Prime banner

Aku pasti akan terbang lagi ke Hongkong jika sahabatku tidak mencegahku dan mempunyai ide gila membuat rumah makan ini. Padahal menjadi seorang TKW adalah hal yang menyenangkan untukku. Kita bisa tahu negeri orang, jalan-jalan ke luar negeri tanpa harus berpendidikan tinggi, dapat uang pula. Namun sahabatku ini mempunyai cara pandang berbeda.

Dia seperti aktivis-aktivis asal tanah air saat saya menjadi TKW di Taiwan kemarin. Mereka mengajariku memasak, menulis, membuat berbagai kerajinan, semua itu mereka lakukan dengan suka rela. Katanya sebagai bekal agar saat kami pulang ke tanah air, kami tidak kembali lagi. Melainkan membuka lapangan kerja sendiri, dengan berbisnis.

Aku heran, bukankah kami membanggakan? Bukankah TKW dianggap sebagai pahlawan devisa di negeri kami? Lalu kenapa kami harus dilatih ini itu untuk tidak kembali lagi ke sini? Sebenarnya di sini cukup menyenangkan. Gaji kami bahkan bisa lebih besar dari gaji PNS. Kami bisa menjadi kebanggaan keluarga, mengirimi mereka uang, bahkan sampai membuatkan rumah. Itu semua kami peroleh dari gaji kami menjadi pembantu rumah tangga di negeri seberang.

Saat pertama kali memutuskan menjadi seorang TKW, sebenarnya karena dipaksa oleh orangtuaku. Kakakku seorang TKW juga di Saudi. Karena terinspirasi dari kesuksesan beliau, akhirnya ibuku menyuruhku untuk mengikuti jejaknya. Padahal saat kelulusan SMA, sahabatku sudah mendaftarkanku ke berbagai program beasiswa agar aku bisa berkuliah dengannya. Sayangnya aku tidak bisa menolak keinginan ibuku yang ingin menjadikanku seorang TKW. Aku harus menurutinya, karena kalau tidak, matilah aku disidang oleh seluruh anggota keluarga. Yang dianggap membangkang lah, duhaka lah. Ah pokoknya semua itu akan membuatku gila.

Aku bisa melihat kekecewaan sahabatku saat aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Dia telah berkorban banyak untukku. Tapi aku berjanji padanya, suatu saat jika aku sudah mengumpulkan uang, aku akan meminta dia untuk mencarikan kampus untukku.

Awal karierku menjadi seorang TKW, aku ditempatkan di Singapura. Dengan kontrak kerja dua tahun. Tentu selama dua tahun itu tidak mungkin bagiku untuk mendaftar kuliah. Bulan demi bulan aku mengumpulkan dollar, namun tak sepeser pun dapat kutabung untuk biaya kuliah. Setiap bulannya, ada saja alasan ibuku meminta uang. Yang biaya berobat lah, biaya renovasi rumah lah, beli motor lah. Sehingga untuk kepentinganku sendiri malah terbengkalai. Akhirnya setelah dua tahun berlalu aku pulang dengan tangan hampa. Ibuku masih memerlukanku untuk menafkahinya, karena beliau saat ini sudah amat renta. Sehingga tak ada pilihan bagiku selain berangkat lagi menjadi TKW.

Sepertinya pekerjaan menjadi seorang TKW akan menjadi candu bagi yang sudah mengalaminya. Saat di negeri orang, merasa lelah, rindu kampung halaman, ingin pulang. Tapi setelah pulang, mengetahui berbagai polemik keluarga membuat kami gerah dan ingin segera terbang lagi ke negeri seberang. Mungkin bagi masyarakat perkotaan yang rata-rata sudah berpendidikan tidak akan mengerti posisi kami. Bagaimana perilaku keluarga kami yang biasa menjadi kacung, tiba-tiba punya uang. Padahal uang itu berasal dari kami menjadi kacung juga di negeri orang.

Lalu muncullah sahabatku yang lama tak bertemu. Sahabat yang kukenal sejak duduk di bangku SMA. Yang selalu memberi bantuan tanpa kenal imbalan. Sebenarnya kami sudah berhubungan dan saling tukar kontak sejak tahun keduaku di Taiwan. Kami saling berbagi kabar lewat media sosial. Dari dia lah aku akhirnya dijerumuskan untuk mengikuti berbagai pelatihan yang diadakan oleh para sukarelawan asal tanah air itu.

Kebetulan dia sangat aktif ketika menjadi mahasiswa, sehingga mempunyai link yang luas, dan memberitahuku tentang pelatihan itu. Saat kontrakku di Taiwan habis, aku pulang ke tanah air. Sebenarnya aku sudah berencana berangkat lagi ke Hongkong setelah itu. Berbagai persyaratan sudah kusiapkan. Tinggal membuat paspor dan visa. Namun tiba-tiba aku berubah pikiran sejak hari itu.

Saat aku bertemu secara tatap muka untuk pertama kalinya setelah sekian lama dengan sahabatku. Dia tampak sedang kesusahan. Dia meminta bantuanku untuk meminjamkannya modal untuk usaha. Dia berencana membuka kafe kecil-kecilan dekat sekolah kami dulu. Karena dia sudah banyak membantuku, aku pun meminjamkannya. Kebetulan aku masih punya simpanan. Namun sahabatku bukan hanya ingin meminjam uang, tapi juga meminta bantuanku untuk ikut memantau bisnisnya. Supaya jelas katanya. Karena aku pun tidak mempunyai kegiatan selama di tanah air, aku menuruti saja keinginannya. Lagipula rencanaku berangkat ke Hongkong masih beberapa bulan lagi.

Selama aku mengurus kafe bersama sahabatku, aku merasa sangat menikmati pekerjaan itu. Kegiatan selama membuka kafe di pagi hari, menyambut pelanggan, dan menutup kafe adalah pekerjaan yang paling menyenangkan yang pernah kulakukan. Aku kerjakan semua itu dengan perasaan senang, tanpa keluhan. Rasanya akan menyenangkan jika pekerjaan itu dapat kulakukan selamanya. Aku jadi mencintai pekerjaan itu, dan kafe itu. Aku berharap untuk tidak lagi pergi ke Hongkong. Aku ingin mengurus kafe ini. Namun ini adalah kafe milik sahabatku. Aku hanya membantunya selagi aku masih di sini. Hingga di akhir bulan, sahabatku memberikan sebuah laporan keuangan kepadaku.

Dia menjelaskan tentang pemasukan dan pengeluaran kafe selama sebulan ini. Lumayan juga untuk seukuran kafe yang baru buka, kami sudah memiliki beberapa pelanggan tetap. Apalagi letak kafe ini cukup strategis, banyak sekolah dan perkantoran di sekitar sini. Dia juga mengajariku banyak hal, dari mulai mencatat hasil penjualan, membuat laporan keuangan, hingga menggaji karyawan. Lalu tiba-tiba sahabatku berpamitan dan menyerahkan kafe itu kepadaku. Dia mau melanjutkan kuliah. Aku sangat kaget dengan keputusan sahabatku yang tiba-tiba.

Sebenarnya kalau pun dia belum punya uang untuk membayar utang tidak apa-apa. Kenapa harus menyerahkan kafe ini kepadaku? Ternyata inilah rencananya. Sahabatku sengaja menipuku, berpura-pura meminjam uang untuk membuka bisnis, yang ternyata bisnis yang dia bangun itu sengaja dia berikan kepadaku, agar aku berhenti menjadi TKW. Ah aku merasa “ditipu” oleh sahabatku sendiri. Tapi aku merasa senang karena dia menipuku. Seumur-umur aku tak pernah bermimpi terlalu tinggi. Bisa mendapatkan uang dari pekerjaanku saja aku sudah bersyukur. Tak pernah aku berpikir untuk menjadi seorang bos. Dan sekarang, aku seorang pemilik kafe? Aku tak percaya. Apalagi kafe yang kupegang ini sudah mulai dikenal oleh kalangan pelajar dan mahasiswa di kotaku.

Penghasilannya pun sudah lumayan. Setiap hari aku bertemu wajah-wajah pintar para pelajar dan mahasiswa juga pekerja kantoran yang makan dan nongkrong di kafeku. Aku jadi teringat janjiku kepada sahabatku untuk melanjutkan kuliah jika aku sudah punya uang kelak. Aku harap aku bisa melanjutkan kuliah kelak.

Akhirnya jadwal kepergianku ke Hongkong pun kubatalkan. Posisiku digantikan oleh temanku sesama TKW yang berencana hendak ke Hongkong juga. Sungguh penipuan yang terasa menyenangkan. Yeay aku seorang pemilik kafe sekarang!

Sahabatku tidak pergi meninggalkanku begitu saja. Setiap dua minggu sekali, atau minimalnya sebulan sekali, dia mengunjungiku ke kafe ini. Mengecek laporan keuangan, persediaan di dapur, sampai menyemangati aku dan para pekerjaku. Aku menggajinya dengan profesional tentunya.

Dia selalu mengatakan bahwa berdagang adalah pekerjaan yang mulia. Anggaplah pelanggan yang datang adalah tamu yang harus kita muliakan. Sehingga dia akan merasa nyaman berada di sini, dan akan datang dan datang lagi. Sehingga aku tak pernah merasa takut menjalani pekerjaan ini. Meskipun ibuku terkadang menakut-nakutiku agar aku kembali menjadi TKW. Tapi aku punya sahabat yang selalu mendampingiku dan memastikan semuanya baik-baik saja. Dan aku dapat membuktikan kepada ibu, bahwa dengan aku berdagang di sini, selain aku bisa menghasilkan uang, aku pun bisa mendampinginya, mengantarnya ke rumah sakit setiap beliau tak enak badan, dan memperhatikannya sebagai anaknya.

Kata sahabatku, kita sebagai hamba Tuhan hanya perlu mematuhi perintahNya. Tidak perlu takut rezeki kita akan berkurang atau hilang. Selama kita punya Tuhan, kita hanya perlu memaksimalkan usaha dan terus meminta kepadaNya. Maka Tuhanlah yang akan menggaji kita, memberi kita rejeki, dan memenuhi kebutuhan kita. Toh hasil tidak akan mengkhianati usaha. Sangat terasa olehku sekarang, dulu aku takut tidak mendapatkan uang lagi jika aku berhenti menjadi TKW. Namun sekarang Tuhan memberiku lebih dari segalanya. Aku bukan hanya mendapatkan gaji, tapi juga bisa menggaji orang lain. Bahkan rezeki yang terbesar adalah aku memiliki waktu untuk keluargaku.

Aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti dia. Bahkan aku menulis tulisan ini pun karena dipaksa olehnya. Karena dia ingat aku pernah bercerita bahwa aku diajari menulis oleh para aktivis asal tanah air itu ketika di Taiwan dulu. Maka aku persembahkan tulisan ini untuk sahabatku. Terima kasih telah menjadi sahabat terbaik yang telah mengubah cara pandangku. Sekarang aku bisa mengurus kafe kecil yang kau wariskan ini. []

Sumber : Vemale.com

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner