Prime banner

TEBING TINGGI – Kasih ibu sepanjang jaman, kasih anak ? Seringkali berakhir karena ujian. Pepatah tersebut sering terjadi di masyarakat. Anak “berkonflik” dengan ibu saat ibu telah berusia senja hampir menjadi pengalaman yang dimiliki banyak orang. Saat itulah seorang anak diuji, setulus apa kasih sayangnya kepada ibu.

Jika tidak lulus ujian ? Seperti peristiwa yang terjadi di Tebing Tinggi akhir bulan Agustus kemarin, seorang anak, tega membunuh ibunya lantaran mengaku capek dan tidak sanggup langi mengurus segala keperluan ibunya yang menderita depresi.  Peristiwa ini sontak menjadi buah bibir masyarakat di tanah air. Banyak masyarakat mengutuk perbuatan tersangka.

Dilansir dari Harian Metro Medan, Pelaku yang berinisial S (28) sejak kecil hidup serumah dengan SB (65) yang tidak lain adalah ibunya. Sejak SB menapaki usia 50-an, kondisi kesehatan SB kian menurun. Praktis, diusianya yang ke 58, SB sudah tidak bisa beraktifitas bekerja seperti usia mudanya. SB terkena serangan stroke yang membuat fungsi motoriknya terganggu. Dua tahun kemudian, suami SB meninggal dunia. Peristiwa ini memukul batin SB hingga sejak 5 tahun terakhir, SB menderita depresi.

Warga Dusun II Desa Gelak Sei Serimah, Kec Bandar Khalifah, Serdang Bedagai ini tinggaal berdua dengan S di rumahnya yang terbilang sederhana. S tidak memiliki pekerjaan tetap. S bekerja serabutan. Sedangkan SB dengan kondisinya yang semakin memprihatinkan, memerlukan biaya perawatan sehari-hari, mulai dari asupan nutrisi, pampers bahkan aktifitas mandi dan buang airpun tidak bisa SB lakukan sendiri.

Entah kenapa, S menghadapi kondisi ibunya tiba-tiba merasa lelah dan tidak sanggup lagi mengurusi. Kemudian, SB mengam bil sebuah kapak besar dan diayunkan ke kepala iibunya hingga terbelah dan matanya nyaris keluar. Setelah ibunya tak bernyawa, S membuang jasad ibunya ke sungai yang tak jauh dari rumahnya.

Didepan penyidik, S mengaku merasa capek mengurusi ibunya. Karena kondisi ibunya, S harus pulang dari Malaysia meninggalkan pekerjaannya serta harapan yang dia gantung disana. S mengaaku seluruh tabungannya bekerja di luar negeri habis untuk membiayai ibunya.

Setelah peristiwa penemuan mayat tersebut terungkap, S ditangkap polisi dan dinyatakan sebagai tersangka tunggal. Kasus S kini sudah mendapat putusan pengadilan Negeri Serdang Bedagai. Hakim pada Senin (16/10) kemarin mengetuk palu, hukuman penjara seumur hidup untuk S. [Asa/MM]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner