Prime banner

YOGYAKARTA  – Derasnya WNI yang menjadi buruh migran keluar negri, ternyata masih menyimpan permasalahan bagi pemerintah. Menteri Ketenagakerjaan RI Hanif Dhakiri menuturkan selain dibidang regulasi, permasalahan dan tantangan pekerja migran tersebut juga terdapat pada masing-masing individu.

“Tantangan yang pertama adalah skill, ini yang sedang digenjot oleh kami. Kami sedang lakukan vokasi karena dari 150 juta angkatan kerja sebagian besar masih lulusan SD dan SMP. Hal ini menyulitkan pekerja untuk naik pangkat dan jenjang karirnya mandek,” ucap Hanif pada acara Sarasehan Nasional, Jambore Keluarga Migran Indonesia 2018.

Ke depan tambah Hanif pihaknya ingin ada peningkatan kualitas level pekerjaan baik di luar mau pun di dalam negri. Oleh karena itu peningkatan kemampuan serta kompetensi merupakan prioritas utama dan sudah menjadi keharusan migran Indonesia memiliki jenjang pendidikan yang tinggi agar memilik daya saing

Tantangan kedua kata Hanif adalah mental. Hal ini penting untuk mengatasi goncangan budaya di lingkungan yang baru. Dalam hal ini Kemenaker juga fokus untuk tingkatkan soft skill untuk menunjang  mentalitas pekerja. Tantangan terakhir adalah bahasa berkomunikasi.

“Kalau skill TKI kita bisa bersaing. Indonesia termasuk yang top. Indonesia masih lebih maju dan hebat dari Filipina dan Banglades tapi kelemahannya bahasa. Akibat penguasaan bahasa yang masih kurang jadinya kebaikan hati pekerja migran Indonesia banyak yang disalahgunakan oleh migran asing,” tukasnya.

Hanif sadar guna mengatasi tantangan tersebut pemerintah tidak bisa bergerak sendiri, dibutuhkan sinergi antar lembaga NGO dan Civil Sosiety untuk bisa menelurkan gagasan baru terkait regulasi dan kebijakan untuk perlindungan pekerja migran Indonesia. [Jun Aditya]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner