Prime banner

JEMBER – Inspirasi bisa datang dari siapa saja, termasuk dari siswi kelas 6 Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kemuning Lor Dua, Kecamatan Arjasa, Jember, Jawa Timur (Jatim) ini. Sulastri Hasanah menjadi salah satu sosok pengingat, jangan pernah mudah menyerah. Bahkan, jika harus hidup dengan kondisi kekurangan fisik.

Bagi anak berusia 12 tahun ini, kekurangan fisik atau menjadi penyandang disabilitas, tidak menjadi halangan untuk meraih cita-cita. Seperti dirinya yang lahir tanpa kedua tangan, tetap bersemangat bersekolah demi meraih cita-citanya. Kelak, dia ingin menjadi dokter.

Anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Nisin dan Ma’ati, tidak pernah merasa malu ataupun rendah diri dengan keterbatasannya yang hidup tanpa kedua tangan. Setiap hari, Sulastri Hasanah melakukan semua aktivitas dengan kedua kakinya, termasuk di sekolah.

Sulastri tampak lancar dan tidak kesulitan saat menulis dan membaca dengan menggunakan kakinya. Tulisan Sulastri juga tergolong baik dan tidak kalah dengan tulisan teman-teman di kelasnya.

Semua itu bisa dia lakukan dengan latihan keras bersama keluarga dan guru yang mendukungnya. Dia pun mengaku tidak merasa kesulitan belajar dengan kondisi fisiknya yang tidak lengkap. “Saya latihan menulis, yang melatih mas saya. Saya enggak ada kesulitan menulis dan belajar,” kata putri pencari rumput yang tinggal di lereng Gunung Hyang Argopuro itu.

Waktu belajar di kelas benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh Sulastri. Dia dengan tekun dan rajin mendengarkan materi pelajaran yang disampaikan guru. Saat di kelas, Sulastri tidak mau duduk di belakang. Dia memilih duduk di depan agar mudah menyerap materi pelajaran.

Ketekunan dan kerja keras Sulastri terbukti. Menurut guru di sekolahnya, dia memiliki kemampuan di atas rata rata yang membuat bangga guru di sekolahnya. Menjelang ujian akhir nasional yang tinggal bebeberapa bulan lagi, Sulastri tampak semangat belajar bersama teman-temannya mempersiapkan diri.

Kepala SDN Kemuning Lor Dua, Susilowati mengatakan, pihak sekolah memang tidak memperlakukan Sulastri Nurhasanah secara khusus karena dia penyandang disabilitas. Guru memberi perlakuan sama pada Sulastri, seperti teman-temannya yang lain.

“Untuk proses belajarnya, saya kira biasa, sama saja dengan siswa lain, tidak ada perlakuan khusus. Cuma tempat duduknya saja berbeda, harus duduk di depan. Anaknya juga cerdas, nilainya di atas rata-rata,” kata Susilowati. [Bambang S]

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner