[CERPEN] Sebuah Percakapan

Prime Banner

Pulang adalah keputusan terbaik. Setidaknya kau masih bisa memikirkannya lagi setelah kau sampai di rumah dan bertemu kedua orangtuamu.

Oleh : Alif Febriyantoro*

Setelah hening yang begitu lama, sesudah ia menenggak habis minuman yang baru saja ia beli di Indomaret, wanita itu bicara lagi.

“Di dunia ini tidak ada yang pasti. Yang pasti adalah kita semua akan mati.”

Maksudmu?

“Kepastian itu fana!”

Lantas yang abadi?

“Aku juga tidak tahu!”

Kau ini bagaimana!

“Sudahlah. Kau tak perlu menggangguku lagi!”

Di saat seperti ini, sahabat yang kau punya hanyalah aku.

“Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”

Kau hanya perlu pulang.

“Pulang berarti aku menyerah kepada keadaan.”

Bodoh! Dari mana kau dapat teori seperti itu?

“Aku depresi, kau tahu, kan! Jadi, lebih baik kau tinggalkan aku.”

Aku tidak bisa. Sudah kewajibanku untuk selalu berada di dekatmu.

“Tapi semua ini tidak akan mengubah keadaan!”

Cobalah pikirkan apa yang sedang bergerak di dalam perutmu.

“Aku tidak pernah mengharapkannya!”

Ini semua ulahmu!

“Ini ulah dia! Laki-laki memang berengsek!”

Kalian berdua yang teledor! Padahal kondom sudah tersedia di mana-mana, tapi kalian masih juga egois.

“Sudah! Sudah! Jangan bahas soal itu!”

Kau masih saja egois. Mengakulah kalau kau juga bersalah.

“Tapi tetap saja laki-laki yang salah! Kalau saja dia mau bertanggungjawab, mungkin aku tidak akan depresi seperti ini!”

Kau tidak perlu memikirkan laki-laki itu lagi. Kau hanya perlu pulang dan mengakui kesalahanmu.

“Tidak bisa!”

Kenapa? Kau takut?

“Aku sudah mengecewakan kedua orangtuaku!”

Tapi bukan berarti mereka tidak bisa memaafkanmu.

“Percuma! Aku tidak bisa pulang. Tidak dalam keadaan sekacau ini!”

Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?

“Aku akan melakukan aborsi!”

Hei! Tidakkah kau ingat umur kandunganmu sendiri?

“Tapi masih bisa!”

Kau sungguh tidak punya rasa kemanusiaan! Kau lebih hina dari hewan!

“Coba bayangkan jika kau berada di posisiku!”

Tentu aku akan pulang. Dan semua masalah akan selesai.

“Seenaknya saja kau bicara! Tidak semudah itu!”

Jangan selalu cepat mengambil keputusan!

“Bukankah pulang juga bentuk dari keputusan?”

Pulang adalah keputusan terbaik. Setidaknya kau masih bisa memikirkannya lagi setelah kau sampai di rumah dan bertemu kedua orangtuamu.

“Aku sudah memikirkan semua ini dengan baik!”

Baik?

“Ya!”

Aborsi itu bukan tindakan baik! Itu adalah pembunuhan!

“Kau ini banyak bicara!”

Aku banyak bicara karena aku peduli denganmu.

“Seharusnya aku tidak menceritakannya kepadamu!”

Kau ini manusia! Setiap manusia pasti mempunyai masalah.

“Berhentilah mengguruiku!”

Lagipula siapa juga yang sedang mengguruimu?

“Kau bukan siapa-siapa!”

Kau juga bukan siapa-siapa!

“Lalu?”

Berhentilah sok kuat begitu!

“Aku memang kuat!”

Kau cengeng!

“Hei! Beginilah seorang wanita. Menangis itu menyembuhkan!”

Lagi-lagi kau berteori tetapi tidak sesuai dengan perilakumu!

Wanita itu melemparkan kaleng minuman yang sudah kosong ke tembok. Di luar, beberapa pelayan Indomaret mendengar. Tetapi sepertinya mereka tak berani untuk mendekat.

“Apa!? Kenapa kau melihatku seperti itu?”

Kau gila!

“Biarkan saja aku gila! Kau mau apa?”

Aku mau kau segera pulang!

“Kau ini benar-benar cerewet. Seperti ibuku saja!”

Itu karena ibumu peduli kepadamu! Aku pun peduli kepadamu. Aku sayang kepadamu.

“Omong kosong!”

Otakmu itu yang kosong!

Kini wanita itu mengembuskan napas. Seperti memburu seseuatu yang tidak akan pernah ia dapatkan.

Kau ini wanita. Kau tidak sekuat seperti yang kau kira!

“Kau juga wanita. Seharusnya kau mengerti perasaanku!”

Aku mengerti. Makanya aku menyuruhmu untuk pulang!

“Itu bukan mengerti namanya. Tapi menyudutkanku!”

Loh, bukankah di antara kita yang punya masalah adalah dirimu?

“Memang. Tapi bukan berarti kau bisa semena-mena terhadapku!”

Sudah kubilang berkali-kali, ini semua karena aku peduli kepadamu!

“Jika kau peduli seharusnya kau membantuku untuk menggugurkan janin ini!”

Tidakkah kau ingat aku sudah membantumu? Ketika kau selalu berusaha untuk menggugurkannya, aku selalu ada untukmu. Tapi apa yang terjadi? Sesuatu di dalam perutmu itu masih saja berusaha untuk hidup.

“Kau hanya diam dan melihat. Bukan berarti kau membantuku!”

Karena aku memang tidak setuju dengan apa yang telah kau lakukan selama ini!

“Kau bukan sahabat yang baik!”

Lihat dirimu sendiri! Kaulah yang tidak baik!

Wanita itu terdiam. Ia membuka ponselnya. Entahlah apa yang sedang dilakukannya. Tapi tiba-tiba air matanya mengalir lagi.

“Sebenarnya aku tidak menginginkan ini semua! Ada sebagian dari diriku yang memaksaku untuk terus merawat janin ini. Tapi sebagian dari diriku yang lain, lebih kuat memaksaku untuk menggugurkannya.”

Aku yakin kau tahu mana pilihan yang baik.

“Ya. Sepertinya bunuh diri adalah pilihan terbaik!”

Bodoh! Itu bukan pilihan.

“Justru ketika aku memilih salah satu dari pilihan tadi, itu berarti aku tidak memilih!”

Maksudmu?

“Ah, sudahlah! Percuma, kau tidak akan mengerti!”

Kau ini membingungkan. Lihat, air matamu itu tidak bisa membohongiku!

Wanita itu terdiam lagi.

“Kenapa kau menertawaiku, hah? Tidak ada yang lucu!”

Aku tertawa karena maskaramu yang berantakan. Lihatlah sendiri! Dan coba bayangkan apa yang akan orang-orang pikirkan tentangmu ketika mereka melihatmu dalam keadaan seperti ini.

“Aku tidak peduli!”

Tapi setidaknya kau harus peduli dengan dirimu sendiri!

“Sudahlah! Aku sudah muak dengan semuanya! Kepalaku seperti mau pecah!”

Kau hanya tidak bisa tenang. Cobalah ambil napas dalam-dalam lalu keluarkan perlahan-lahan.

“Kau ini sungguh menyebalkan sekali ya!”

Aku berusaha menenangkan dirimu. Karena aku tidak ingin kau melakukan sesuatu yang bisa merugikan dirimu sendiri.

“Sudahlah, aku mau pergi!”

Ke mana?

“Apa urusanmu? Sudahlah. Aku tahu apa yang harus aku lakukan!”

Hei… tunggu!

Tanpa mengucapkan selamat tinggal, wanita itu menyambar tasnya dan pergi begitu saja. Membanting pintu dan lenyap di baliknya. Menggapai tangannya saja aku tak mampu, apalagi harus mencegahnya untuk tidak pergi? Aku hanya bisa terdiam. Entah ke mana ia pergi, entah apa yang akan dilakukannya, dan entah kapan ia akan menemuiku lagi. Lantas apa yang bisa kulakukan, jika aku hanyalah cermin dalam sebuah toliet Indomaret? []

*Penulis merupakan anggota komunitas Takanta Situbondo. Telah menerbitkan 2 buku kumpulan cerpen dan saat ini tengah mempersiapkan buku ketiganya.

You may also like...