Prime banner

BANDUNG – Meri (34) BMI asal Kampung Pasir Astana, RT 3 RW 2, Desa Sirnajaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat ini nasibnya memilukan. 2 tahun kerja di Malaysia, bertemu dengan majikan yang kejam. Berbagai bentuk siksaan, baik fisik maupun verbal membuat psikisnya terguncang. Hingga saat majikan mengetahui Meri depresi akibat tekanan yang dia berikan, Meri dibuang ke Tempat penampungan sampah di sebuah pelabuhan.

Terkatung-katung menjadi gelandangan di tempat tersebut selama 3 bulan, beruntung, ada orang yang peduli kemudian mengirimkan Meri ke rumah sakit untuk mendapattkan perawatan. Saat fungsi kesadarannya sudah mampu mengenali dirinya sendiri, terungkaplah jati diri Meri.

Ahmad (45) kakak Meri yang juga bekerja di Malaysia dihubungi oleh oleh pihak RS, kemudian mengurus hingga memulangkannya ke Jawa Barat. Dilansir dari harian pikiran rakyat edisi Senin (09/10),

Penderitaan yang dialami Meri itu berakhir pada Jumat, 6 Oktober 2017. Kakak iparnya, Ahmad (45) membawa pulang ibu satu anak itu dari sebuah rumah sakit di Malaysia. Ketika ditemui di RS, Ahmad mengungkapkan, kondisi fisik dan psikologis Meri sangat memperihatinkan. Pertemuan di RS itu pun jadi yang pertama setelah dua tahun silam Meri ke Malaysia.

“Meri masih mengenal saya, tapi tubuhnya sangat kurus, seperti tinggal tulang. Di leher, kepala, dan tubuhnya itu banyak bekas luka. Yang paling membuat saya sedih, adik saya mengalami depresi berat karena tekanan yang dialaminya selama bekerja di Malaysia,” kata Ahmad, yang suaranya terdengar seperti sedang menahan tangis saat dihubungi melalui telefon, Senin, 9 Oktober 2017.

 

Sempat disiapkan pemakaman

Setelah pulang dari Negeri Jiran, menurut dia, Meri sering terlihat melamun dan sesekali berbicara tak keruan tanpa maksud yang jelas. Meski begitu, Meri masih bisa diajak berkomunikasi. Kata Ahmad, Meri mengaku dapat perlakuan kasar dari majikan dan agennya di Malaysia. Meri bekerja selama setahun di majikannya, kemudian tinggal di penampungan agen hampir setahun.

“Setahun kerja di Malaysia, Meri sering diperlakukan kasar. Dia ditendang, ditampar, dipukul, disiksa sampai kulitnya melepuh. Dia sempat dibawa operasi oleh majikannya, biar bekas lukanya hilang. Namun, setahun di agen tenaga kerja, dia juga masih sering disiksa. Dengan alasan yang tidak jelas, dia akhirnya dibuang ke tempat sampah di dekat pelabuhan,” katanya.

Selama tiga bulan terkatung-katung di pelabuhan, lanjut Ahmad, Meri lalu dibawa ke RS oleh seseorang. “Sewaktu di pelabuhan itu, untuk bertahan hidup dia terpaksa memakan apapun. Tanah dan pasir juga katanya dimakan. Dia bilang ingin tetap hidup biar bisa bertemu lagi dengan anak dan keluarganya di sini,” ucap Ahmad, terdengar sambil mengisak tangis.

Ketika dirawat di RS, kata dia, Meri pun sempat tak sadarkan diri dalam jangka waktu yang cukup lama. Pihak rumah sakit malah sudah menyiapkan pemakaman untuk Meri, karena dianggap tak bisa bertahan hidup lagi. “Ternyata Meri masih bisa sadar. Kabar tersebut akhirnya sampai ke pihak keluarga,” katanya.

Menurut Ahmad, Meri mengaku diberangkatkan ke Malaysia oleh seorang agen bernama Agus. Selama di Malaysia, pihak keluarga tak pernah menerima kabar atau kiriman uang dari Meri. Padahal, Meri bilang selalu mengirimkan sebagian uang hasil dari gajinya buat keluarga, yang dikirimkan melalui Agus.

Untuk memulihkan kondisi psikologis Meri, pihak keluarga berencana memeriksa Meri dengan menggunakan BPJS Kesehatan. Meski begitu, Ahmad berharap, Dinas Kesehatan maupun Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Bandung Barat dapat turut memperhatikan nasib adik iparnya.[Asa/HSH-Pikiran Rakyat]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner