Prime banner

MALANG – Cerita mengenai besarnya godaan menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di berbagai negara tujuan,  semisal Hongkong, meluncur dari Ketua PKK Kabupaten Malang.

Istri Bupati Malang, Hj Jajuk Rendra Kresna yang didaulat memberikan sambutan dalam acara sosialisasi pencegahan PMI Ilegal yang diinisiasi Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang,  Rabu kemarin di salah satu hotel Kepanjen, menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke beberapa negara tempat warganya menjadi PMI.

“Saya sedih sekali saat bertemu dengan salah satu PMI yang berangkatnya dulu seorang perempuan,  di sini jadi laki-laki,” kata Hj Jajuk Rendra Kresna,  dihadapan ratusan peserta sosialisasi yang sebagian akan menjadi PMI di berbagai negara.

Rasa sedih Jajuk tersebut didasarkan pada penuturan PMI yang berganti kelamin dikarenakan kuatnya godaan pergaulan di negara tersebut.

Karenanya,  Ketua PKK Kabupaten Malang ini menegaskan berkali-kali kepada para  calon PMI,  tidak mudah bekerja di luar negeri.

Selain godaan besar yang bisa mengikis kepribadian,  keimanan sampai pada fitrah manusia, Jajuk juga mengingatkan berbagai persoalan keluarga para PMI yang akan ditinggalkan.

Seperti diketahui para PMI merupakan para ibu rumah tangga atau berjenis kelamin perempuan. Kondisi ini tentunya akan menjadi persoalan tersendiri dalam keluarganya apabila tidak dibicarakan secara matang.

“Dipikir dan dibicarakan secara matang dengan keluarga sebelum berangkat. Ini agar apa yang diniatkan bisa terwujud. Jangan sampai karena jadi PMI,  anak yang ditinggal di rumah,  kebutuhannya tidak terpenuhi. Misal tidak sekolah, ” ujar Jajuk yang kerap dalam setiap kunjungannya mendapatkan peristiwa tersebut.

Seperti cerita yang  disampaikannya mengenai pertanyaan kepada anak seusia sekolah yang menyatakan dirinya bolos. Saat ditanya, “apa tidak dimarahi ibu?, ” yang dijawab anak tersebut,  bahwa ibunya kerja di Hongkong.

Pun,  lanjut Jajuk, pintarlah untuk memanajemen keuangan hasil kerja. Sehingga harapannya setelah selesai kerja,  memiliki tabungan untuk berdikari di daerah asalnya. “Selalu ada masanya,  dimana tubuh tidak lagi mampu untuk bekerja, ” imbuhnya.

Pemerintah tidak bisa melarang warganya yang ingin bekerja ke luar negeri. Hal ini didasarkan,  bahwa sampai saat ini pemerintah belum bisa memenuhi lapangan pekerjaan bagi rakyatnya.

Kondisi inilah yang membuat pemerintah terus berusaha melakukan pengayoman serta  perlindungan  terhadap para PMI,  baik melalui regulasi,  bantuan hukum dan lainnya.

Jajuk pun meminta agar warganya yang akan menjadi PMI atau sudah berkali-kali bekerja untuk terus menguatkan niat awalnya bekerja.

“Jangan sampai tergoda oleh kondisi lingkungan. Terus belajar dan tunjukan kepada majikan di sana,  bahwa kalian itu pintar dan rajin, ” tegasnya yang kembali mewanti-wanti jangan sampai ada warganya berangkat ke luar negeri asalnya perempuan,  pulang menjadi laki-laki. [Nana]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner