Prime banner

oleh: Rainy Okkie – KPKers HK

PojokVictoryGendhis Bagian pertama

”Mungkin kamu lupa padaku, tapi aku tak akan pernah lupa wajahmu. Wanita yang sudah menghancurkan hubunganku dengan Doni,” hardik Selfi dengan nada tinggi, membuat Gendhis kembali sadar dari nostalgia yang tak ingin ia rasakan lagi. Spontan, orang-orang yang berdiri di depan gedung menengok ke arah mereka.

”Alhamdulillah, bila kamu sudah terlepas dari maksiat itu.” Gendhis masih menjawab dengan lembut, meski air mata mengalir deras di pipinya.

”Ah, sok suci kamu. Kamu tahu itu maksiat, tapi kamu lakukan,” Selfi mengumbar emosinya lebih menjadi.

”Iya, dan sekarang aku sudah taubat, dan berjanji tidak akan melakukannya lagi,” ucap Gendhis terdengar parau.

Gendhis tertunduk, tak berani membuka mata. Seakan semua mata tengah menghardiknya. Semua orang tengah mengiyakan apa yang Selfi beberkan tentang dirinya. ”Oh, ternyata Ibu Gendhis dulu perusak rumah tangga orang, dia wanita penghibur, selama ini dia hanya memakai topeng….” Kalimat-kalimat itu seakan terdengar jelas menghakiminya. Sedangkan Selfi masih terus mendakwanya sebagai manusia bertopeng, ”Pelacur berbalut busana muslim.”

Astaghfirullahhaladzim,” terdengar suara wanita tua yang seketika mengheningkan suasana.

”Ada apa ini, Ukthi?” Wanita itu menepuk pundak Gendhis beberapa kali.

”Gendhis,” tepuknya lebih keras.

”Astaghfirullah, iya Umi.” Gendhis memeluk wanita yang ia panggil sebagai Umi dan membenamkan tangisnya dalam pelukan wanita yang sedikit lebih tua darinya itu.

”Asal kalian tahu, dia itu Anggi, dia itu pelacur, dia yang menghancurkan hubungan…”

”Cukup,” teriak Umi menghentikan Selfi yang masih terbakar emosi dan ketidakpuasan melihat Gendhis. Orang-orang yang sebelumnya berbisik-bisik pun seketika diam.

”Maaf, Mbak ini siapa? Apa maksud Mbak mendakwa Gendhis seperti itu?” Bantah Umi pada Selfi yang masih menggerak-gerakkan bibirnya. ”Dan kalian, kenapa kalian hanya diam menyaksikan perdebatan sesama muslimah yang sungguh tidak patut ini?” tegas Umi pada orang-orang yang hanya berdiri mematung.

”Maaf Umi, kami pun tak berani berkata apa-apa melihat dia yang tiba-tiba menghardik Mbak Gendhis begitu. Mungkin itu masalah pribadi mereka.”

”Sebagai seorang muslimah, seharusnya kita menjadi pribadi yang lemah lembut dalam tutur dan tingkah laku. Bukankah kita bisa membicarakannya secara kekeluargaan?” Dengan bijak Umi menjelaskan.

”Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin menekankan kepada dia agar tidak membodohi orang lain dengan topengnya.” Selfi menudingkan jarinya ke arah Gendhis yang masih dalam pelukan Umi.

Astaghfirullah, topeng apa yang kamu maksud? Mungkin Gendhis di masa lalu seperti apa yang kamu bilang, namun sebuah anugerah karena Gendhis sekarang sudah bertaubat. Semoga Gendhis menjadi hamba yang dicintai Allah dan diterima taubatnya.”

Suasana hening, tak ada yang berani berkata satu patah kata pun. Suara tangis Gendhis pun mereda. Gendhis beranjak dari pelukan Umi lalu menghampiri Selfi yang berganti menjadi pusat perhatian.

”Selfi, memang dulu aku pelacur, bahkan mungkin aku lebih hina dari pelacur. Dulu aku membutakan mata dari hadirat Allah atas perintah dan larangan-Nya, menulikan telinga dari sekian panggilan kasih-Nya.”

Semua terdiam memandang Gendhis mengucapkan kata demi kata yang terucap dengan tenang dan lembut. ”Cinta yang dulu aku agungkan adalah cinta kepada maksiat, yang membuatku terlena pada kepalsuan dunia, dan kamu datang memberitahuku akan luka hati dan jiwa yang ternyata kubiarkan menganga dan menggerogoti nurani. Kamu datang membawa pengakuanmu, memperlihatkan luka yang waktu itu tersamarkan, namun akhirnya aku sadar aku harus mengobati sakit jiwaku itu.” Gendhis berjalan mendekati Selfi yang berpura tak mendengar. Diraihnya tangan Selfi yang terlipat di dadanya, dan memaksa untuk memandangnya.

”Dulu aku pergi ke sini untuk melarikan diri. Lari dari kenyataan yang belum bisa aku hadapi. Aku tak sanggup bertahan di sana, karena aku akan terjerumus lebih dalam lagi. Dan beliau…,” Gendhis menengok ke arah Umi, ”Dia adalah guru dan ibu keduaku. Dia yang membantu dan membimbingku kembali ke jalan Allah, dengan bertaubat dan memperbaiki diri. Terima kasih, Fi.” Gendhis memeluk Selfi dengan penuh kasih sayang.

Selfi yang sebelumnya seperti terbakar emosi tak berkata apapun, apalagi melawan dan menolak pelukan Gendhis. Tak lama, air mata pun jatuh dari kelopak mata Selfi, membasahi pundak Gendhis.

Selfi membalas pelukan Gendhis dan berkata, ”Aku yang harusnya minta maaf padamu Gendhis.”

”Sudah kumaafkan. Kamu boleh memanggilku Anggi.” Gendhis melepas pelukannya, lalu tersenyum dan menghapus air mata Selfi dengan kedua ibu jarinya.

Semua mata yang menyaksikan adegan itu menangis haru. Betapa hidayah Allah bisa datang di mana saja, bahkan di Hong Kong yang jauh dari mengenal agama. Seusai salat maghrib berjamaah dengan beberapa orang yang masih tertinggal dan menyaksikan kejadian itu, untuk pertama kalinya Gendhis berbicara tentang ilmu agama yang dipelajarinya setelah sebelumnya ia bercerita tentang perjalanan hidup yang membawanya bercita-cita menjadi hamba Allah yang diterima taubatnya. (*)

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner