Bakar Sampah Didatangi Helikopter

Prime Banner

Namaku Budi, sebagai Pekerja Migran Indonesia  laki-laki di Hong Kong, keberadaanku memang sangat jarang sekali. Sebab, kebanyakan PMI laki-laki kalau tidak menjadi sopir, ya bekerja di daerah yang terisolir. Mengurusi rumah majikan yang berupa bangunan vila di lereng-lereng pegunungan. Seperti yang aku jalani dua tahun belakangan ini.

Saat akan berangkat, ke Hong Kong, jujur, aku akui, ketrampilan bahasa Kantonku sangat minim sekali. Aku tidak bisa berbicara bahasa Kanton lantaran aku hanya menghapal dua hingga sepuluh kosa kata saja yang aku dapatkan dari sebuah buku panduan di PPTKIS yang memproses keberangkatanku. Wal hasil, aku mengandalkan berkomunikasi dengan siapa saja dalam bahasa Inggris.

Bulan-bulan pertama bekerja, tentu merupakan waktu beradaptasi. Apalagi seperti aku yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Beton Hong Kong. Di tempatku bekerja, tanggung jawab yang diberikan majikan sebagaimana yang aku tandatangani di kontrak kerja adalah mengurus rumah berikut pekarangannya yang luas.

Hampir seminggu sekali aku memangkas rerantingan dan dedaunan tanaman hias yang tidak produktif dan mengganggu pertumbuhan. Aku mengumpulkannya di sudut pekarangan, dan saat timbunannya sudah semakin banyak, aku berinisiatif untuk membakarnya saja supaya bersih dan rapi.

Ditengah-tengah aktifitasku membakar sampah di pekarangan rumah, tiba-tiba datang sebuah helikopter yang terbang diatas berputar putar diatas rumah majikanku. Kejadian itu berlangsung sekitar satu hingga dua menit lamanya. Aku tidak mengerti, apa maksud helikopter terbang mengitari atas rumah majikanku.

Sore hari, tiba-tiba majikanku pulang lebih awal dan menelponku untuk menjemputnya di tempat dia turun dari MTR. Aku memang bisa mengemudikan mobil, dan oleh majikanku, aku diuruskan untuk bisa memiliki SIM Hong Kong, karena itulah aku sering mengantar majikanku dengan mobil miliknya.

Sesampai di rumah, majikanku langsung menginterograsi aku tentang apa saja yang aku lakukan seharian tadi di rumah. Aku yang tidak paham maksudnya, apalagi kemarahan majikanku ini tidak seperti biasanya, hanya pasrah saja sambil bertanya-tanya dalam hati. Aku menunjukkan apa saja yang aku kerjakan. Termasuk membakar sampah yang aku kumpulkkan di salah satu sudut pekarangan belakang rumah.

“Ini kesalahan fatal, kamu tidak boleh membakar sampah. Apapun sampahnya, kumpulkan dan buang di tempat sampah. Helikopter yang terbang siang tadi adalah helikopter pemadam kebakaran yang menerima sinyal asap. “ terang majikanku.

Aku yang terkaget-kaget hanya bisa mengiyakan saja sembari mengenang kejadian hari itu sebagai sebuah kejadian bersejarah. Bagaimana tidak, jangankan membakar sampah, di kampungku Kebonsari Madiun, masyarakat yang membakar jerami sampai asapnya menimbulkan kecelakaan lalulintas saja tidak pernah didatangi petugas, apalagi helikopter. [Dituturkan oleh Budi kepada Asa]

You may also like...