Prime banner

TRENGGALEK – beberapa waktu yang lalu, publik sempat dibuat terkaget-kagget dengan nasib lebih dari 150 lulusan SMK asal Kendal yang terlantar lantaran tertipu di Malaysia. Hal serupa kembali terjadi, kali ini menimpa lulusan SMA di Trenggalek yang berangkat bekerja ke luar negeri menjadi pekerja migran atas promosi sebuah PPTKIS yang bekerjasama dengan almamaternya.

Adalah Imam Masrur (24) warga RT 06 RW 3 Desa Ngrayung Kecamatan Gandusari yang sejak tahun 2013 merantau ke Malaysia hingga kini belum mendapatkan haknya yaitu gaji.

“Dalam surat perjanjian kerja yang tertulis saya akan di pekerjakan dengan resmi dan hak gaji RM 1.200 serta uang tips,” kata Imam Masrur melalui komunikasi WhatsApp dengan JATIM TIMES.

Imam menambahkan, selain gaji dan tips yang di janjikan pihak penyalur yang tidak terealisasi, kini Imam hidup tanpa kejelasan dengan status ilegal (pendatang haram) di negeri Jiran Malaysia.

“Saya berangkat sejak tanggal 7 Oktober 2013, hingga kini belum mendapatkan gaji yang di janjikan. Saya harus kerja dan kerja namun tidak di berikan hak,” katanya sedih.

Keterangan Imam dibenarkan oleh ibunya yakni Musripah (49), saat dihubungi wartawan. Musripah bercerita dengan mata yang berkaca kaca sambil sesekali meneteskan air mata membenarkan apa yang dialami anaknya.

“Imam itu sudah dari dulu katanya mau pulang, mau pulang tapi sampai sekarang belum pulang dan saya tanya kok tidak kirim uang katanya uangnya di simpan,” kata Musripah.

Musripah berharap nasib anaknya bisa jelas karena menurutnya, Imam bekerja di Malaysia ada yang membawa yakni pihak sekolah yang bekerja sama dengan salah satu penyalur Tenaga kerja di Trenggalek.

“Saya berharap ada kejelasan nasib anak saya, syukur jika memang dia selama ini tidak kirim uang dan uangnya di kumpulkan,” paparnya

Ketua PAC Pagar Nusa yang juga koordinator Tenaga Kerja Indonesia asal Trenggalek, Arbain Nawawi membenarkan kejadian yang di alami Imam. Bahkan Arbain mengaku pernah membantu menguruskan kepulangan Imam Masrur, namun dirinya juga tidak tau mengapa hingga kini masih belum bisa pulang.

“Dulu saya di sana sudah berjuang dengan ketua Garda Buruh Migran Indonesia di Malaysia, masalah itu sudah saya sampaikan kedutaan Indonesia disana. Tapi entah kenapa hingga sekarang kepulangannya masih tertunda,” jelas Arbain

Arbain juga menceritakan tentang asal muasal ketertarikan Imam Masrur untuk menjadi bekerja di Malaysia. Saat itu Imam bercerita bermula dari perekrutan sekolah yang di tangani oleh RJK (inisial) selaku koordinator penempatan tenaga kerja.

“Orang ini bekerja sama dengan penyalur tenaga kerja, ada PT yang bekerja sama dengan sekolahnya (menyebut sekolah swasta di Durenan),” kata Arbain

Setelah semua persyaratan dipenuhi Imam akhirnya berangkat di Malaysia dan janji dari sekolah serta PT yang memberangkatkan tidak sesuai sama sekali. ini, Imam mengaku seperti kerja rodi yang tidak pernah mendapatkan haknya berupa gaji.

Hingga berita ini di tuliskan, pihak sekolah dan penyalur PMI yang di maksud belum bisa di konfirmasi. [Asa/JATIM TIMES]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner