Prime banner

Anak yang diadopsi, secara psikologis, mempunyai kecenderungan mengalami perilaku yang bermasalah setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

Namun tidak semua, banyak juga anak atau orang dewasa yang tetap bisa tumbuh dan hidup dengan normal atau tidak mengalami permasalahan perilaku setelah tahu dia diadopsi.

Setiap manusia yang lahir memiliki kecenderungan merasakan kelekatan dengan keluarga. Hal ini menjadi kebutuhan psikologis sejak lahir hingga meninggal, hanya saja bentuknya berubah-ubah.

Kelekatan ketika masih bayi dan anak-anak biasanya kepada orang tua, khususnya ibu. Namun setelah remaja, kelekatan itu berubah dalam bentuk lain, seperti mencurahkan perasaan hati dan sebagainya.

Setelah dewasa, mempunyai pasangan hidup dan bahkan anak sendiri, kelekatan tersebut juga akan berubah dan bisa beralih, misalnya lebih lekat dengan anak atau cucu.

Namun dari semua perubahan bentuk tersebut, kelekatan yang paling penting adalah kelekatan pada saat masih bayi dan anak-anak. Di mana pada fase tersebut, bayi dan anak-anak lebih membutuhkan kelekatan untuk merasa aman dan nyaman dari orang tuanya.

“Sayangnya, tidak semua manusia mendapatkan kelekatan yang sempurna dari orang tuanya, misalnya karena dibuang, diterlantarkan, diadopsi oleh orang lain dan sebagainya,” kata psikolog Ihsan Gumilar.

Dalam perjalanannya, setelah tahu bahwa orang tua yang selama ini bersamanya ternyata bukan orang tua kandungnya, akan menjadi suatu loncatan yang luar biasa bagi seorang anak. Terjadi phsycological adjusment atau perubahan kondisi psikologis, biasanya karena sesuatu yang tidak memberikan rasa nyaman.

Dalam kondisi ini biasanya anak yang tidak siap bisa mengalami stres, menjadi agresif dan sebagainya. Kondisi itu akan menjadi pergolakan batin yang luar biasa pada anak. Ketidaksiapan ini juga dapat mengakibatkan anak menjadi antipati atau tidak suka dengan orang tua angkatnya.

Di sisi yang lain, dia juga akan sangat membenci orang tua kandungnya karena merasa menjadi anak yang tidak diinginkan, kecuali memang kedua orang tua kandungnya sudah meninggal. Dia pun berpotensi melampiaskan masalahnya kepada teman-teman atau bahkan pada tindakan-tindakan negatif lain seperti mengonsumsi narkoba.

“Di sini kadang letak sulitnya mengadopsi anak. Orang tua yang mengangkat harus benar-benar mempersiapkan mental anak agar mampu menerima kenyataan bahwa sebenarnya mereka bukan orang tua kandung dari si anak.”

Menurut Ihsan, sangat sulit bagi orang tua mengungkapkan kenyataan tersebut kepada anak yang diadposi, tetapi jauh lebih sulit lagi bagi si anak setelah mengetahui kenyataan itu. Apalagi bila kenyataan itu didengar dari orang lain, akan lebih besar dampaknya dibandingkan dengan ia mengetahui langsung dari orang tua angkatnya.

Orang tua yang akan memberitahukan hal yang sebenarnya kepada anak angkat tentu sudah mempersiapkan dengan matang dan biasanya akan didampingi pihak keluarga yang lain dan ikut menenangkan. Namun bila kenyataan itu diketahuinya dari pihak luar, anak akan langsung merasa asing di tempat tinggalnya selama ini. “Itu kenapa mereka lebih banyak menghabiskan waktu di luar.”

Kondisi itu sebenarnya mampu dihadapi oleh mereka yang dapat memuarakannya ke hal-hal yang positif, seperti kegiatan keagamaan, sosial, atau setidaknya curhat dengan teman akrab. Namun, kemampuan itu biasanya dimiliki oleh mereka yang sudah dewasa dan lebih sedikit dimiliki oleh anak-anak dan usia remaja. Kemampuan ini juga akan lebih dipengaruhi oleh apa yang selama ini dididik oleh keluarganya.

Perubahan perilaku anak adopsi seperti itu lebih cenderung terjadi dari orang tua yang tidak mempersiapkannya sejak awal. Anak adopsi akan mengalami perubahan perilaku karena merasa identitas dirinya berubah.

 

REAKSI ALAMIAH

Dari pandangan Tanti Diniyanti, psikolog RSIA Kemang, bila perubahan perilaku tersebut sudah terjadi, orang tua harus memperhatikan dengan detail reaksi anak.

Orang tua harus menerima terlebih dahulu kondisi yang terjadi pada anak, bukan lantas memberi penjelasan panjang lebar dan menjamin semuanya akan baik-baik saja. Orang tua harus menerima dampak psikologis terdekat, seperti reaksi emosional, termasuk dijauhi oleh anak angkatnya.

“Itu reaksi alamiah, si anak akan mengambil jarak dulu. Kalau dia masih anak-anak, dampaknya malah bisa sampai panas, demam, karena terlalu keras memikirkannya.”

Mengambil jarak dengan orang tua angkat biasanya lebih cenderung dilakukan oleh mereka yang masih usia remaja. Orang tua harus menerima perasaan marah, sedih dan kecewa yang dialami anak agar si anak merasa tetap diperhatikan oleh orang tua angkatnya. Setelah berjalannya waktu dan mereda, barulah tahap demi tahap orang tua membahasnya kembali dengan anak angkatnya.

“Kapan saat yang tepat memberitahukan yang sebenarnya kepada anak angkat? Itu sama saja dengan mempertanyakan, kapan saat yang tepat memberitahukan kepada anak kalau orang tuanya akan bercerai.”

Yang terpenting bukan kapan saat yang tepat, melainkan apa yang sudah dipersiapkan untuk mengantisipasi kondisi yang dapat terjadi. Yakni persiapan agar anak bisa lebih menerima kenyataan yang ada dan tidak mengalami perubahan perilaku yang drastis atau bahkan menyimpang.

Misalnya, sejak kecil menceritakan dongeng tentang orang tua angkat atau memberi didikan mental yang lain dengan terus memperhatikan perkembangan psikologis si anak. [Yoseph]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner