Awas, Smiling Depression : Saat Senyuman Dijadikan Tutup Penderitaan

Ilustrasi Foto | Elias Wong
Ilustrasi Foto | Elias Wong
Prime Banner

ApakabarOnline.com – Berbicara mengenai gangguan mental, maka masalah utamanya adalah stigma yang melekat di masyarakat dan juga romantisisasi yang mulai banyak terjadi. Dengan berdalih menghindari kedua hal tersebut, seringkali kita menutup mata pada gejala-gejala gangguan mental yang mungkin dialami oleh diri kita sendiri ataupun orang-orang terdekat kita. Salah satu gejala yang seharusnya bisa kita sadari sedari dini adalah smiling depression.

Smiling depression adalah ketika seseorang memasang senyuman di wajahnya, padahal ia sedang dealing dengan gejala depresi yang dialaminya. Smiling depression memang bukan istilah yang digunakan di dunia medis melainkan lebih ke istilah populer. Dalam studi literatur, smiling depression memiliki istilah lain, yaitu asymmetric smile dan juga false smile. Menurut World Health Organization (WHO) dalam publikasinya pada 2012, karena sifatnya yang antitesis atau berkebalikan, maka menjadi semakin sulit bagi psikolog untuk mendiagnosis seseorang mengalami smiling depression. Hal ini juga akan diperparah ketika orang itu memasang senyuman dengan alasan;

 

  1. Tidak mau menjadi beban untuk orang lain

Seseorang yang aware dengan gejala-gejala depresinya ataupun yang sudah didiagnosis mengalami depresi, seringkali merasa kehidupannya adalah sebuah kesalahan. Ia merasa tidak berguna dan hanya menjadi beban untuk orang lain. Tersenyum adalah cara paling sederhana yang bisa mereka lakukan untuk mengurangi beban orang-orang di sekitarnya.

 

  1. Malu dengan kondisinya

Adanya stigma yang masih melekat kuat di masyarakat kita bahwa orang dengan gangguan mental adalah orang gila, akhirnya konsep itu mengendap pada diri kita. Kita masih menganggap bahwa gangguan mental adalah sebuah kelemahan, aib dan “ketidaknormalan”. Karena itu, banyak dari orang-orang yang masih mempercayai stigma tersebut, akhirnya menutup ketidaknyamanan, “kelemahan”, “ketidakberdayaan, rasa sakit dan semua penderitaannya dengan tersenyum. Tersenyum dianggap mampu membuat dirinya lebih diterima di masyarakat. Karena memang sejak kecil kita dididik untuk selalu bahagia, selalu tersenyum pada orang lain, tidak boleh bersedih, harus bisa apa saja, dan menjadi manusia sempurna. Maka, tidak heran apabila tersenyum adalah salah satu cara untuk menutupi emosi-emosi negatif yang ada pada dirinya. Dengan senyuman ini, mereka akan berharap orang-orang tetap memandang mereka sebagai orang yang “normal” dan sehat.

 

  1. Berada pada tahapan denial atau penolakan

Beberapa dari kita mungkin sudah menyadari gejala-gejala depresi yang dialami, tetapi kita tetap tidak mau menerima keadaan. Keadaan inilah yang disebut dengan tahapan denial atau penolakan. Kita seakan masih saja menolak kenyataan bahwa diri kita memang sedang tidak baik-baik saja. Kemungkinan ini juga sejalan dengan tulisan Elisabeth Kubler-Ross yang menjelaskan bahwa fase ini akan berganti seiring dengan berjalannya waktu ke fase amarah, perundingan, depresi, dan penerimaan.

 

Melihat dari Perspektif yang Berbeda

Smiling depression bisa terjadi pada diri kita yang tidak berusaha jujur dengan diri sendiri. Ketidakjujuran ini bisa jadi dikarenakan tuntutan ego dari dirinya sendiri ataupun penghakiman dari orang-orang di sekitarnya. Smiling depression mungkin dijadikan tameng untuk menghadapi kerasnya dunia. Bagi sebagian orang lainnya, senyuman ini juga mungkin menjadi kekuatan tersendiri untuk bisa menjalani aktivitas sehari-harinya. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan adalah bahwa masalah yang kita hadapi memang akan terselesaikan seiring dengan berjalannya waktu, tetapi tidak dengan luka dan rasa sakitnya. Oleh karena itu, ketika kita melihat luka dan rasa sakit ini sebagai suatu hal yang negatif, maka kita akan cenderung melakukan penyangkalan. Sebaliknya, apabila kita melihatnya sebagai suatu hal yang dapat membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, maka penerimaan akan menjadi jalan yang kita pilih.

Kehidupan terkadang memang tidak selalu tentang apa yang kita inginkan. Kadang kita juga harus bertarung dengan penyesalan, penolakan, dan kesedihan. Seringkali, kesakitan itu juga melebihi ambang batas kemampuan kita. Ketika kita tidak mampu mengatasinya, cobalah untuk jujur, setidaknya pada diri sendiri. Jatuh bukan berarti gagal dan menyerah bukan berarti lemah. Tidak ada salahnya, jika kita mencoba untuk membuka diri dan mencari pertolongan pada orang-orang di sekitar kita juga pada tenaga profesional. Jika menemukan orang-orang di sekitarmu yang menunjukkan gejala-gejala depresi dan masih menunjukkan guratan senyuman di wajahnya, ajaklah ia berbicara. Berikan dukungan penuh atas apapun yang ia pilih dan sampaikan bahwa penerimaan diri menjadi hal yang penting untuk dilakukan, kapanpun, ketika ia sudah siap. []

Penulis Kartika Dewi

You may also like...