Prime banner

MAGETAN – ApakabarOnline.com – Kasus pekerja rumah tangga mencuri harta majikannya sering mewarnai berita media masa. Setelah dilakukan penyidikan, bahkan adapula yang naik hingga ke pengadilan, seringkali tuduhan tersebut tidak bisa dibuktikan, atau bahkan terkadang terbantahkan.

PRT menjadi satu-satunya orang yang selalu berada di rumah dan menjadi satu-satunya orang yang selalu membersihkan setiap sudut dan seluruh ruangan dirumah, PRT yang oleh majikan dan keluarga majikan tidak bisa diterima menjadi bagian dari keluarga mereka sedangkan PRT tersebut tinggal serumah dengan majikan, hingga paranoia – paranoia lain yang sering dijadikan dasar, seorang majikan menjadikan PRT sebagai orang pertama yang dituduh saat ada barang atau uang hilang.

Tragedi Vibrator Majikan, Begini Perkembangannya di Pengadilan

Pengakuan Asih, seorang mantan PMI Hong Kong asal Takeran Magetan, yang 8 tahun bekerja pada sebuah majikan di Hong Kong, pernah dua kali menjadi alamat tuduhan saat uang majikannya hilang.

Kepada ApakabarOnline.com, Asih mengaku sampai pernah di bawa ke kantor Polisi untuk diinterograsi. Namun dari dua kali peristiwa kehilangan, Asih pada akhirnya terbebas dari tuduhan, lantaran pelaku yang sebenarnya telah ditemukan.

“Pertama dulu suami majikan saya. Dia kan pulang pergi China-Hong Kong. Pas mau kembali ke China, tiba-tiba dia membawa uang milik istrinya yang saya tidak tahu dimana menyimpannya sebanyak HKD 500 ribu.” kenang Asih

Gara-Gara Ulah Qomariah, Konglomerat Dandy Lau Trauma Perkerjakan PMI

“Peristiwa kedua, majikan saya kehilangan uang sebesar HKD 300 ribu. Namun yang kedua ini tidak sampai membuat saya dibawa ke kantor Polisi, setelah majikan saya sempat mengatakan bahwa hanya saya orang satu-satunya yang berada di rumah” tambahnya.

Menurut pengakuan Asih, pada kejadian kedua, yang mengambil uang milik majikannya ternyata adalah anak laki-lakinya sendiri yang kecanduan judi.

Suasana demikian, menurut Asih sangatlah tidak nyaman lantaran human relationship antara seoorang PRT dengan majikannya dibayang-bayangi kecurigaan dan prasangka buruk. Asih pernah berpamitan pada majikannya untuk ngebreak kontraknya karena tidak betah dengan majikannya yang telah 6 tahun memperkerjakan dia, tetapi masih saja mencurigai Asih setiap ada uang hilang.

Permintaan Asih untuk ngebreak kontrak inilah rupanya yang membuat mata hati majikannya terbuka dan menyadari apa yang telah dia lakukan selama ini salah. Menciderai perasaan Asih. Dan akhirnya, Asih kontrak Asih berlanjut hingga 8 tahun lamanya.

Pengalaman Asih, sebenarnya juga menimpa beberapa pekerja migran Indonesia lainnya. Bukan saja di Hong Kong. Hampir di banyak negara penempatan, PMI sering dijadikan alamat menjatuhkan tuduhan sebagai pelaku pencurian saat barang/uang majikan hilang.

Derita Evy, Anak PMI Yang Dinikahi Siri Kyai, Racuni Ketiga Anaknya Sampai Mati

Saat dimintai komentar, Psikolog Agus Setyono menyoroti hal demikian sebagai dampak dari cara pandang individu dalam hal ini majikan yang merasa berada pada posisi superior, memandang individu yang dalam posisi inferior.

“Dalam posisi superior sebagai pemberi pekerjaan atau uang, majikan melihat pembantu sebagai individu inferior yang memerlukan uang darinya karena tidak punya uang. Nah, menggaris bawahi tidak punya inilah, celah psikologis kenapa majikan gampang menuduh pembantunya saat ada barang hilang. Ini salah satu saja ya” terangnya.

Agus menyarankan, untuk menghindari tuduhan maupun menghindari buruknya hubungan antara pekerja rumah tangga dengan majikan, harus ada upaya bersama yang dilakukan oleh kedua belah pihak.

“Family therapy, ini jawabannya. Mau tidak mau, suka tidak suka, majikan harus menganggap pembantunya sebagai bagian dari keluarga. Baru kepercayaan, sikap, dan sudut pandang positif yang memanusiakan bisa dimulai” pungkasnya. [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner