Prime banner

JAWA TIMUR – SN (30), mantan pekerja migran Indonesia (PMI) atau yang dulu lazim disebut TKW Minggu (04/03) petang sekira jam 16:50 kemarin akhirnya tutup usia setelah sekian bulan menjalani perawatan medis di rumah sakit.

Seperti dalam pemberitaan terdahulu, SN merupakan salah seorang mantan pekerja migran di Hong Kong asal sebuah kabupaten di Jawa Timur. Secara finansial, selama 7 tahun bekerja di Negeri Beton, SN termasuk berhasil mengumpulkan uang hasil kerjanya di kampung halaman. Terlebih lagi, statusnya masih lajang.

Namun di sisi lain, SN mengaku “gagal” menjadi pekerja migran lantaran menurut pengakuannya karena “kebablasan” dalam pergaulan. SN yang kali pertama menginjakkan kaki di Hong Kong sesuai KTP aslinya masih berusia 19 tahun, merasa beruntung lantaran mendapatkan majikan seorang keluarga yang baik dan memberinya imbalan bukan saja gaji standart.Terlebih lagi di majikannya yang kedua, SN diberi kebebasan bisa keluar setiap hari asalkan pekerjaannya sudah beres dikerjakan.

Karena Keblablasan Di Negeri Beton, Secara Medis, Hidup SN Tinggal Menghitung Hari

Kebebasan di majikan kedua inilah yang kemudian membuat SN mengenal seorang pria warga negara Nepal. Hubungan mereka yang berawal dari pertemanan, berlanjut menjadi pacaran. Dan hubungan suami istripun mereka lakukan selama 4 tahun lamanya. SN tidak pernah menduga, hubungannya dengan pria Nepal tersebut menjadi petaka dalam hidupnya. SN menyadari petaka “Memalukan” setelah secara tiba-tiba, kekasihnya pria Nepal tersebut memberitahu SN sebuah hasil diagnosa  medis bahwa dirinya positif mengidap HIV.

Dalam pemberitaan terdahulu, SN pernah menyampaikan melalui ApakabarOnline.com, permintaan maafnya kepada siapa saja yang mengenal dan pernah bergaul dengannya.

Permintaan maaf SN ini dia ulangi kembali, melalui selembar surat yang dititipkan kepada psikolog yang mendampingi di detik-detik terakhir saat ajal menjemputnya untuk disampaikan kepada ApakabarOnline.com.

Berikut isi surat wasiat yang ditulis dengan tulisan tangan almarhumah sehari sebelum tutup usia :

 

“Assalamualaikum

 Saya mohon semua mengampuni salah saya. Teman” di HKG & dimana saja. Ajal saya sudah dekat.

 Saya punya hutang 150 dollar HKG di mbak TARMI.

Mbak Tarmi, mohon hubungi keluarga saya, mintaa nomer rekeningnya. Supaya kalau saya mati, saya tdk punya beban hutang.

 Aku S**** N****** mbak, yang dulu kalau libur kita sering bareng yang dulu kamu panggil aku Sentul.

 Apakabar minta tolong disampaikan

 Allah       Allah “

 

Sebagaimana isi dalam surat wasiat tulisan tangan tersebut, almarhumah SN di detik terakhir hidupnya disamping menyampaikan permintaan maaf kepada siapa saja, terutama teman-temannya di semasa di Hong Kong, juga mencari salah seorang temannya yang disebut bernama TARMI.

Seperti dalam suratnya, almarhumah teringat, masih memiliki tanggungan hutang yang belum dia bayar, sebesar HKD 150. Melalui surat tersebut, almarhumah meminta kesediaan Tarmi untuk menghubungi keluarga almarhumah agar keluarga bisa melunasi hutang almarhumah.

Agus Setyono, Psikolog yang menjadi Konselor bagi SN, menuturkan, saat ajal menjemput, SN tetap bisa mengingat Tuhannya.

“Alhamdulilah, sebagai seorang muslim, pasien atas nama SN bisa husnul khatimah saat sakaratul maut” jelasnya.

SN merupakan satu dari sekian banyak ODHA berlatar pekerja migran yang muncul ke permukaan. [Asa]

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner