Prime banner

MADIUN – “Saya menelpon KJRI Hong Kong dengan maksud meminta bantuan, tapi jawabannya malah menyakitkan, menuduh saya yang bersalah, tanpa mau memberi kesempatan untuk saya menjelaskan duduk permasalahan. Suaranya ketus lagi bapak bapak yang nerima” kenang Iis akan pengalaman buruknya saat bekerja di Hong Kong.

Iis, mantan BMI Hong Kong warga Kare Madiun ini mengaku trauma bekerja ke luar negeri. Menurut Iis, bekerja ke luar negeri itu bagaikan berdiri diujung duri dengan satu kaki. Anggapan Iis yang demikian, muncul usai memiliki pengalaman sehari semalam ditahan Polisi lantaran lansia yang diasuhnya pikun, meminta bantuan ke nomor darurat, bahwa lansia tersebut mengaku akan diracuni oleh Iis, BMI yang menjadi pengasuhnya.

Kepada Apakabaronline.com Iis menuturkan, kronologi kejadian yang menimpa Iis pada Agustus 2016 ini berawal pada sebuah siang, dimana di rumah majikan Iis di kawasan Tai Po, hanya ada Iis dan kakek yang dijaganya “kumat rewel”nya akibat kondisinya yang sudah pikun, meskipun kadang-kadang masih bisa normal seperti orang yang belum pikun.

“Saat itu, kakek minta dimasakkan kornet babi. Disuruh manggang terus dikasih saus. Padahal, majikan yang menandatangani kontrak kerja saya, sejak awal saya bekerja menjelaskan agar kalau kakek makan daging, harus dibatasi. Maksimal seminggu dua kali karena kakek fisiknya tidak boleh makan banyak daging kata dokter” tutur Iis.

“Kakek saya beri pengertian kalau dalam seminggu itu sudah dua kali makan daging, saya sarankan untuk makan lainnya saja. Tapi kakek malah marah-marah. Tiba-tiba mengangkat telpon, dan tidak lama kemudian Polisi datang. Saya dibawa ke kantor Polisi “ kenangnya.

Iis menambahkan, dirinya ditahan oleh Polisi sejak jam 11 siang hingga keesokan sorenya, saat majikan yang menandatangani kontraknya datang ke kantor Polisi memberikan penjelasan. Kemudian Iis bebas. Selama menunggu sampai majikannya datang, Iis benar-benar kebingungan. Dia yang baru pertama kali bekerja ke Hong Kong, kemampuan bahasa Kantonnya sangat minim, sehingga, Iis mengaku kesulitan dalam berkomunikasi dengan Polisi.

Ditengah kebingungannya, sore hari pada saat itu, Iis berinisiatif menelpon KJRI, menghubungi sebuah nomer yang diadapatkan dari akun facebook KJRI Hong Kong. Setelah panggilan tersambung, belum sampai utuh Iis memberikan penjelasan, tiba-tiba suara laki-laki yang menerima telpon, memutus omongan Iis, seraya menyalahkan Iis.

“Bapak itu bilang ‘itu salah kamu sendiri, kenapa tidak kamu ikuti permintaannya. Kamu ke Hong Kong untuk bekerja, bukan untuk jalan-jalan’. Sudah ngomong gitu, telponnya terus ditutup.” tutur Iis sambil berkaca-kaca.

Kesokan sorenya, begitu majikan Iis yang menandatangani kontrak kerjanya datang, dan memberi penjelasan kepada Polisi, akhirnya Iis dibebaskan.

“Malah majikan saya yang minta maaf karena ulah bapaknya yang sampai membuat saya seperti itu” kenangnya.

Usai kejadian itu, Iis langsung meminta kepada majikannya untuk ganji job, atau dia minta pulang. Memahami kondisi psikologia Iis, beruntung sekali, majikan Iis berkenan menukar job dengan PRT Filipina. Iis bekerja di rumah majikan yang menandatangani kontraknya, sedangkan PRT Filipina bertukar posisi mengasuh kakek yang nyaris mencelakakan Iis.

Setelah kontrak kerjanya habis, Iis memilih pulang ke Indonesia karena kedua orang tua Iis setelah mengetahui peristiwa yang meni mpa Iis, ngotot agar Iis bekerja di Indonesia saja.

Saat Apakabaronline.com berusaha menghubungi KJRI Hong Kong di nomer yang kami dapat dari Teguh, Juru Bicara KJRI Hong Kong untuk meminta konfirmasi perihal buruknya layanan KJRI yang dirasakan Iis, 6 kali panggilan telpon yang kami lakukan, tidak ada yang mengangkat. [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner