Prime banner

Judul di atas, “Jangan Pernah Remehkan Indonesia” lebih kurang merupakan bagian dari ungkapan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, ketika menggalang pembangunan fisik dan infrastruktur seperti diperbesarnya Pos Lintas Batas Negara beberapa waktu lalu.

Ungkapan Jokowi itu, bukan secara khusus ditujukan kepada Malaysia atau negara tetangga tertentu, tetapi kepada siapa pun yang mungkin selama ini meremehkan Indonesia.

Malaysia yang selama ini mungkin sering usil dengan Indonesia, entah itu dilakukan secara sengaja atau tidak, pasti merasa agak kaget atau ketar-ketir dengan ungkapan itu.

Dan banyak pengamat mengatakan bahwa sikap tegas Presiden Jokowi baik dalam kata-kata maupun implementasi kerja dengan membangun Pos Lintas Patas Negara tersebut benar-benar bisa menimbulkan rasa takut pada seluruh dunia.

Setidaknya, realitas yang dihadapi Indonesia yang seringkali diremehkan oleh negara tetangga bisa teratasi dengan munculnya pos dengan penjagaan dan keamananan yang superketat.

Meskipun dalam bingkai politik internasional, sebuah negara tidak serta merta bisa dihormati oleh negara lain kalau di dalam pemerintahan selalu terjadi konflik tajam.

Presiden Jokowi, baik lewat ungkapan maupun dengan sikap dan kinerjanya itu ingin menunjukkan bahwa bangsa dan negara Indonesia ini besar sehingga harus dihormati. Lagipula, sepanjang sejarah negeri ini, Indonesia selalu menghormati bangsa mana pun di dunia, terutama negara-negara tetangga dan serumpun seperti Malaysia, Singapura, Filipina, bahkan juga dengan Australia.

 

Lagi-lagi Malaysia

Dari semua negara tetangga yang selama ini seperti tidak pernah berhenti, mengganggu, senang usil, atau selalu “meremehkan” Indonesia adalah Malaysia.

Keinginan Malaysia yang terus usil Indonesia itu, mungkin karena faktor historis-psikologis dalam dunia politik kedua negara tetangga ini. Itu dimulai dari zaman kemerdekaan dulu atau di era Presiden Bung Karno dengan istilah Ganyang Malaysia-nya yang benar-benar membelah langit politik Malaysia.

Dan sejak saat itu sampai sekarang, entah sudah berapa kali konflik antara Malaysia dengan Indonesia tercuat. Indonesia selalu berada di pihak yang diremehkan dan dilecehkan; mulai dari masalah perbatasan, masalah olahraga, hingga masalah Buruh Migran Indonesia dan lain-lain.

Kini, dalam acara perhelatan SEA Games Kuala Lumpur 2017, Malaysia kembali bikin ulah dengan memuat gambar bendera Merah Putih yang terbalik, menjadi putih-merah. Kesalahan fatal yang dilakukan oleh Malaysia itu dengan cara memuat gambar bendera Merah Putih yang terbalik, pada buku cendera mata pembukaan SEA Games Kuala Lumpur 2017.

Malaysia sebenarnya sudah tahu kalau bendera itu merupakan simbol bangsa yang sangat dihormati dan begitu sakral bagi Indoenesia. Pada bendera itu pula terpatri harga diri bangsa Indonesia.

Atas kesalahan itu, Indonesia langsung melancarkan protes keras, baik protes Menpora melalui Twitter, pernyataan Presiden, maupun nota protes diplomatik Menlu Retno LP Marsudi.

Sebagai tindak lanjut dari protes itu, Malaysia menghentikan peredaran buku itu dan mencetak buku baru sebagai pengganti. Selanjutnya, pemerintah Malaysia pun telah melakukan permohonan maaf yang disampaikan Menteri Belia dan Sukan Malaysia Khairy Jamaluddin yang bertemu Menpora Imam Nahrawi, Minggu (20/8) siang, di Hotel Shangri-La Kuala Lumpur, Malaysia. Selain menyampaikan maaf secara lisan, Khairy juga menyerahkan surat permohonan maaf dari Pemerintah Malaysia.

Masalahnya, apakah dengan meminta maaf secara resmi dari pemerintah Malaysia terhadap Indonesia itu serta merta dianggap selesai, dan masalahnya juga selesai sampai di situ? Tentu tidak segampang itu. Karena masalahnya juga secara sosial, politik, ekonomi, juga budaya, tidak sesederhana itu.

Kalau masalahnya diselesaikan sebatas minta maaf, jangan-jangan besok-besok dibikin atau diusil lagi, siapa tahu yang lebih aneh dan lebih parah lagi. Ngeri atau lucu, bukan? Lalu, bagaimana?

Perlu komitmen dan sanksi politik? Kini, dibutuhkan sebuah komitmen politik yang dibingkai oleh semacam sanksi politik. Ini

penting, jika tidak, besok-besok akan dibuat lagi, lagi dan lagi, dan seterusnya.

Dalam psikologi sosial, orang yang sudah biasa dan sudah senang usil, pasti akan cenderung untuk melakukan tindakan usil lagi.

Okelah, seperti kata-kata yang disampaikan oleh Presiden Jokowi ketika membangun infrastrukur negeri ini, bahwa jangan meremehkan Indonesia. Karena Indonesia merupakan sebuah negara besar. Tetapi, kebesaran negara juga tidak bisa hanya ditakar dengan pernyataan.

Negara besar harus ditampilkan kebesarannya dengan keberanian dalam membangun komitmen politik antara negara.

Inilah yang sebenarnya ditunggu oleh anak-anak bangsa ini. Bangsa besar, perlu pemimpin besar. Pemimpin besar harus terpancar dari bangunan-bangunan komitmen politik yang besar pula dan tegas.

Iya, kita berharap. [Penulis Thomas Koten]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner