Karena Wabah SARS, Mantan PMI Hong Kong Menjadi Praktisi Akupuntur

Prime Banner

KARANGANYAR – “Semula saya merasa, putus kuliah, lalu harus bekerja menjadi PRT di Hong Kong adalah musibah. Namun ternyata dugaan saya salah. Justru karena saya ke Hong Kong menjadi PRT, saya bisa meneruskan kuliah dan mendapatkan ilmu serta jaringan” tutur Sri Sayekti, mantan PMI Hong Kong asal Karanganyar Jawa Tengah kepada ApakabarOnline.com.

Sri mengaku Hong Kong menjadi awal bahkan salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Pasalnya, tahun 1999, karena ibunya yang menjadi PMI di Timur Tengah meninggal dunia, keberlangsungan pendidikannya di sebuah Akademi Keperawatan pun harus kandas. Tak hanya harus berhenti kuliah, sumber kehidupan sehari-hari yang sebelumnya 100% di penuhi oleh almarhum ibunya, sejak saat itu telah berubah.

“Itu masa berat mas. Saya melangkah ke PJTKI, daftar, lima bulan menunggu lalu dapat majikan, bahkan sampai saat saya diatas pesawat terbang ke Hong Kong, saya masih bingung, mau ngapain kedepan” kenang Sri.

Namun, perlahan tapi pasti, Sri bertemu dengan berkah setelah bekerja pada seorang majikan kedua setelah tiga empat bulan prtama dia di PHK sepihak oleh majikan pertama. Majikan kedua Sri seorang terapis yang menguasai pengobatan herbal China.

“Waktu itu, baru setahun saya bekerja di majikan kedua, wabah SARS luar biasa menghantui orang Hong Kong. Apalagi sebagai terapis yang sering berhubungan dengan pasien, majikan saya sering memberikan peringatan dengan ketat terkait menjaga diri” tutur Sri.

Dari peristiwa itulah, terjadi diskusi antara Sri dengan majikannya. Pertanyaan yang dilontarkan Sri kepada majikan terkait banyak hal tentang terapi pengobatan, dirasakan oleh majikan Sri bukan pertanyaan orang tidak tahu apa-apa. Majikan Sri merasa, Sri mengetahui banyak tentang kesehatan.

“Lalu majikan saya nanya, kamu kok bisa tanya kayak gitu, biasanya pertanyaan orang tidak seperti pertanyaanmu. Saat itulah saya terbuka dengan masa lalu saya, terbuka dengan peristiwa yang melatarbelakangi saya berangkat ke Hong Kong. Sampai akhirnya, saya bilang ke majikan, saya ke Hong Kong untuk batas waktu tertentu saja sampai dengan bisa mengumpulkan tabungan untuk melanjutkan kuliah yang sudah separo jalan” lanjut Sri.

Gayung bersambut, mendengar penuturan Sri, majikan Sri memberi apresiasi positif dengan pemikiran dan rencana Sri. Sejak saat itu, pelan-pelan Sri sering dilibatkan majikannya dalam meramu obat-obatan. Sri sering diajak ke China berbelanja berbagai macam kebutuhan praktik klinik herbal milik majikannya.

Interaksi Sri dengan majikannyalah yang selanjutnya merubah keputusan Sri terkait melanjutkan kuliah. Jika semula Sri hanya ingin mendapat uang, lalu melanjutkan kuliah Keperawatan, interaksi Sri dengan majikan membuatnya berubah haluan, Sri membulatkan tekad akan mengambil jurusan Akupuntur setelah pulang ke Indonesia nanti.

Sri bekerja di majikan kedua sampai dengan tahun 2005. Tahun ajaran 2006/2007, Sri memutuskan untuk masuk ke Jurusan Akupuntur Program S1 sebuah Universitas Swasta ternama di Kota Surakarta.

“Majikan saya ikut senang, tahu saja kuliah. Sampai saat saya lulus, mereka terus memantau perkembangan saya, apalagi mereka sudah menganggap saya anak. Mereka tahu kalau saya yatim piatu” tuturnya.

Masuk tahun 2011, setelah ijazah S1 dan sertifikasi praktik menjadi seorang akupuntur berhasil dia kantongi, akhirnya Sri bergabung dengan beberapa rumah sakit swasta di Karanganyar, Surakarta dan Sukoharjo. Di beberapa rumah sakit tersebut, Sri melakukan praktik bersama tim akupuntur lainnya.

“Hubungan saya dengan majikan sampai sekarang tetap baik. Saya sering mengirimi majikan saya beberapa bahan obat herbal dari sini (Indonesia) seperti Jahe, Kunyit, Kayu Manis, dan  beberapa jenis rempah-rempah. “ aku Sri.

Jadi, sampai kapanpun saya tidak akan pernah bisa melupakan majikan saya dan wabah SARS di Hong Kong tahun 2002-2003 dulu. Karena itu, saya dipertemukan Allah dengan kehidupan saya yang sekarang. “ pungkas Sri.  []

 

You may also like...