Prime banner

“Ibu, adalah manusia tergalak di dunia!”

Demikian teriak anak laki – laki kecil, siswa sebuah TK kepada ibu kandungnya. Lalu bergegas meninggalkan ibunya yang kerepotan menjining tas sekolah, botol minuman dan berbagai aksesoris sekolah yang ditinggalkan begitu saja. Terlihat wajah sedih sambil menghela nafas panjang dari ibunya yang mencoba bersabar. Wajarkah? Ada yang salah?

Anak adalah cerminan bagaimana orang tua mendidiknya. Anak adalah bagaimana ibu dan ayahnya berkata – kata, bersikap dan bertindak. Ibaratnya, anak adalah adonan yang dibuat dengan bumbu yang kadang kelebihan, kadang kurang dan tak sengaja kemasukan bahan lain yang sebenarnya tak diinginkan dalam proses penciptaannya. Jika melihat adegan di atas, tentunya ada yang salah dalam proses pembentukan karakter anak hingga bisa sedemikian berani untuk murka pada ibunya.

Kondisi keluarga memang begitu berperan dalam pembentukan karakter anak. Dalam kasus ini, ternyata si ibu adalah janda, single mom yang bercerai dari ayah si anak sejak beberapa tahun lalu. Suatu permasalahan yang tak bisa diselesaikan di antara mereka berdua menjadi penyebab si ibu dan ayah berpisah. Semenjak itu, mereka berdua sepakat membesarkan dan mengasuh si anak dalam kerjasama yang sering disebut sebagai join custody.Sang ayah akan mendapat giliran mengasuh pada saat – saat tertentu khususnya saat liburan sekolah si anak.

Memahami Perasaan Anak-Anak Korban Perceraian

Bagi ibu dan ayahnya yang dewasa, langkah ini adalah paling fairdan logis walaupun sebenarnya tragis. Bagi sang anak, ritual liburan bersama ayah akan memposisikan sang ayah sebagai ‘sinterklas’ yang dirindukan saat ‘Natal’. Seolah ayah akan datang dengan berbagai hal-hal yang menggembirakan, bermain bersama, hanya tertawa dan bersuka cita. Kemudian saat liburan selesai, sang anak kembali kepada rutinitas harian. Aktivitas sekolah dan kehidupan sehari-hari bersama ibunya menjadi satu ‘malapetaka’ yang membawa sengsara. Membuat posisi ibu menjadi seolah ‘sipir tahanan’. Sedang si ayah tetap akan menjadi ‘pengacaranya’ yang datang setiap ‘waktu berkunjung’ tiba. Di saat-saat tertentu, sang ayah seolah akan membebaskannya. Tak mengherankan jika di hari-hari pertama si anak kembali lagi ke asuhan ibunya, mukanya ditekuk, mulut cemberut dan satu hal yang sering terjadi adalah pertunjukan sikap tak menurut dan melawan. Bagaimana tidak, jika si anak merasa pulang dari nirwana untuk masuk kembali ke Kawah Candradimuka.

Tak bisa dipungkiri, dampak perceraian orang tua dan segala urusan ‘persengketaan’nya memberikan efek lima kali lebih besar untuk mengalami gangguan psikologis dan kelainan jiwa, lima kali peluang lebih tinggi untuk kenakalan anak-anak dan remaja, terjerumus dalam lembah penyalahgunaan narkotika, seks bebas dan tindak kriminalitas lainnya. Demikianlah para ahli psikolog telah meneliti dan mengukur dampak perceraian pada anak – anak yang kemudian sering disebut sebagai anak-anak broken home.Jadi, apa yang diteriakkan si anak dalam mengawali kisah di alinea awal tadi, bisa jadi adalah hanya ‘percikan awal’ dari sekam yang selama ini membara di dalam dirinya dan suatu saat akan berubah menjadi api yang menyala-nyala.

Sebentar lagi liburan akhir tahun tiba. Bagi sebagian besar anak broken home, liburan adalah godaan, cobaan sekaligus pelampiasan akan berbagai perasaan yang selama ini mereka endapkan. Kehilangan, kekecewaan, merasa diabaikan, tak diutamakan dan masih banyak lagi hal yang menurut mereka salah namun tak terkatakan.

Sebuah pesan dari penulis, posisikan ayah sebagai ayah, bukan sinterklas, pengacara, pengunjung atau teman bersenang-senang saja. Sebaliknya, posisikan ibu sebagai ibu, bukan sekedar penunggu anak pulang sekolah, penjaga rumah dan penyedia makanan sehari-hari yang ramah. Meski rasa sakit hati menyelusup di dada, di depan pandangan dan telinga anak – anak, berusahalah untuk saling membaikkan pihak yang lainnya. Karena di mata anak – anak, perceraian sudahlah buruk, tak perlu diperjelek lagi. Kecuali memang niat bercerai adalah untuk meninggalkan semuanya di belakang dan tak mau lagi terlibat lagi sama sekali. Dan itupun pilihan yang harus dipertanggungjawabkan dalam segala bentuk dampak dan pengaruhnya di masa depan terhadap semuanya, khususnya anak – anak.

Selamat berlibur, selamat menikmati kebersamaan yang masih dipunyai. Sebelum nanti anak-anak memiliki dirinya sendiri dan memilih tuk tak bersama-sama orang tuanya lagi. Atau sebelum terjadi sesuatu pada rumah tangga dan keluarga yang tak terduga sebelumnya. [Yasin BM]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner