Prime banner

HONG KONG – Meskipun tidak terstruktur secara metodis, setidaknya, data jawaban – jawaban responden atas beberapa pertanyaan yang pernah disebar Apakabaronline.com mengenai pengalaman dibawa majikan bekerja di China, membuka cakrawala atas beberapa temuan faktual.

Dalam survey yang disebar selama 2 minggu sejak 25 Agustus kemarin, ada 100 responden yang dipilih secara acak dihubungi melalui sosial media (Facebook dan Whatsapp). 100 Responden tersebut sebagian besar BMI yang masih aktif bekerja di Hong Kong (78 responden) serta sisanya (22 responden) merupakan BMI yang pernah bekerja di Hong Kong namun saat ini bekerja di negara lain serta ada pula yang telah purna.

Item penting yang diajukan dalam pertanyaan survey meliputi pengalaman pribadi responden atau pengalaman teman yang diketahui responden saat dibawa majikan ke China dalam jangka waktu lama. Kriteria jangka waktu lama yang ditentukan oleh Tim Survey Apakabaronline.com adalah lebih dari tiga bulan. Item tersebut dipecah menjadi 10 pertanyaan spesifik yang bersifat terbuka bagi responden untuk memberikan jawaban berupa uraian  (bukan yes no question atau multple choise).

Setelah dilakukan analisa, survey yang dilakukan tim Apakabaronline.com tersebut menghasilkan tiga kesimpulan faktual, yang sebagian diketahui banyak kalangan, dan sebagian lagi jarang diketahui banyak kalangan.

Fakta pertama,  praktek seperti ini (dibawa dan diperkerjakan di China) sampai saat survey dilakukan, terbukti  masih ada. Ada beberapa responden yang mengaku memiliki teman yang sedang dibawa majikannya ke China dan bahkan beberapa responden mengaku pernah dibawa majikannya bekerja ke China.

Dikirim Ke Makau, Dijual dan Dilacurkan

Fakta kedua, persoalan akan muncul ke permukaan ketika sudah terjadi insiden yang merenggut nyawa. Padahal, beberapa responden menyatakan mengaku pernah mengalami penderitaan baik kekerasan fisik hingga gaji dan hak lainnya yang tidak dipenuhi majikan. Sebagian besar responden mengaku merasakan kekhawatiran karena beberapa hal. Persoalan utama yang memicu kekhawatiran BMI yang dibawa ke China adalah jaminan perlindungan yang mereka sebut tidak ada. Tidak ada asuransi, tidak ada liburan, terputus akses komunikasi baik dengan sesama teman BMI di Hong Kong maupun keluarga dikampung halaman.

Jalan Pulang Rita Tersandera Sindikat Narkoba

Fakta ketiga, dibawa keluar dari Hong Kong oleh majikan maupun agency, berkali-kali terbukti membuat BMI dihadapkan pada situasi tidak bisa memilih sehingga banyak BMI yang kemudian terjerumus dalam lingkaran prostitusi dan narkoba. Pengakuan ini privat sifatnya. Namun setidaknya, beberapa waktu yang lalu, Apakabaronline pernah beberapa kali memberitakan persoalan serupa.

Dari aspek pengalaman dibawa majikan ke China dalam jangka waktu lama, 68 responden mengaku memiliki pengalaman pahit saat dibawa majikannya ke China. Tim Apakabaronline.com menemukan 9 permasalahan yang menjadi kenangan pahit dari 68 responden ini. Kesembilan permasalahan itu adalah gaji semaunya, fasilitas hidup tidak layak, komunikasi terputus, pasport ditahan majikan, visa tinggal yang telah kadaluwarsa, majikan tidak bertanggung jawab terhadap kecelakaan kerja dan sakit, kekerasan verbal, kekerasan fisik, dan pelecehan seksual.

Sampai Makau, Aku Nyaris Jadi Pelacur

Dibayar dengan gaji semaunya dialami 64 responden, fasilitas hidup tidak layak dialami oleh 68 responden, komunikasi terputus dialami oleh 92 responden, pasport ditahan majikan dialami oleh 63 orang, visa tinggal kadaluwarsa dialami oleh 47 orang.

Sedangkan mereka yang saat mengalami sakit dan insiden kecelakaan kerja harus menanggung sendiri seluruh biayanya dialami oleh 28 responden. Kekerasan verbal yang dilakukan oleh majikan yang biasanya berbentuk arogansi dan kesewenang-wenangan dialami oleh 62 responden. Disamping kekerasan verbal, ada pula bentuk kekerasan fisik seperti dipukul dengan benda dari yang meninggalkan bekas hingga tidak meninggalkan bekas sama sekali, di pukul dengan tangan kosong, dialami oleh 37 responden.

Untuk kasus pelecehan seksual, dari 100 reponden, ada 18 responden yang mengaku mengalaminya. Bentuk pelecehan seksual yang mereka alami antara lain mulai dari ajakan persetubuhan, pelecehan yang berupa sentuhan fisik pada bagian-bagian terlarang, dan pemerkosaan.

Sedangkan 32 responden lainnya mengaku baik-baik saja yang mereka alami saat dibawa majikan mereka ke China untuk jangka waktu lama. Mereka mengaku mendapat gaji sesuai kontrak, bahkan beberapa dari mereka diberi tips tambahan.

Imigrasi Hong Kong Perketat Pengawasan Domestic Helper Yang Akan Ke China

Dari aspek sosialisasi lingkungan, 92 responden menyatakan mereka merasakan keterasingan lantaran tidak memiliki lingkungan pergaulan selain dengan keluarga majikan. Itupun sangat dibatasi beberapa hal. 8 Responden sisanya mengaku mereka tidak merrasakan keterasingan. Mereka bisa menikmati fasilitas komunikasi yang mudah dengan siapa saja meskipun berada  di Daratan China dalam jangka waktu lama.

Permasalahan-permasalahan yang terungkap dari hasil survey tersebut, diakui oleh seluruh responden yang merasakannya, tidak ada penyelesaian hukum. Mereka tidak satupun yang melaporkan kejadian yang mereka alami. Padahal, seandainya terjadi di wilayah hukum Hong Kong, tentu akan mudah dicegah dan diselesaikan. Penegakan hukum yang bagus, serta dukungan komunitas sesama BMI memudahkan seorang BMI yang tertimpa masalah cepat mendapat bantuan.

Sebuah cerita memilukan datang dari salah seorang responden yang menuturkan salah nasib seorang temannya yang dibawa majikannya ke China dalam jangka waktu lama. Teman dari responden tersebut terakhir kali diketahui melarikan diri dari majikannya di daerah GuangZhou tanpa membawa pasport sebab pasportnya ditahan majikan. Dan sampai dengan saat menjawab pertanyaan, salah seorang responden tersebut mengaku tidak mengetahui kabar temannya lagi. Bahkan keluarganya juga tidak ada yang mengetahui kabar beritanya.  [Asa]

 

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner