yang kedua ini akhir dan awal dari segalanya” tutur Ani saat mengawali percakapan dengan Apakabaronline.com di teras kamar kosnya kawasan Taman Madiun.

Ani menuturkan, saat melewati bekerja di majikan pertama, dia relatif tidak mengalami kejadian luar biasa. Segalanya sesuai dengan ekspektasi yang dia harapkan sejak waktu di penampungan. Namun, saat berada di majikan kedua, kenyataan pahit harus dia telan dalam-dalam, Ani dipaksa tidur di kamar mandi dengan segala resikonya.

Derita Nurhaye : Dipaksa Minum Air Closet Hingga Dipaksa Makan Kotoran Bayi

“Saya jalani itu (tidur di kamar mandi) selama 20 bulan, karena sudah tidak tahan, akhirnya saya memutuskan untuk ngebreak kontrak saya terus pulang” imbuhnya.

Keputusan Ani bukan tanpa sebab. 20 bulan tinggal di kamar mandi mengakibatkan penderitaan lahir dan batin. Secara lahiriyah, fisik Ani didera penyakit paru-paru basah. Ini dia ketahui saat dia sudah seminggu pulang ke kampung halamannya. Secara batiniyah, Hampir setiap malam, terpaksa Ani harus memalingkan muka, saat ayah majikannya yang berusia 65 tahun buang air tanpa permisi.

“Sebenarnya saat itu saya ditawari majikan lain oleh agen dan oleh teman saya. Tapi saya sudah bulat, ingin pulang, ingin merubah nasib dari kampung halaman” tegasnya.

Benar saja, sesampainya di Indonesia, tahapan demi tahapan yang telah dia rencanakan, mulai dia wujudkan. Tabungan selama bekerja di Hong Kong dia biarkan mengisi saldo rekeningnya di Bank. Kemudian Ani berangkat merantau ke Madiun berbekal informasi dari temannya untuk bekerja menjadi guru bahasa kanton di sebuah PPTKIS.

Beberapa bulan setelah menjalani profesi ini, Ani meminta ijin kepada pimpinan perusahaan, untuk bekerja sambil kuliah di sore dan malam harinya. Dengan demikian, Ani meminta kompensasi jam kerja yang semestinya dia ppulang kantor jam 4 sore, satu jam sebelumnya dia sudah harus bersiap-siap ke kampus tempat dia menimba ilmu.

Lahirkan Bayi di Rumah Majikan, PMI Digelandang Polisi

Di Madiun, Ani mengambil jurusan pendidikan bahasa Inggris di sebuah perguruan Tinggi Swasta. Niatan dia, setamat kuliah, Ani bertekad ingin mendedikasikan hidupnya dalam dunia pendidikan. Tabungan dari hasil kerjanya di Hong Kong sebagian telah dia ambil untuk membayar biaya awal di kampusnya serta biaya semesteran yang jatuh setiap 6 bulan sekali. Untuk biaya operasional sehari-hari, Ani mengandalkan gaji dia bekerja di PPTKIS.

“Pengalaman pahit saya di Hong Kong, memotivasi saya untuk tidak kembali lagi ke Hong Kong sebagai buruh migran. Andai suatu saat saya kembali ke Hong Kong, saya bercita-cita harus kesana sebagai seorang profesional” terang Ani.

Ani, merupakan satu dari sekian banyak BMI Hong Kong yang memiliki pengalaman tidur di kamar mandi. Meskipun ini tidak manusiawi, dan tata aturan di Hong Kong melarangnya, namun faktanya, praktek seperti ini masih terjadi.

Usai berbincang-bincang dengaan Ani, Apakabaronline.com berusaha menggali informasi ke komunitas BMI yang maasih aktif bekerja di Hong Kong. Apakabar menemukan fakta, ada 3 pengakuan BMI pernah tidur di toilet rumah majikan, dan ada 4 pengakuan, sampai saat ini 4 orang BMI tersebut masih tidur di kamar mandi rumah majikannya.  [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner