Prime banner

Penyet ria

Minggu ini, aku sengaja pulang libur tidak melewati jalan biasa. Aku memilih jalan memutar melewati taman belakang rumah. Saat berjalan melewati tikungan, tak sengaja aku berpapasan dengan Ayi yang sedang jalan-jalan sore. Karena setiap hari bertemu dan bertegur sapa, aku jadi akrab dengan perempuan berumur separuh abad ini.

”Amui, kenapa sudah pulang? Kamu libur kan?” Ia fake jerseys bertanya dengan nada heran.
”Iya, Ayi. Aku hanya ingin pulang lebih cepat saja.”
”Kenapa wajahmu pucat sekali? Kamu sakit?”
”Apa iya? Ah, mungkin cuma kelelahan saja,” jawabku tersenyum.

Senyum itu sebenarnya hanya caraku untuk menutupi agar wajahku tak terlihat semakin lemah. Sebab, aku sesungguhnya sudah tidak kuat untuk membawa badanku berdiri. Ya, sejak semalam, badanku terasa lemah. Kepala pusing, perut mual-mual. Sejak beberapa bulan terakhir, cuaca Hong Kong memang jiusap, dan aku tidak tahan melawan hawa dingin yang berkabut dan berembun ini.

Ayi mengajakku ngobrol. Sebenarnya aku hendak menolak, fake jerseys tapi tak enak untuk mengatakan tidak. Aku pun menurut saat Ayi mengajakku berjalan menuju bangku taman. Ayi membersihkan daun-daun gugur yang jatuh di bangku. Setelah bersih, ia menyuruhku duduk fake jerseys di sampingnya. Tak lama, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong plastik yang ditentengnya. Sebungkus besar cokelat dan beberapa macam aneka fake jerseys kue basah. Ia memberikannya padaku. Aku menolak, tapi ia memaksaku untuk menerimanya.

Sejak pertama bertemu dengannya, sudah kuduga ia orang yang baik. Siapa pun yang melihatnya, akan menaksir bahwa Ayi orang yang fake jerseys baik. Itu terlihat dari wajahnya yang tampak tenang dan selalu dihiasi senyum. Belum pernah sekali pun kulihat ia berwajah masam.

Ayi orang berkulit putih dan bermata sipit, namun tak suka berbicara keras seperti kebanyakan orang Cina lainnya. Selain ramah, ia juga tipe orang yang murah hati. Hampir setiap sore ia sengaja fake jerseys meluangkan waktu untuk turun menemui dan memberiku makanan. Ia tahu kalau bekerja ikut nenek, makanku kurang terurus.

Kadang aku sering heran dengan kelakuan baiknya itu. Bukan hanya kebaikan-kebaikan yang telah kusebutkan. Setiap Lebaran Cina datang, ia pun selalu memberiku laisi beramplop merah yang di dalamnya berisi dua lembar uang lima ratusan dolar Hong Kong. Angka yang terbilang banyak.

Ayi bukanlah majikanku, bukan saudara majikan dan bukan siapa-siapaku. Tapi ia selalu memperlakukan aku sangat baik, melebihi perlakuan majikanku sendiri.

***

Pembicaraan fake jerseys kami berlanjut panjang. Ayi bercerita banyak tentang dirinya, juga fake jerseys keluarganya. Ia fake jerseys menceritakan masa kecilnya, juga fake jerseys tentang fake jerseys segala hal yang berhubungan dengannya. Aku sebenarnya sudah sering mendengar ia bercerita tentang fake jerseys hal itu. Meski begitu, aku tak pernah menyela saat ia berbicara. Bagiku, menjadi pendengar setianya masih belum bisa membalas semua perlakuan baiknya terhadapku.

Ayi orang yang fake jerseys berpengalaman luas. Itu aku tahu saat ia bercerita tentang sejarah Negeri Beton ini. Darinya juga aku tahu, kenapa beberapa bulan yang lalu ribuan mahasiswa dan penduduk Hong Kong mengadakan demo besar-besaran di pusat kota. Mereka ingin Hong Kong menjadi negara demokrasi. Mereka ingin agar calon kepala pemerintahannya dipilih sendiri oleh rakyat Hong Kong, fake jerseys bukan di bawah aturan Cina.

Hong Kong adalah negara bekas jajahan Inggris yang dikembalikan pada Cina tahun fake jerseys 1997. Sejak saat itu, Hong Kong fake jerseys diperintah di bawah prinsip ”satu negara dua sistem”, dan itu mengubah Hong Kong menjadi pusat keuangan global.

”Kau tahu, kenapa Hong Kong menjadi negara yang spesial bagi Cina?”
”Kenapa, Ayi?”
”Karena Hong Kong adalah salah satu kota yang memiliki bursa saham terbesar kedua di Asia setelah Tokyo. Tempat ini menjadi penting sebagai salah satu pasar yang mengizinkan perusahaan dari Cina daratan untuk memperoleh dana. Hong Kong adalah salah satu gerbang investasi. Lalu, Cina adalah penerima investasi asing langsung terbesar kedua di dunia, dan hampir dua pertiganya mengalir melalui Hong Kong.”

Aku manggut-manggut mendengar cerita Ayi. Terkagum-kagum pada negeri yang dihuni oleh tujuh juta jiwa dengan luas tidak lebih dari seribu dua ratus kilometer persegi ini. Betapa hebatnya sumber daya manusia Negeri Bauhinia ini. Betapa mereka pandai sekali mengolah dan fake jerseys mengatur negerinya walau hanya memiliki lahan yang tidak sangat luas.

Ugh, tiba-tiba aku teringat negeriku sendiri. Bukan tentang kekayaan alamnya, melainkan tentang cerita-cerita kesengsaraan rakyat kecil yang semakin tertindas oleh mereka yang berduit. Juga tentang kasus-kasus korupsi yang fake jerseys merajalela, dan masih banyak kasus lain yang intinya hanya mementingkan perut sendiri dan keluarganya saja. Tragis! Tapi aku juga berdoa, semoga suatu saat Indonesia bisa bangkit seperti negara yang sekarang kutempati ini.

***

Setelah Ayi selesai bercerita tentang pemerintahan Hong Kong, giliran aku yang bertanya tentang hal lain. Suatu hal yang, dalam beberapa bulan ini, juga fake jerseys sangat meresahkan semua orang yang tinggal di Hong Kong, terutama aku, yakni tentang virus flu burung.

Ayi bercerita dengan sangat detail. Bukan hanya tahun, ia juga menyebutkan bulan dan tanggalnya. Berapa jumlah korban yang meninggal. Juga, bagaimana awal mula virus mematikan itu masuk ke Hong Kong. ”Lalu, kenapa virus ini hanya ada di Hong Kong saja, Ayi?” tanyaku, tak sabar ingin mendengar penjelasannya.

”Siapa bilang hanya di Hong Kong? Jangan salah. Di Cina lebih banyak yang meninggal.”
”Benarkah?”
”Iya. Hanya saja, pemerintah di sana tidak membolehkan media menyiarkan berita itu ke publik. Jadi, orang luar fake jerseys tidak pernah tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya di sana,” jawab Ayi dengan pandangan menerawang jauh.

Ketika cheap jerseys China bercerita tentang tema ini, kulihat Ayi lebih banyak menghela napas. Terkadang matanya berembun, menahan fake jerseys air bening.

***

Angka empat di jarum jam di tanganku sudah bergeser ke angka lima. Sudah satu jam aku bercengkerama dengannya. Kukira, tibalah waktunya pembicaraan itu diakhiri. Aku pun berpamitan pulang.

Aku berdiri. Namun, mendadak mataku berkunang-kunang dan secara reflek aku meraih pegangan bangku. Ayi turut berdiri, meraih tanganku dan memapahku berdiri. Tiba-tiba, tubuh tinggi langsing itu memelukku. Aku merasa ada cairan hangat yang jatuh di bahuku.

”Ayi, kau menangis?” tanyaku bingung.
”Aku tak bisa membayangkan jika anakku sekecil fake jerseys kamu harus berpisah dari orangtua dan sanak famili untuk hidup sendiri di negeri orang.”

Mendengar itu, aku tak bisa berkata dan berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menahan sesak yang semakin sesak cheap jerseys nfl dalam dada, ketika ia semakin mempererat pelukannya. Tiba-tiba aku merasakan seperti sedang dipeluk oleh ibuku. Saat sedang berbicara di telepon, Ibu selalu bilang rindu.

Mungkin, seperti inilah perasaan orangtua yang ditinggal jauh oleh anak perempuannya. Melihat Ayi seperti ini, aku mulai sedikit bisa memahami bagaimana perasaan Ibu. Tiba-tiba aku juga merindukannya. Aku rindu mendengar suaranya. Aku mencoba fake jerseys mengingat, sudah berapa bulan tak mendengar suaranya. Sepertinya sudah lama sekali aku tak menelepon Ibu.

Aku memang bukan tipe orang yang hatinya fake jerseys mudah tersentuh. Juga bukan orang yang mudah sekali merindukan seseorang, termasuk Ibu atau keluargaku. Tapi setelah apa yang baru saja dilakukan Ayi, entah kenapa, hatiku menjadi ciut.

Sepertinya Ayi dan Ibu memiliki perasaan yang sama saat merindukan anak perempuannya. Bedanya, jika Ibu merindukanku, ia masih bisa mendengar suaraku melalui udara beberapa bulan sekali. Namun, hal itu tak bisa dilakukan Ayi. Anak perempuan Ayi satu-satunya, yang seumuran denganku, telah pergi selama-lamanya. Ia meninggal sembilan tahun yang lalu akibat terkena flu burung.

Saat melihatku, Ayi selalu teringat pada anak perempuannya. Akhirnya aku paham, itulah alasan kenapa ia selalu berbuat baik padaku. Lalu, pertanyaan setengah permintaan yang Ayi sampaikan, membuatku merinding dan terdiam cukup lama, ’Maukah kau menjadi anak angkatku?’

Aku menatap Ayi cukup lama. Tak percaya dengan apa yang kudengar. Senja turun perlahan-lahan. Sinar matahari kemerahan mengintip di balik rerimbunan pohon yang daunnya mulai bersemi. ”Sore yang indah,” gumam Ayi, sembari tersenyum. (*)

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner