Prime banner
Ilustrasi : Kompas.com
Ilustrasi : Kompas.com

***

            Awalnya aku tidak pernah menyadari dampak dari kecelakaan yang menimpaku akan berdampak sefatal ini. Setelah kehilangan fungsi ereksi, aku kehilangan istri yang otomatis juga kehilangan keutuhan rumah tanggaku. Sebagai pelarianku, disamping mencurahkan perhatian dan kasih sayang untuk kedua putriku, aku berkompetisi untuk terus meningkatkan karirku sebagai guru yang sudah 6 tahun ini berstatus PNS dengan bergabung pada sebuah  civitas akademik untuk terus mengasah diri. Sebentar lagi tesis akan segera selesai. Mudah-mudahan aku bisa mendapat kesempatan hingga bisa bisa segera menyelesaikan desertasi.

***

            Obsesiku menjadi seorang guru dengan status PNS yang membutuhkan waktu hampir 10 tahun menunggu diangkat berdampak pada perekonomian rumah tanggaku yang pada waktu itu sudah dikaruniai 2 orang anak perempuan. Kebutuhan semakin meningkat, sementara pendapatanku sebagai guru yang pada waktu itu masih berstatus honorer sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tanggaku. Terutama kebutuhan gizi kedua orang putri kami. Kedua orang tuaku tak bosan-bosannya memberi suplai finansial untuk menutupi keterbatasan penghasilanku. Kondisi demikian membuat kami menjadi tidak nyaman, merasa tidak mandiri.

            Selama aku menjadi guru honorer, istriku berkali-kali berupaya untuk ikut berperan menambah income finansial rumah tangga kami agar setidaknya menurunkan beban ketergantungan pada kedua orang tuaku. Upaya yang dilakukan istriku selain beberapa kali mencoba memulai wira usaha mandiri, juga beberapa kali mencoba melamar pekerjaan. Mulai dari sales asuransi hingga pialang tenaga kerja ke luar negeri. Namun karena kompensasi finansial dari sederetan upaya yang pernah dia lakukan dirasa masih jauh dari target yang diinginkan, pada tahun kedelapan aku menjadi guru honorer dengan penuh keterpaksaan aku harus merelakan istriku saat dia meminta ijinku untuk bekerja ke luar negeri.

            Memang gaji istriku setelah bekerja di luar negeri terasa sangat bisa meringankan beban finansial rumah tanggaku, terutama untuk mencukupi kebutuhan kedua putri kami. Setiap bulan istriku hanya menyisakan sedikit uang dari gajinya untuk keperluan pribadinya saja, selebihnya selalu dia kirimkan ke aku. Aku menyikapi jerih payah istriku ini dengan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa berhemat. Sehingga  sebagian besar uang kiriman setiap bulannya masih bisa bertahan dan meningkatkan nilai saldo dalam rekening tabungan.  

            Setelah istriku setahun bekerja di Hong Kong, aku mengalami sebuah kecelakaan yang nampak dari luar tidak terlalu fatal akibatnya, bahkan tidak sampai berurusan dengan polisi. Aku terjatuh dari sepeda motor dalam posisi terduduk, sehingga tulang ekorku mengalami benturan dengan tanah. Sepeda motor hanya mengalami kerusakan kecil yangtidakmemerlukanbiaya besar untuk memperbaikinya, baik sepeda motor yang aku kendarai, maupun sepeda motor orang yang menabrakku. Setelah membawanya ke tukang pijat, sakit di tubuhku juga sudah tidak terasa lagi hingga sekarang.

            Aku tidak menyadari kalau benturan pada tulang ekorku itu berdampak fatal pada fungsi ereksiku. Aku baru mengetahui setahun kemudian setelah istriku pulangcuti liburan dari Hong Kong. Saat aku menginginkan untuk menjamah tubuh istriku, fungsi ereksiku tiba-tiba tak mampu mengimbangi hasrat itu. Beberapa kali aku mencoba, namun selalu gagal. Beberapa hari kemudian aku memeriksakan diri ke dokter. Dari hasil analisa dokter, ternyata fungsi ereksiku tidak mampu kembali normal lagi lantaran aku mengalami kerusakan syaraf.

            Aku terkejut mengetahui hal ini, dan lebih terkejut lagi setelah menyadari istriku tiba-tiba pergi dari rumah padahal waktu cutinya masih tersisa hampir seminggu tanpa berpamitan dengan siapapun termasuk dengan anak-anak kami. Kepergian istriku itu ternyata kembali lagi ke Hong Kong dengan menutup diri tidak berkomunikasi dengan aku, anak-anak kami serta keluarga besar kami. Lambat laun setelah keluarga mendesak mencari tahu, terpaksa aku menceritakan apa adanya mengenai yang terjadi padaku dan sikap istriku atas fungsi ereksiku.

            Sebagai laki-laki yang hidup tanpa fungsi ereksi, aku hanya bisa pasrah. Kalau memang istriku ingin meninggalkanku dalam keadaan seperti sekarang ini, aku sangat bisa memahami, karena bagaimanapun juga ada kebutuhan batin dia yang tidak bisa aku penuhi dengan kondisiku seperti sekarang ini. Hanya saja yang aku inginkan adalah sebuah kejelasan. Kejelasan kemana dia pergi agar aku yang secara hukum masih berstatus suaminya juga kedua orang putri kami tidak bertanya-tanya terus menerus kemana mama pergi.

            Aku mengalihkan kegalauan batinku dengan lebih memperhatikan kedua orang putriku dan karirku sebagai guru. Alhamdulilah dalam kondisi yang seperti ini aku bisa menyelesaikan seluruh beban SKS di program pasca sarjana sebuah perguruan tinggi di Surakarta dengan nilai akumulatif yang bagus. Saat sekarang ini tinggal menunggu penyelesaikan penyusunan tesis saja sebagai syarat kelulusanku menyandang gelar Master of Peudagogik atau M.Pd. Mudah-mudahan saja beberapa tahun kemudian aku bisa meneruskan peningkatan kapasitas diriku dengan melanjutkan ke program doktoral.

            Sejujurnya aku tetap ingin mempersembahkan karir akademisku ini bukan saja untuk dunia penidikan Indonesia, tapi untuk istriku tercinta meskipun kondisi hubungan rumah tangga kami seperti sekarang ini juga untuk kedua orang putriku dengan harapan kelak mereka bisa meraih lebih dari yang berhasil diraih orang tuanya.

            Kalau saja istriku membaca tulisan ini dan tahu siapa narasumber dalam tulisan ini, aku berharap dari relung hatiku yang paling dalam untuk kembali ke rumah tangga kita dengan segala kekuranganku. Kalau memang bisa menerima kenyataan ini dengan penuh keikhlasan, kembalilah untukku dan untuk anak-anak kita. Secara finansial, rumah tangga kita sudah tidak seperti dulu lagi. Uang hasil kerjamu masih utuh di rekening tabungan hingga sekarang. Tidak usah kamu bekerja di luar negeri lagi.  Tapi kalau memang menganggap kekuranganku akan sangat mengganggu hidupmu kedepan, tidak apalah engkau palingkan mukamu pada lelaki lain yang menjadi pilihanmu. Aku ikhlas. Hanya satu pintaku, kejelasan. Segeralah hubungi aku. Nomor HP ku tidak berubah, begitu juga dengan nomor telfon rumah kita. [Seperti dituturkan MHT kepada Asa dari Apakabar]

* curahan hati MHT ini pernah dimuat di tabloid Apakabar Indonesia edisi bulan Februari tahun 2011

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner