Prime banner

KUALA LUMPUR – 102 Pekerja migran Indonesia yang menjadi korban kebakaran barak tempat tinggal mereka, kini mulai bisa sedikit merasa tenang. Disamping bantuan dari KBRI dan solidaritas sesama PMI mulai berdatangan, pengurus Muhammadiyah Malaysia yang terdiri dari warga Pribumi Malaysia, merentangkan tangan, membackup total segala kebutuhan.

102 PMI korban kebakaran tersebut, saat ini menempati gedung Dewan Serbaguna Kampung Baru yang  Dewan Bandaraya Kuala Lumpur (DBKL) sejak usai kebakaran. Di tempat tersebut, otoritas lokal hanya mengijinkan para korban menempati gedung maksimal hanya 3 hari saja. Tentu, dalam kondisi habis-habisan, pembatasan itu menjadi beban serta memicu kegelisahan bagi 102 PMI yang menjadi korban. Namun, hal tersebut akhirnya terselesaikan. Pengurus Muhammadiyah Malaysia melakukan lobby kepada otoritas lokal agar memperpanjang waktu untuk para korban sampai mereka mendapatkan tempat tinggal yang baru.

Arif, salah satu PMI yang menjadi korban kebakaran yang berasal dari Desa Solokuro Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mengaku sudah 4 tahun menempati bangunan yang terbakar tersebut. Kepada awak media, dia bersama sejumlah PMI lainnya membayar uang sewa rumah antara RM (Ringgit Malaysia) 300 hingga RM 400 atau sekitar Rp1.000.000 per bulan di luar air dan listrik.

Menurut Arif, hampir semua korban kehilangan harta benda termasuk sejumlah uang yang disimpan di dalam lemari kamar.

“Ada yang kehilangan RM 2.000, RM 3.000 hingga RM 5.000. Mereka menyimpan uang `cash` untuk perpanjangan permit (izin kerja) yang sekarang sampai RM 3.000 lebih, karena itu kesulitan kalau harus mencari tempat persewaan baru,” katanya.

Pernyataan yang sama disampaikan oleh Kholifatul Umah (53). Dia mengharapkan ada bantuan dari dermawan untuk bisa menyewa rumah yang baru.

“Harta benda saya terbakar semua. Ini masih tersisa paspor, permit dan beberapa cincin yang ikut terbakar bersama tempatnya,” katanya.

Korban kebakaran yang lain, Zahra Nisa (37), mengaku belum tahu hendak kemana setelah selesai di penampungan.

Wanita yang bekerja di Picoms Kolej Sains Perubatan Pusrawi ini telah kehilangan ATM dan buku tabungan Bank Mandiri, ATM dan buku tabungan BNI, buku nikah dan sejumlah dokumen penting lainnya.

Ketua Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia, Dr Sonny Zulhuda mengharapkan Dewan Bandara Kuala Lumpur bisa memberikan kesempatan lebih panjang kepada para korban agar memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri mencari tempat baru.

Tim Satgas Perlindungan WNI KBRI Kuala Lumpur yang dipimpin Sekretaris Pertama Konsuler Soeharyo Tri Sasongko dan Yulisdiyah Nuswapadi ke lokasi memberi bantuan uang RM 3.000 dan sejumlah perlengkapan mandi, pakaian, makanan dan minuman. [Asa/Net]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner