Prime banner

Penyet ria

Seorang sahabat di tanah perantauan berkata, di akhir dunia manusia berjalan sendiri-sendiri. Mempertanggungjawabkan tingkah polah ke hadirat-Nya, sendiri-sendiri pula. Tidak ada perantara, calo, ataupun kerabat yang mendampingi. Dan, diri sendirilah yang menentukan arah ke mana kehidupan itu berjalan.

Sahabatku itu bernama Adly. Ia seorang mahasiswa Mesir yang sedang menjalani semester akhir. Di Mesir ini, aku hanya bekerja, bekerja, dan bekerja. Meski usia masih mengharuskan aku untuk mencecap bulir-bulir ilmu, namun aku lebih memilih bekerja yang bagiku bebas berekspresi apa pun yang kumau.

Setiap perjalanan hidupku adalah pengalaman. Setiap langkah adalah pencarian apa sebenarnya makna hidup yang pernah dituturkan Adly waktu itu. Setelah tiga tahun di Mesir, aku memutuskan untuk pulang ke Tanah Air.

”Apa langkah selanjutnya yang akan kamu lakukan, Dinda?” suara Adly bergetar. Sosok yang selalu mengayomiku selama berada di negeri para nabi ini, dia pula yang membelaku saat berandalan Pasar Nasr City mengganggu. Baginya, wanita itu harus dimuliakan. Aku menganggapnya berlebihan. Ia hanya tersenyum dan berkata, ”Kamu akan mengerti di kemudian hari.”

”Entahlah… Aku hanya ingin pulang dulu, melepas penat, dan merenung. Setelah itu akan kupertimbangkan ke mana arah kaki ini menuju,” jawabku asal. Aku tidak ingin ia khawatir. Meski ia menganggapku adik, toh aku bukan adiknya!

”Apa pun itu, yang penting kamu hati-hati. Semoga kita bisa bertemu di Indonesia kelak. Amiin.” Adly mengucap selamat tinggal cheap jerseys China dan melambaikan tangan perpisahan.

***

Jenuh dengan kehidupan desa, aku mencoba melanglang buana lagi. Kali ini, Hong Kong tujuanku. Menilik kisah para tetangga yang sukses di negara bekas jajahan Inggris itu, semangat untuk ke sana makin membara.

Setelah urusan pendaftaran dan administrasi selesai, aku mulai berlatih bahasa dan tata kerja di Hong Kong. Empat bulan di PT, akhirnya aku pun ikut burung besi ke tempat Andy Lau berada.

Pekerjaan bisa kujalani dengan seksama. Majikan pun rajin mengajariku tata krama dan memasak ala Cina. Alhamdulillah, majikan kian baik. Namun, tidak baik dengan pergaulanku di sini. Makin liar dan nakal. Aksesori ala preman nemplok di badan. Aksesori feminin hanya sesekali. Ah, bagai menikmati surga dunia saja.

Di sini semua tersedia. Semua tampak bahagia dengan gaya-gaya aspalnya. Hampir saja aku berkenalan dengan nikotin dan whisky, namun sebuah buku menusuk tajam hatiku. Menggedor keras bagian terdalamnya. Seketika cheap nfl jerseys aku terkesiap, menekuri kembali tujuan-tujuan hidup. Akhirnya, aku jatuh cinta dengan penulis dan bukunya itu.

Aku berharap bisa memiliki sesosok pendamping hidup seperti dia. Namun, terkadang aku masih bimbang dengan keadaan. Apalah aku ini? Hanya seonggok daging yang kurang vitamin, kurang ilmu, dan ah…semoga doaku didengar-Nya. Amin.

Aku hampir kehilangan napas, tenggelam dalam sungai yang deras. Kulihat penulis itu mencoba menyelamatkanku dan membawa tubuh menggigil ini ke tepian. ”Kalau tidak bisa berenang, jangan mencoba-coba masuk ke kedalaman air, Dinda,” tuturnya lembut.

”Aku hanya mencarimu. Aku tahu engkau tidak akan membiarkanku tenggelam di sungai ini,” jawabku seraya memeluk tubuhnya, erat.

”Jangan bercanda, Dinda. Jangan lampiaskan semuanya pada dirimu. Kamu bisa sakit. Ingat, jalan kita masih panjang.” Ia membiarkanku memeluknya. Air mata ini kian deras, tergugu dengan petuah ajaibnya.

”Jangan tinggalkan aku, please!” rengekku.
”Aku tidak akan meninggalkanmu, Din. Yakinlah dengan harapan dan berjuanglah untuk meraih mimpi-mimpimu. Aku menunggumu di masa depan,” tuturnya seraya pergi, lalu menghilang.

”Tungguu…!” teriakku. Aku terbangun. Ya Rabb, aku bermimpi. Peluhku masih menetes. Air mataku pun belum mengering. Mimpi itu seolah nyata, yang kemudian menjadi pengantarku menjadi wanita berbudi mutiara. Ya, aku ingin seperti mutiara. Yang indah dipandang, namun susah mendapatkannya.

Goresan mimpi itu dengan sangat tajam menggores sepotong hatiku. Aku memang sempat tenggelam dengan rutinitas hura-hura, namun pergaulan menyesatkan itu harus kutenggelamkan sebelum terlambat. Hidup untuk berguna, bukan dipergunakan semaunya. Akhirnya, kata-kata Adly mampu kupahami di saat ini. Terima kasih Tuhan atas hadirnya pahlawan hati itu.

***

Dua bulan lagi kontrak kerjaku genap empat tahun. Aku berniat kembali ke Tanah Air. Meretas masa depan dengan keluarga yang sempat kusiakan. Ada kabar kalau Adly juga sudah di Indonesia. Duhai, cheap nhl jerseys free shipping seperti apakah dia kini? Semasa di Mesir aku selalu mengacuhkannya, tak sempat pula menikmati pesona wajahnya. Karena waktu itu aku masih wholesale jerseys menganggap orang-orang yang sekolah agama, tafsir atau apalah itu, sebagai orang-orang yang menyia-nyiakan hidup. cheap jerseys China

Namun, setelah aku sadar agama itu petunjuk dan hidayah, maka aku dengan sendirinya mengerti bahwa hidup itu memang harus digunakan sebaik-baiknya. Mengumpulkan keping-keping pahala menuju kehidupan hakiki. Majikanku ikut senang dengan pilihan dan perubahanku.

”Aku bangga padamu, Dinda. Dari mulai tidak bisa kerja, tidak bisa bergaul, sampai tidak bisa berbuat baik, hingga bisa kerja, bisa bergaul, dan bisa berbuat baik. Pesanku setelah di Indonesia, kamu tetap seperti ini. Jangan ikut-ikutan yang tidak-tidak. Yakinlah, kamu bisa dewasa tanpa harus seperti mereka,” pesan Nyonya begitu membekas di hati. Makin lengkaplah goresan hati ini. Air mata mengalir tanpa diminta.

”Terima kasih, Nyonya. You’re the best too,” jawabku sesenggukan.

Dua minggu sebelum pulang, aku mendapat surat dari Adly. Desir hatiku meronakan pipiku. Majikan memperhatikan dengan seksama, tanpa kedip.
”Ehem…mau pulang saja masih nulis surat? Jangan-jangan surat lamaran, Dinda,” majikan lelaki menggoda.

”Eh… Saya akan membukanya di kamar. Terima kasih, Tuan.” Dengan http://www.cheapjerseysgo.com langkah tergesa, aku menuju wholesale nfl jerseys kamar. Mencoba duduk dengan tenang, merobek surat itu dengan gemetar. Kira-kira apa isinya, ya?

Assalamu’alaikum, Dinda…
Semoga Allah swt senantiasa melindungimu.
Aku menunggumu, di sini…
Dengan sekeping hati yang engkau bawa pergi.
Wassalam,
Adly

Hanya itu isinya. Padat dan singkat, namun mampu menggores hatiku yang mencoba melupakannya. Terima kasih, Adly. Terima kasih, Cinta. Cinta itu memahami dan melindungi. Aku sekarang mengerti arti senyumnya waktu itu. Ya, tunggu aku!

Causeway Bay, 030315

Terima

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner