October 31, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Kejadian Lagi, 46 Tenaga Medis di RS dr Karyadi Semarang Positif Terinfeksi Corona Tertular dari Pasien yang Tidak Jujur

2 min read
Feature Image Kejadian Lagi, 46 Tenaga Medis di RS dr Karyadi Semarang Positif Terinfeksi Corona Tertular dari Pasien yang Tidak Jujur (Foto IDN Times)

Feature Image Kejadian Lagi, 46 Tenaga Medis di RS dr Karyadi Semarang Positif Terinfeksi Corona Tertular dari Pasien yang Tidak Jujur (Foto IDN Times)

Prime Banner

SEMARANG – Tidak adanya kesadaran dan minimnya pengetahuan berbanding luruh diduga menjadi dalang dibalik insiden di beberapa rumah sakit ini. Puluhan tenaga medis harus dikarantina lantaran positif terinfeksi corona tertular dari pasien yang tidak jujur saat dilayani.

Dikutip dari Indonesia Times, hal tersebut sangat disesalkan oleh Gubernur Jawa Tengah, Gandjar Pranowo. Pasien yang datang berobat tidak mengatakan bahwa baru saja bepergian dari daerah-daerah zona merah COVID-19. Andaikan beralasan tidak mengetahui, mustahil rasanya lantaran publikasi terkait zona merah setiap saat selalu diupdate ratusan media dan media sosial.

Gandjar menambahkan, akibat ketidakjujuran tersebut, puluhan dokter, perawat dan tenaga medis di RSUP Dr Kariadi Semarang terjangkit dan dinyatakan positif virus corona.

“Kejadian di Kariadi itu sesuatu yang luar biasa. Ini pembelajaran bagi kita bahwa seorang dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya sangat rentan. Sedihnya lagi, mereka terkena virus corona dari pasien yang tidak jujur,” kata Ganjar saat menerima bantuan alat-alat kesehatan di Wisma Perdamaian, Jumat (17/04/2020).

Ganjar menyesalkan ketidakjujuran pasien saat berobat itu. Sebab akibat ketidakjujuran tersebut, membawa petaka bagi siapa pun. Termasuk para dokter, perawat maupun tenaga kesehatan.

“Kalau di jantung dan benteng pertahanan terakhir bisa tertular, ini sesuatu yang sangat serius. Untuk itu kami minta seluruh rumah sakit untuk memperketat protokol kesehatan di tempat masing-masing demi melindungi para tenaga medis kita,” tegasnya.

Hal senada disampaikan dr. Tirta, yang kini menjadi relawan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dokter yang cukup dikenal warganet itu meminta seluruh masyarakat untuk jujur di tengah pandemi COVID-19.

“Kejujuran itu paling penting. Sebab, yang paling berbahaya dari COVID-19 adalah orang tanpa gejala (OTG), mereka yang tidak memiliki gejala apa pun namun ternyata terinfeksi. Nah, orang-orang semacam ini harus jujur saat melakukan pemeriksaan medis,” tegasnya.

Masyarakat, lanjut Tirta, tidak perlu takut dan menutup-nutupi apabila mereka memang diduga tertular virus corona. Caranya simpel, masyarakat cukup menerangkan riwayat kontak, apakah pernah bepergian dari daerah zona merah dan lainnya.

“Jangan takut, tidak akan diapa-apain. Justru kalau tidak jujur, yang bahaya itu orang di sekitar kalian dan tenaga medis. Buat apa negara sudah mempersiapkan pertahanan bagus, kalau masyarakatnya masih tidak jujur,” tegasnya.

Ketidakjujuran itu, imbuh Tirta, akan merusak sistem yang telah dibangun. Masyarakat tidak perlu takut, kalau memang dinyatakan OTG dan dalam kondisi sehat, mereka hanya akan dikarantina di rumah dan diawasi oleh tenaga medis.

“Ra sah wedi (red: nggak usah takut), ra bakal dikapak-kapakke (red: tidak akan diapa-apakan). Malah enak dikei vitamin karo panganan (red: malah enak dikasih vitamin dan makanan,” tutup dokter yang juga pernah ditetapkan sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus corona itu.

Sebelumnya, kejadian serupa terjadi di Grobogan dan Kediri. Dua orang pasien di Grobogan tidak mau jujur mengakui telah memeiliki riwayat perjalanan dari zona merah, imbasnya 76 tenaga medis di RSUD Grobogan menjalani tes COVID 19  dan dikarantina. Di Kediri, seorang pekerja bangunan yang menjadi pasien di RSIA Kediri juga melakukan hal yang sama, tidak mengaku kalau memiliki riwayat perjalanan dari zona merah Jakarta.  []

Advertisement