Prime banner

JAWA TIMUR – “Awal saya mengetahui, 4 tahun yang lalu, saya kaget bukan main. Bahkan saya sampai berniat akan bunuh diri.” Tutur SN kepada Apakabaronline.com.

SN (32 tahun) merupakan salah seorang mantan pekerja migran di Hong Kong asal sebuah kabupaten di Jawa Timur. Secara finansial, selama 8 tahun bekerja di Negeri Beton, SN termasuk berhasil mengumpulkan uang hasil kerjanya di kampung halaman. Terlebih lagi, statusnya masih lajang.

“Terutama empat tahun terakhir, hasil kerja saya ngumpul semua mas” aku SN.

Namun di sisi lain, SN mengaku “gagal” menjadi pekerja migran lantaran menurut pengakuannya karena “kebablasan” dalam pergaulan. SN yang kali pertama menginjakkan kaki di Hong Kong sesuai KTP aslinya masih berusia 19 tahun, merasa beruntung lantaran mendapatkan majikan seorang keluarga yang baik dan memberinya imbalan bukan saja gaji standart. Terlebih lagi di majikannya yang kedua, SN diberi kebebasan bisa keluar setiap hari asalkan pekerjaannya sudah beres dikerjakan.

Kebebasan di majikan kedua inilah yang kemudian membuat SN mengenal seorang pria warga negara Nepal. Hubungan mereka yang berawal dari pertemanan, berlanjut menjadi pacaran. Dan hubungan suami istripun mereka lakukan selama 4 tahun lamanya. SN tidak pernah menduga, hubungannya dengan pria Nepal tersebut menjadi petaka dalam hidupnya. SN menyadari petaka “Memalukan” setelah secara tiba-tiba, kekasihnya pria Nepal tersebut memberitahu SN sebuah hasil diagnosa  medis bahwa dirinya positif mengidap HIV.

“Dia frustasi mas saat menunjukkan hasil pemeriksaan lab. Saya sebagai pacarnya berusaha menguatkan dia. Tapi gagal. Dia pulang ke Nepal, kemudian kabar yang saya dengar, dia bunuh diri di kampung halamannya” tutur SN diantara linangan air matanya.

Kepergian kekasih SN tersebut, membuat SN tersadar, kalau pria Nepal kekasihnya terinfeksi HIV, otomatis dirinya juga tertular lantaran sudah tak terhitung lagi jumlahnya mereka melakukan hubungan suami istri. SN pun berinisiatif memeriksakan diri di Hong Kong, dengan persiapan mental yang telah dia lakukan. Namun demikian, meskipun SN telah menyiapkan diri sebelum memeriksakan kesehatannya, saat hasil diagnosa dia dapatkan, SN tak sanggup mengusir ketakutannya.

“Saya ternyata juga positif HIV. Itu hasil lab tahun 2012 dulu” terangnya.

SN oleh rumah sakit disuruh mengkonsumsi obat-obatan untuk menguatkan kekebalannya agar tidak sampai terjadi insiden lemah dan jatuh terserang virus lain.

SN berusaha bertahan hingga habis masa kontraknya tahun 2014, usai menyadari dirinya menjadi ODHA (orang hidup dengan Hiv/Aids). Dan sesampai di kamppung halamannya, SN sempat kebingungan tentang apa yang akan dia lakukan selanjutnya, tentang bagaimana memberitahu keluarga.

Kegelisahan SN kian memuncak, saat kedua orang tua SN mendesak untuk menikah mengingat usia SN saat itu sudah 26 tahun. Desakan kedua orang tua SN ini salah satunya juga karena ketidaktahuan mereka akan derita yang dissembunyikan SN.

“Saya hampir saja mau bunuh diri. Sebab saya bingung harus bagaimana. “ terang SN

Kebingungan SN terjawab, setelah dirinya mengunjungi sebuah klinik VCT di kabupaten tempatnya tinggal. Di klinik tersebut, SN melihat penderitaan sesama ODHA baik secara fisik maupun mental karena tekanan sosial dan keluarga. Melihat rekan sesama penderita HIV, semangat SN mulai tumbuh. Dibantu oleh seorang konselor, akhirnya SN memberanikan membuka diri kepada kedua orang tua dan keluarga perihal yang menimpanya.

Meskipun kaget, keluarga SN perlahan bisa menerima apa adanya dan menganggapnya sebagai sebuah takdir.

“Saya beruntung, memiliki dukungan keluarga, memiliki tuntutan untuk selalu mengingat Tuhan, bertobat dari semua dosa, disaat saya sedang mengantri menunggu ajal menjemput saya” tutur SN yang terhenti oleh tangisnya.

“Meskipun saya bukan pelacur dan hanya melakukan hubungan sekx dengan satu orang saja seumur hidup saya, namun karena orang tersebut ternyata menderita HIV, otomatis saya tertular, dan seperti ini sekarang keadaannya” sambungnya.

“Sebagai orang yang telah terlanjur kotor dan diahzab Allah, melalui Apakabaronline.com, saya ingin menyampaikan pesan kepada teman-teman, terutama TKW di Hong Kong yang mengenal dan pernah berteman dengan saya, saya minta maaf, ampuni segala dosa dan khilaf saya, supaya sewaktu-waktu saya mati, beban saya sudah terkurangi. “ pinta SN.

“Selain itu, sebagai sesama TKW, saya ingin mengingatkan kepada teman-teman TKW di Hong Kong dan negara lainnya, boleh boleh saja kalian melakukan hubungan seksual, tapi hati-hati, pastikan dulu cowok kalian bebas HIV. Jangan sampai seperti saya.” Pungkas SN.

Secara medis, kondisi SN sejak bulan November 2017 hingga saat ini semakin lemah. Berat badan SN tingga 34kg, sedangkan tinggi badannya 155 cm. Bisa dibayangkan, betapa kurusnya tubuh SN saat ini, saat yang secara medis merupakan saat kritis, dimana SN seperti dalam pengakuannya, hanya tinggal menghitung hari menunggu ajal tiba.

Agus Setyono, Psikolog yang menjadi Konselor bagi SN menyatakan, SN termasuk salah satu ODHA yang siap dan bisa menerima kenyataan.

“Pengalaman saya, banyak pasien yang tidak siap secara mental dan akhirnya berkontribusi buruk terhadap kondisi fisiknya” tutur Agus.

“Sebagai seorang yang beragama, setidaknya usai melakukan pertobatan, menerima kenyataan menjadi ODHA sebagai salah satu persiapan untuk memasuki kehidupan setelah dunia juga sangat penting. Bagi yang muslim seperti SN, untungnya bisa menganggap dan menerima penderitaannya sebagai bagian dari sesuatu yang bisa meringankan dosanya, disamping menjadi ujian dalam pertobatannya” pungkas Agus.

Disamping SN, Agus saat ini juga sedang memberikan pendampingan dan konseling terhadap 3 orang mantan pekerja migran Hong Kong lainnyaa yang mengalami nasib serupa dengan SN, menjadi ODHA. [Asa]

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner