Prime banner

HONG KONG – Bisnis money game dengan janji menggiurkan kembali beredar di kalangan pekerja migran Indonesia (PMI). Sri adalah salah seorang korban dari bisnis yang dikenal dengan nama International Electrotechnical Comission (ILC). ILC disebut telah mengecewakan banyak member-nya, baik di Indonesia maupun di kalangan PMI.

Sri, PMI asal Malang, mengaku sangat kecewa dan menyesal sudah mengikuti jejak temannya. Mengutip keterangan Sri, ia pertama kali mengenal ILC dari N, teman yang setiap hari bertemu di Masjid Tsim Sha Tsui (TST). Karena sudah saling mengenal, N bercerita bahwa dirinya mengikuti bisnis yang sangat besar keuntungannya. Kata N, bisnisnya sudah balik modal. Sekarang tinggal memetik keuntungan setiap bulan lewat dana yang langsung masuk rekeningnya.

Bertahun Tahun Kerja Jadi BMI, Nabung Di Koperasi “MAS” Uang Tidak Bisa Kembali

September 2016, N memasukkan modal Rp 40 juta dan setiap bulan kembali ke rekeningnya sebesar Rp 10 juta. ”Artinya, selama empat bulan, modal awalnya sudah kembali dan sisanya tinggal menunggu keuntungan yang akan masuk rekening setiap bulan sebanyak Rp 10 juta,” cerita Sri.

Mendengar cerita N, Sri tertarik dan langsung menelepon Ririn alias Rintani, yang bertugas merekrut nasabah atau member di Hong Kong. Ririn lantas memberikan nomor rekening seseorang yang berada di Indonesa atas nama Beny. Sri kemudian mentransfer Rp 10 juta ke rekening Beny pada Oktober 2016.

Satu bulan berikutnya, keluarga Sri mengabarkan, uang sudah masuk ke rekening Rp 2,5 juta, begitu juga pada bulan Desember. Mendengar kabar uangnya benar-benar cair, Sri makin percaya bahwa ini bisnis nyata. Sri pun lalu bercerita kepada Siti, teman yang sama-sama berasal dari Malang.

Siti, yang sudah 15 tahun menjadi PMI, awalnya tidak percaya terhadap setiap bisnis yang berbau multi level marketing (MLM). Namun karena cerita datangnya dari sahabat sendiri, Siti mulai ragu pada pendiriannya. Sri kemudian memberikan nomor telepon Siti ke Ririn. Ririn lantas menelepon Siti dan menceritakan sepak terjang ILC yang sebelumnya bernama Compact 500. Ririn bercerita, ILC adalah bisnis nyata di bidang pembuatan helm, garmen, properti, kafé, resto, dan lokomotif.

Korban Mezzo Disarankan Menggugat Berjamaah

Ririn bercerita dengan antusias. PMI asal Jombang yang bekerja di Tsuen Wan ini bahkan menjanjikan akan mengembalikan dengan uang pribadi jika ada member yang ingin mengundurkan diri. Ririn menambahkan, secara pribadi dirinya telah setor modal ke ILC sebesar Rp 200 juta dan setiap bulan langsung masuk rekening sebesar Rp 50 juta. Adiknya yang di Korea Rp 200 juta, adik dan keluarga di Indonesia paling sedikit sudah setor Rp 100 juta. Kata Ririn, banyak PMI di Hong Kong yang sudah bergabung di ILC dengan pengembalian modal langsung 25 persen selama 11 bulan dan masih ada sisanya.

Siti akhirnya tertarik dan menyetorkan uang ke rekening yang didapat dari Ririn. Januari 2017, Sri mentranfer ke saudari Yuliana di Indonesia, adik Ririn sebesar HKD 45.000. Selanjutnya, setiap member yang sudah setor uang dimasukkan dalam grup ILC di WhatsApp. Dalam grup tersebut selalu ditampilkan nama dan jumlah modal yang disetor ke ILC, juga disebutkan siapa saja yang keuntungannya cair dan kembali masuk ke rekening.

Namun, selang satu minggu berikutnya, muncul keganjilan di grup. Anton, sosok yang disebut-sebut sebagai bos ILC, ditangkap polisi. Sementara, setiap kali dikontak, Beny tak pernah merespons dengan berbagai alasan. Member umumnya menanyakan, kenapa tidak ada lagi uang masuk ke rekening seperti yang dijanjikan. Hal itu terjadi di hampir semua member.

Goro-Goro Kampung Segoro

Namun, dengan berbagai cara, Ririn masih gencar menyarankan member untuk memasukkan modal lagi ke ILC agar modal yang lama bisa cair. ”Kalau ada member yang tidak mau lagi menambahkan modal ke ILC, uang yang lama akan hangus,” kata Ririn, seperti dikutip Sri.

Ketika ada member yang memprotes sikap dan tindakan Ririn, Ririn tidak segan-segan memblokir dan mengeluarkannya dari grup. Nomor telepon member pun langsung diblokir dari ponsel pribadinya.

Mengutip keterangan sejumlah member, Ririn hanya bikin janji dan janji terus terkait kapan cairnya modal member yang sudah tertanam di ILC. Sementara, berita yang berkembang di kalangan member, ILC sekarang sudah dilimpahkan ke sebuah koperasi di Jakarta, namun sampai sekarang tetap belum ada kabar kapan dana mereka bakal cair.

”Ririn bilang, member yang ingin modalnya cair harus membayar lagi Rp 600 ribu. Yang tidak membayar, tidak akan cair modalnya. Saya sudah bayar, tapi selalu dijawab dengan janji dan janji,” ungkap Sri, diamini member lain yang tak mau disebut namanya. Korban ILC, di Indonesia maupun Hong Kong, jumlahnya banyak. Mulai dari ibu rumah tangga sampai pegawai pemerintah.

Informasi terkini yang diperoleh Apakabar Plus menyebutkan, Ririn saat ini sudah tidak pernah mengangkat telepon dan tidak merespons pesan via WhatsApp dari para anggota. ILC bisnis bodong? [emma]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner