Prime banner

WONOGIRI – “September 2002, Maryati tiba-tiba pulang dalam kondisi hamil 3 bulan” tutur Paini, ibunda Maryati saat mengawali percakapan dengan Apakabaronline.com.

Maryati, merupakan warga sebuah desa di kecamatan Giriwoyo, Wonogiri Jawa Tengah yang sepengetahuan keluarganya, telah dua kali berangkat kerja ke Hong Kong. Pertama ke Hong Kong, perempuan kelahiran 18 Juli tahun 1980 ini pada tahun 2001. Kemudian, pada tahun 2002, Maryati tiba-tiba pulang kampung dalam kondisi hamil 3 bulan.

Pas di dhedhes kaleh keluarga, ngakene, sing ngetengi, tiyang Nepal. Namine sinten ngaten, aneh pokoke” (waktu di tanya keluarga, Mariyati mengaku, yang menghamilinya adalah pria warga negara Nepal) lanjut Paini.

Selama proses kehamilan dengan pria Nepal tersebut, Maryati berkali-kali berusaha menggugurkan kandungannya. Namun upaya Maryati gagal. Dan akhirnya, janin yang tumbuh dalam  kandungannya lahir ke dunia ini pada Maret 2003. Oleh Maryati, bayi laki-laki yang dilahirkannya tersebut diberi nama Tegar Prakoso. Menurut penuturan keluarga, saat Maryati mengetahui kondisi bayi laki-laki yang baru dilahirkan, dia sempat mengalami syok, lantaran, bayi yang dilahirkannya cacat. Tidak memiliki tangan.

Ibu Dimana ? Bapak Telah Pergi Meninggalkan Kami

Bidan yang menolong persalinannya menyatakan, bayi tersebut cacat akibat pengaruh obat-obatan dan dampak dari berbagai upaya yang dilakukan Maryati selama hamil untuk menggugurkan kandungannya, namun gagal. Seminggu setelah tali pusarnya Tegar lepas, Maryati kembali berpamitan, akan kembali bekerja ke Hong Kong.

Nilar Griyo, niku antawis wulan April 2003. Pamit badhe nyambet dhamel meleh dhateng Hong Kong. Lajeng, antawis Desember tahun 2003, Nduk, kentun serat, alamate nggih sangking Hong Kong. Nanging, pas serat niku wau dipun wangsuli, mbalek, ngendhikane Pak Pos, alamate salah” (Meninggalkan rumah itu sekitar bulan April 2003. Pamit mau bekerja ke Hong Kong lagi. Lalu, sekitar bulan Desember 2003, ada surat yang dikirim Maryati dari Hong Kong. Tapi saat surat tersebut di balas, suratnya kembali, kata petugas Pos alamatnya salah) lanjutnya.

Beban pikiran atas menghilangnya Maryati, tentu menjadi beban berat bukan hanya bagi kedua orang tua Maryati, namun juga bagi Tegar, terutama saat dia mulai menyadari asal usulnya.

Tukimun, ayah Maryati menderita stroke lantaran terlalu berat memikirkan ulah Maryati. Disamping mengkhawatirkan kondisi Maryati yang tidak jelas, Tukimun terbebani secara mental, menanggung malu seumur hidupnya atas perbuatan anaknya yang hamil tanpa menikah. Tukimun pergi menghadap Illahi pada tahun 2007.

Tinggalah dirumah tersebut, Paini dan Tegar, yang saat itu harus bersekolah di SLB lantaran kondisinya. Anak Paini sebenarnya ada dua, tetapi anak pertamanya, yaitu kakak Maryati saat ini menetap di Sulawesi. Namun demikian, selain rutin setahun sekali pulang, Paini mengaku, anak pertamanya ini hampir setiap bulan mengirimi uang untuk membantu Paini dan kehidupan Tegar.

Paini mengaku, awalnya sering merasa terbebani dengan pertanyaan Tegar saat masih TK dan SD. Tegar sering menanyakan dimana Ibunya, siapa Bapaknya kapan mereka akan pulang.

“Ibu Dimana ? Kapan Ibu Pulang ? “

Atas arahan gurunya di sekolah, akhirnya pelan-pelan, Paini dengan dibantu pihak sekolah memberi pemahaman tentang asal usul Tegar yang sebenarnya. Meskipun Tegar sedih, namun motivasi dari lingkungan di asrama tempat sekolahnya mampu membangkitkan semangatnya untuk berprestasi.

Setelah masa TK dan SD, harus Tegar lalui di SLB, jenjang SMP yang telah dia jalani dua tahun sekarang ini bisa dia jalani di sekolah biasa, meskipun kondisi Tegar luar biasa. Seluruh aktifitas yang oleh orang lain dilakukan dengan tangan, Tegar melakukannya dengan kakinya. Menulis dengan kaki, makan dengan kaki, bahkan mencuci pakaian juga dengan kakinya.

Tegar, tercatat sebagai salah satu siswa di sebuah SMP yang terintegrasi dengan pesantren milik Muhammadiyah Surakarta. Di almamaternya sekarang, prestasi Tegar dalam bidang Fisika dan Matematika benar-benar membanggakan. Tak jarang, guru Tegar meminta bantuan Tegar untuk membantu teman-temannya yang tertinggal dalam mata pelajaran tersebut.

“Saya ingin ketemu Ibu dan Bapak. Sejak kecil, saya belum pernah melihat mereka berdua. Saya sudah tahu latar belakang saya, tapi saya tetap  ingin berbakti kepada kedua orang tua saya. Setiap Senin dan Kamis saya berpuasa, setiap malam, dalam Tahajud, saya selalu berdoa, semoga Allah mempertemukan saya dengan Ibu dan Bapak saya, dan semoga Ibu dan Bapak saya tidak malu, dan ikhlas menerima saya dengan kondisi saya yang cacat ini” tutur Tegar diantara linangan air matanya.

Tegar, menitipkan pesan kepada pembaca Apakabaronline.com, jika ada yang mengenali Maryati ibunya, Tegar meminta tolong untuk dibantu mempertemukan.

“Ibu, apa benar, Bapaknya Tegar itu orang Nepal ? Jika benar, namanya siapa bu ? Setiap malam, Tegar selalu mendoakan Ibu dan Bapak, tapi hanya nama Ibu Maryati  saja yang bisa Tegar sebut, Tegar ingin menyebut nama Bapak dalam doa Tegar bu” tutur Tegar yang terpotong oleh tangisnya.

“Tegar kangen Bu, Tegar ingin bertemu Ibu dan Bapak, terima Tegar apa adanya, pulanglah Bu” pungkas Tegar. [AA Syifa’i SA]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner