Prime banner

SURABAYA – Wajah dunia pendidikan Indonesia kembali tercoreng dengan aksi kekerasan yang mengakibatnya nyawa melayang. Budi, seorang guru kesenian di SMAN 1 Torjun, Sampang meninggal diduga akibat dianiaya siswanya sendiri. Kini, terduga pelaku berisial H, kelas XII telah diamankan Polsek Torjun.

Budi menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD dr Soetomo Surabaya. Kepala Dinas Pendidikan Jatim Saiful Rachman membenarkan kejadian tersebut. Pihaknya mengucapkan duka cita terhadap korban.

“Innalillahi wa inna ilayhi raji’un, Seluruh jajaran Dinas Pendidikan menyampaikan ikut berduka cita,” katanya.

Saiful mengaku sudah mendengar kejadian tersebut dan informasi kronologis kejadian. Namun dia tidak mau menjelaskan sebab kematian korban. Untuk mendapatkan informasi yang lebih, Saiful akan langsung datang ke lokasi untuk mendengar langsung dari pihak sekolah, siswa maupun kepolisian terhadap peristiwa yang dianggap cukup serius di dunia pendidikan Jatim ini.

“Saya akan jelaskan secara rinci sepulang dari Sampang. Sebab bila saya jelaskan sekarang tidak obyektif malah subyektif sebab hanya keterangan sepihak,” katanya.

Dia juga meminta semua pihak untuk menahan diri, khusus siswa dan guru di SMA Torjun.

“Serahkan ke pihak kepolisian. Sekali lagi atas nama Kepala Dinas Pendidikan Jatim, sangat prihatin atas peristiwa ini. Selain itu, saya instruksikan seluruh sekolah SMA dan SMK se Jatim untuk mengajak siswanya mendoakan agar almarhum diterima di sisi Allah SWT, diampuni dosa-dosanya dan keluarganya diberi kesabaran,” sambungnya.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Timur Komisaris Besar Frans Barung Mangera membenarkan peristiwa ini saat dimintai konfirmasi sejumlah awak media. Frans menuturkan, berdasarkan keterangan yang diperoleh Frans, peristiwa itu terjadi pada Kamis (1/2) sekitar pukul 13.00 WIB.

“Menurut keterangan Kepala Sekolah SMAN 1 Torjun, Amat, insiden bermula saat Budi sedang memberikan materi pelajaran seni lukis di ruang kelas.” terangnya

“Saat itu, siswa yang beralamat tinggal di Dusun Brekas, Desa Torjun, Kecamatan Torjun, Sampang tersebut terlihat tidak mendengarkan pelajaran dan malah mengganggu dengan mencoret-coret lukisan teman-temannya,” kata Frans, Jumat (2/2).

Melihat hal itu, Budi kemudian menegur HI. Namun, teguran itu tidak dihiraukan. HI justru terus mengganggu teman-temannya. Budi lalu mengambil tindakan dengan mencoret pipi HI menggunakan cat lukis.

Namun, HI tidak terima dengan tindakan Budi dan langsung memukulnya. Keduanya pun dilerai oleh siswa. Budi dibawa ke ruang guru untuk menjelaskan duduk perkaranya kepada Amat.

Setelah mendengarkan penjelasan dan tidak melihat luka di tubuh Budi, Amat mempersilakan guru kesenian itu untuk pulang lebih awal.

Berdasarkan keterangan Amat, HI tergolong buruk, bandel, dan bermasalah dengan hampir semua guru, serta punya banyak catatan merah di bagian Bimbingan Konseling (BK).

Tidak lama kemudian, Amat mendengar kabar bahwa Budi mengeluh sakit pada bagian lehernya. Selang beberapa lama, Budi kesakitan dan tidak sadarkan diri atau koma. Dia langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo, Surabaya.

Polda Jawa Timur, kata Frans, telah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Sampang Jufri Riady dan diperoleh informasi bahwa Budi dalam kondisi sangat kritis. Menurut diagnosa dokter Budi mengalami mati batang otak atau semua organ tubuh sudah tidak berfungsi.

Budi dinyatakan meninggal dunia Kamis (1/2) sekitar pukul 21.40 WIB.

Polda Jawa Timur kemudian mengamankan HI guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti aksi balasan dari pihak keluarga Budi. Langkah ini, menurut Frans, juga mengantisipasi HI melarikan diri untuk menghindari proses hukum.

Polisi akan mengambil langkah penanganan khusus terhadap HI sesuai Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Salah seorang warga di Torjun yang enggan disebut namanya, menurutkan kepada jurnal madura, perihal latar belakang HI. Kesehariannya, HI merupakan anak yang kurang pengawasan, lantaran orang tuanya pergi keluar negeri menjadi pekerja migran.

“Dia ini tidak mendapat perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya. Sebab kedua orang tuanya jadi TKI. Kalau uang dia punya, makanya gaya pergaulan dia ini selalu mengandalkan materi kiriman orang tuanya.” jelasnya. [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner