Prime banner

BANJARBARU – Kisah memilukan kembali terdengar dari pengakuan seorang eks BMI asal Kecamatan Sungai Tiung Kabupaten Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan. Janda 2 anak ini awalnya berniat memperbaiki ekonomi keluarganya lantaran suaminya meninggal dunia usai menjadi korban penambangan intan liar di kampungnya dengan mencoba peruntungan menjadi Pekerja Migran. Namun, begitu sampai di di negara penempatan, yang SI dapati, jauh panggang daripada api.

SI berangkat bekerja ke Arab Saudi pada 5 tahun silam. Arab Saudi dia pilih, lantaran banyak tetangga dan warga di Kalsel yang dia lihat sukses bekerja ke sana. Setiap bulan bisa berkirim uang untuk keluarga, bangunan rumah diperbaiki menjadi lebih layak dihuni, serta beberapa dari mereka bahkan bisa menginvestasikan hasil kerjanya dalam berbagai rupa.

Terinspirasi keberhasilan mereka, tanpa melalui PPTKIS seperti kebanyakan masyarakat di kampungnya, SI mendapatkan informasi lowongan dari seorang calo yang terkoneksi dengan agen di Arab Saudi. Berkat jasa Calo ini, SI setelah membayar uang perekrutan sebesar 10 juta dari hasil menjual tanah peninggalan suaminya, akhirnya bisa berangkat bekerja ke Jeddah Arab Saudi.

Di Jeddah, SI bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada keluarga lokal. Sejak awal kedatangannya, SI sudah merasa risih dengan cara majikan laki-lakinya melihat dia.

“Dari awal saya datang, Khalid, nama majikan saya, tatapan matanya itu sudah kelihatan mesum. Awalnya saya cuek saja karena baru datang dan belum mengenali lebih jauh” tutur SI seperti yang disampaikan kepada Banjar Online.com

Petaka mulai terjadi, saat SI telah tiga bulan bekerja di rumah Khalid.

“Malam itu, Khalid memaksa saya untuk berhubungan badan. Saya menolak, tapi kekuatan saya lemah. Tubuh Khalid lebih kuat, saya dipepet sambil dirobek baju yang saya pakai” kenangnya diiringi linangan air mata.

Usai kejadian tersebut, Khalid membawa SI ke seseorang yang menurut dugaan SI adalah seorang dokter. Ditempat orang yang diduga dokter, SI disuntik anti hamil. Dan sejak saat itu, hampir setiap hari, Khalid memaksa SI untuk melayani nafsu bejatnya sampai berlangsung selama hampir 4 tahun lamanya.

Gaji Tidak Dibayar

SI yang dalam kondisi ketakutan, menyadari, selama hampir setahun pertama dia belum menerima gaji. Padahal, seperti yang dijanjikan calo yang membawanya bekerja, SI akan digaji sebesar Rp.  5 juta setiap bulan. SI pernah menanyakan ke majikannya, namun majikannya menunda dengan alasan keamanan,

“Kata majikan saya, nanti saja kalau saya mau pulang gajimu dibayar. Kalau dibayar sekarang, nanti uangmu hilang” tutur SI

Sejak saat itu, SI ttidak pernah lagi berani menanyakan gajinya meskipun sebenarnya dia membutuhkan uang untuk kedua anaknya di kampung halaman.

Putus Komunikasi dan Saat Hamil Dipulangkan

Selama bekerja di rumah majikannya, SI mengaku tidak pernah diijinkan untuk menghubungi keluarganya di Banjar. SI berkesempatan keluar rumah selalu bersama majikannya, saat diajak belanja, saat diajak ke dokter untuk disuntik anti hamil dan saat berurusan dengan imigrasi. Selebihnya, SI harus berada dibalik tingginya pagar yang mengelilingi rumah majikannya.

“Pernah, saya akan bunuh diri, tapi saat ingat kedua anak saya, saya batalkan” kenangnya.

Puncak dari penderitaan SI saat memasuki bulan ketiga usia kehamilannya. Hanya Khalid yang mengetahui kehamilan SI. Dan saat SI memberitahu Khalid bahwa dirinya hamil, keesokan harinya SI langsung dibelikan tiket dan diuruskan kepulangannya ke Indonesia.

Saat akan dipulangkan, SI diberi uang sebanyak Rp. 3 juta rupiah dalam pecahan mata uang rupiah. Khalid mengantar SI sampai dengan proses checkin selesai dan SI masuk ke dalam Bandara.

Sesampainya di kampung halaman, beban berat kini yang SI rasakan. Pulang kerja dari luar negeri, bukan uang dan materi yang dia dapatkan, namun hamil diluar nikah yang memalukan.

DI kawasan ini, SI merupakan satu dari beberapa contoh kasus, BMI pulang dari timur tengah dalam kondisi hamil tanpa suami. [Asa/Hamim]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner