metamarfosis kupu-kupu
Prime banner

Di suatu pagi ada seseorang laki-laki yang sedang berjalan-jalan disebuah taman. Tiba-tiba matanya tertarik pada satu kepompong diantaran dahan tanaman yang terdapat celah mungil pertanda bahwa ‘calon’ kupu-kupu yang ada didalamnya sedang berusaha untuk keluar dari bungkus kepompong tersebut. Berjam-jam ia memperhatikan kupu-kupu tersebut berjuang keras untuk mendorong tubuhnya ke luar lewat celah mungil tersebut, tapi kelihatannya seperti usahanya sia-sia, kupu-kupu tersebut tidak juga kunjung ke luar dari kepompongnya. Sekilas tampaknya kegiatan itu telah berhenti pada titik jenuh dan tiada perkembangan lebih lanjut. Setidaknya itulah yang dipikirkan lelaki tersebut.

Selintas setelah itu, laki laki itu memutuskan buat membantu kupu-kupu itu. Ia pergi lalu kembali lagi membawa gunting kecil guna membantu memperlebar celah kepompong itu sesuai prasangkanya. Setelah Itu kupu-kupu itu ke luar dengan amat mudahnya.

Tetapi apa yang berlangsung selanjutnya? Kupu-kupu itu mempunyai badan yang tak sempurna. Tubuhnya mungil dan sayapnya tak berkembang. Laki-laki itu terus memperhatikan dan mengharapkan, tak lama lagi, sayap tersebut dapat terbuka, membesar dan akhirnya berkembang jadi kuat untuk menyokong tubuh kupu-kupu itu sendiri. Tetapi seluruh yang diinginkan laki laki itu tak terjadi! Kenyataanya, kupu kupu tersebut malah menghabiskan sisa hidupnya merayap diantara dahan tanaman bersama tubuhnya yang lemah dan sayap yang terlipat. Kupu-kupu tersebut tak pernah sanggup untuk terbang.

Apa yang laki-laki itu lakukan, dengan segala niat baik dan usahanya justru jadi bencana bagi si kupu-kupu, dia tidak mengerti, bahwa perjuangan untuk berusaha mengeluarkan tubuh sendiri bagi kupu-kupu dari kepompongnya adalah cara terbaik mengeluarkan semua cairan khusus (potensi) dari badannya. Ini sebuah proses yang dibutuhkan dan harus dilakukan sendiri, agar sayapnya dapat berkembang dan siap untuk terbang. Ini adalah garis yang telah ditentukan oleh Allah.SWT. Dengan kata lain itulah sunatullah, itulah hukum alam.

Itulah sekelumit kisah yang mungkin pernah juga kita dengar atau baca sebelumnya. Banyak pula yang telah menuliskannya ulang di dunia maya dalam berbagai versi. Lalu apa hikmahnya kisah ini?

Perjuangan merupakan sesuatu yang penting kita perlukan dalam hidup ini. Jikalau saja kita diperbolehkan untuk melintasi hidup ini dengan tidak ada masalah sama sekali, hal ini justeru bakal menjadikan diri kita lemah. Kita tak akan pernah sekuat seperti apa yang kita harapkan,  tak akan mampu terbang seperti kupu-kupu itu.

Hidup senantiasa dipenuhi berbagai masalah. Walaupun tidak kita minta masalah akan datang menghampiri kita, mulai sejak dari masalah yang sepele hingga yang dirasa teramat berat. Tapi pernahkah kita berfikir bahwa cobaan-cobaan ini datang boleh jadi justru buah dari doa kita sendiri. Kok bisa?

Disaat kita berdoa, “Yaa Allah berikanlah hamba kekuatan serta keberanian”. Sehingga dikala datang kesusahan dan kesukaran sesungguhnya Allah sedang mengabulkan doa kita. Allah sedang melatih dan menguji kita supaya kita punya kekuatan untuk sanggup melewatinya. Bukankah orang baru dapat dikatakan kuat bila dia telah terbukti dapat mengangkat beban. Makin berat beban yang sanggup diangkatnya artinya dia makin kuat bukan?.

Kita meminta kesejahteraan, Allah memberikan kita otak & otot untuk bekerja. Kita meminta kebijaksanaan sehingga kita diberikan masalah yang mesti dipecahkan buat menguji kita apakah kita telah bijaksana atau belum.

Kita meminta bantuan, Allah memberikan peluang utk kita ambil. Bahkan sering kita meminta cinta & kasih sayang  lalu Allah mengirimkan orang-orang yang sedang kesusahan disekeliling kita untuk kita bantu. Sehingga disaat kita menyaksikan orang yang kesusahan namun kita mengabaikan untuk menolongnya padahal kita sanggup, maka itu sama artinya kita telah menolak cinta & kasih sayang Allah.SWT, padahal kita sendiri yang telah memintanya.

Orang yang yang mempunyai sikap mental positif beranggapan masalah bukan yang merupakan halangan atau gangguan. Tapi justeru sebagai tantangan yang mesti dilewati. Karena orang yang bijak paham betul bahwa sebenarnya masalahlah yang dapat mendewasakan dirinya. Kebolehan kita dalam menghadapi dan mengelola masalahlah yang dapat jadi parameter mutu diri kita. Dan janganlah heran dikala ujian terberat justeru datangnya dari orang-orang terdekat kita. Sahabat dekat yang meremehkan, keluarga yang tak beri dukungan atau bahklan dari diri kita sendiri bersama munculnya rasa enggan, pesimistis, kejumudan, futur atau sikap-sikap lain yang dapat membuat kita down dan putus asa hingga kita dihadapkan kepada pilihan utk “Maju terus atau berhenti hingga disini saja!”. Di sinilah sesungguhnya kita sedang di uji untuk sanggup mengambil keputusan yang tepat serta memotivasi diri kita sendiri sebelum kita sanggup buat memotivasi orang lain.

Jadi, sesungguhnya masalah itu hadir untuk dihadapi dan diselesaikan bukan untuk dihindari dan lari dari kenyataan. Tapi jangan suka cari-cari masalah ya… itu namanya menantang Tuhan!. 🙂

Ditulis ulang dari blog pribadi. [by]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner