Prime banner

Pada tahun kelima, kembali aku di-interminite majikan. Artinya, sejak kedatanganku pertama ke Hong Kong pada 2012, sudah enam kali aku di-interminate. Kali pertama bekerja di Negeri Beton, job awalku adalah menjaga bayi prematur. Kala itu, tuan dan nyonyaku semua baik. Hak ketenagakerjaan semua aku dapatkan. Walau aku belum cakap berbahasa Cantonese, tapi mereka baik dan menghargai hasil kerjaku.

Namun, tanpa kuduga sebelumnya, tiba-tiba majikan memberi surat notice dan menyarankan aku untuk mencari majikan baru. Kurang dari satu tahun aku bekerja di majikan ini. Semua uang tiket dan hak yang lain diberikan. Setelah sempat tinggal beberapa hari di agen, aku sudah mendapatkan majikan baru dengan tugas merawat anak umur 10 tahun dan 2 tahun. Sebulan menunggu di Makau, visa sudah turun.

Di majikanku kedua, semua juga baik. Majikan tak pernah komplain pekerjaan yang ku-handle. Sampai bulan ke-22, majikan memberitahuku untuk cari majikan lagi dan aku akan diberi surat finish kontrak. Anehnya, agen melarang memberi surat finish, sehingga akhirnya statusku menjadi interminite. ”Agen kamu pintar, ya. Aku tidak boleh memberi surat finish, agar kamu bayar agen lagi,” begitu kata majikanku. Aku tak pernah membantah agen atau majikan, kecuali pasrah.

Jaga Reputasi Di Mata Majikan, Jika Tidak Ingin Bernasib Seperti Ini

Agen lalu mencarikan majikan baru di Chung Kwan O, menjaga dua anak yang sekolah di SMP dan SMA. Setelah teken kontrak, aku pulang ke Indonesia sambil menunggu visa. Sekira 1,5 bulan aku mendapat kabar, visa sudah turun dan diminta segera kembali ke Hong Kong.

Berbeda dengan sebelumnya, di majikan ketiga aku disuruh beli makanan sendiri. Pekerjaan juga tak pernah dianggap benar. Sampai kemudian, ketika masa kerja menginjak enam bulan, majikan tiba-tiba meng-interminite aku. Walau lelah keluar masuk majikan dan agen, aku berusaha memompa semangat, dan berpura-pura tegar di hadapan teman. Tanggung jawab sebagai single parent demi masa depan kedua anak yang masih duduk di bangku SMA dan SMP, membuatku pantang menyerah. Walau serasa tak mampu, aku harus berusaha menjalani ini semua.

Setelah tinggal dua minggu di agen, barulah ada majikan yang menugasiku menjaga nenek berumur 85 tahun. Usai tanda tangan kontrak, aku dikirim ke Makau. Namun, ketika masuk boarding di Makau, aku spontan ingin menjerit dan menumpahkan airmata. Aku melihat pemandangan di ruang tamu penuh dengan mbak-mbak yang sedang duduk di lantai tanpa alas. Ada juga yang tiduran. Dengan hati gundah, aku melangkahkan kaki ke ruangan kamar untuk menaruh koper pakaian. Itu pun harus dikawal oleh orang yang ditunjuk tuan rumah untuk mengatur semuanya.

Yunis, BMI Peraih Helper dan Majikan Lansia Award

Di rumah ini semua memang serba diatur. Mulai dari mandi, makan, tidur, semua diatur dan kelewat berlebihan. Mandi lima menit sudah harus selesai. Dalam satu bath up, ada dua orang mengantre mandi dan diabsen. Kehidupan di Makau yang sangat melelahkan ini harus kulalui selama 2,5 bulan. Kabar visa turun membuatku bagai disambar petir. Mungkin karena sudah terlalu lama menanti, bahkan kadang terlupakan bahwa aku sedang menunggu visa di rumah ini.

Aku pun kembali masuk Hong Kong, dengan harapan semoga ini yang terakhir aku datang ke Makau. Di rumah majikan keempat di daerah Shung Sha Wan, job-ku menjaga nenek berumur 85 tahun dan dua anak perempuan yang belum menikah.

Nenek sering keluar masuk rumah sakit. Namun buatku tak masalah, karena anak-anak nenek semua baik. Setelah enam bulan bekerja, nenek meninggal, namun anak-anak nenek melarangku keluar. Mereka ingin aku tetap bekerja di rumah mereka. Tapi, lagi-lagi nasib berkata lain. Anak nenek meng-interminite aku tanpa memberi surat finish. Padahal, aku seharusnya berhak mendapatkan surat finish karena nenek meninggal.

Derita Ani, 20 Bulan Berkamar Di Toilet Rumah Majikan

Agenku tak mau lagi membantuku mencarikan majikan. Mereka bahkan membelikan tiket dan menyuruhku pulang ke Indonesia. Ketika ada majikan yang hendak mengambilku, agen pun langsung memberitahu orang tersebut bahwa aku sudah tidak bisa lagi bekerja di Hong Kong karena beberapa kali di-interminite. Otomatis, orang itu takut mengambilku.

Visa terakhir tinggal satu hari. Artinya, aku harus mendapatkan majikan hari itu juga. Kalau tidak, aku harus rela meninggalkan Hong Kong. Bersyukur, ada teman lama tiba-tiba menelepon. Tanpa basa-basi aku ceritakan keadaanku yang sedang berada di jalan. Bingung mencari tempat tinggal, dan sedang menyeret koper pakaian.

Dengan cekatan, temanku yang bernama Laila ini mengenalkan aku ke agennya. Agen ini sangat baik dan segera membantu mencarikan jalan keluar agar aku masih bisa diizinkan tinggal di Hong Kong, juga masih bisa cari majikan.

Setelah menaruh koper, malam itu juga aku langsung dipertemukan dengan majikan. Alhamdulillah, langsung cocok dan tanda tangan. Waktu hanya tinggal malam itu. Agen lalu bergegas mengajakku mengantre ke Imigrasi. Bermalam bersama orang-orang yang juga sedang mengajukan visa. Malam itu kami tidur di lantai, agar esok pagi bisa dapat urutan awal – karena visa sudah habis. Hasilnya? Imigrasi memberiku waktu beberapa hari untuk tinggal di Hong Kong.

Kontrak kelima sudah kutandatangani, dengan job menjaga bayi berumur kurang dari satu tahun. Akhirnya, aku bisa bernapas lega menunggu visa dan boleh tinggal di Hong Kong. Ini bisa terjadi karena agen mencarikan jalan keluar lewat meninggalnya nenek dengan menyerahkan bukti ke Imigrasi. Artinya, aku dihitung finish kontrak.

Hampir sebulan, visaku turun. Majikanku baik, walau jam istirahat sangat larut. Jam 1.00 malam – terkadang sampai jam 2.00 – baru bisa mandi. Oh ya, kedua majikanku sering bertengkar, hingga akhirnya mereka berpisah. Tuan tak pernah pulang. Akibatnya, di bulan kelima, Nyonya memberiku surat notice. Ia berdalih, Tuan tak pernah pulang sehingga tidak punya uang untuk menggajiku.

Kali ini aku benar-benar putus asa. Lelah. Apalagi, tiga bulan yang lalu aku baru saja cuti ke Indonesia untuk urusan keluarga yang sangat penting. Terpaksa, aku harus pulang walau dengan modal uang utang. Lantas, masih bisakah aku mencari rezeki di Hong Kong? Entahlah. Yang pasti, aku harus terus bersemangat, dengan harapan Allah SWT mengizinkan aku mencari rezeki di sini agar bisa membayar utang dan menyekolahkan anak. [Dituturkan Wahyu kepada Emma dari  Apakabaronline.com]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner