Penyet ria

BALI – Sejak Selasa (21/11) kemarin, aktifitas vulkanik di Gunung Agung yang terletak di wilayah Kabupaten Karangasem Bali mulai menampakkan peningkatannya. Letusan freatik yang terjadi sebagai gejala awal letusan vulkanik atau erupsi yang berlangsung sejak Minggu (26/11) kemarin hingga saat ini.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memprediksi Gunung Agung berpotensi mengalami letusan besar. Gunung setinggi 3.142 mdpl itu terus mengeluarkan lava dan melontarkan abu vulkanik ‎setinggi 3.400 meter. Meski terlihat dahsyat, masih dalam kategori letusan kecil.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kasbani menyatakan aktivitas vulkanik Gunung Agung saat ini berada pada tingkatan yang sangat tinggi sehingga probabilitas untuk terjadi erupsi lebih besar menjadi semakin meningkat.

Menurutnya, probabilitas terjadi letusan sudah semakin tinggi. Hal itu ditandai dengan aktivitas semburan abu vulkanik beruntun yang terjadi selama beberapa hari terakhir. “Aktivitas vulkanik Gunung Agung saat ini berada pada tingkatan yang sangat tinggi,” katanya seperti dikutip dari laman resmi magma.vsi.esdm.go.id, 27/11/2017.

Sesuai dengan pantauan PVMBG, lanjutnya, pada 21 November 2017 pukul 17:05 WITA teramati erupsi yang menghasilkan asap berwarna kelabu tebal dengan tinggi maksimum 700 meter di atas bibir kawah. Pada tanggal 25 November 2017 mulai teramati erupsi yang menghasilkan asap berwarna kelabu tebal dengan tinggi maksimum 2.000 m di atas bibir kawah.

“Pada 26 November 2017 pukul 05.05 WITA erupsi tersebut teramati memiliki ketinggian 2.000 meter dari atas bibir kawah. Kemudian mengalami peningkatan pada pukul 05.45 WITA dengan perkiraan ketinggian 3.000 meter dari atas puncak, hingga mencapai ketinggian 3.400 meter pada pukul 11.00 WITA.”

Untuk itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengimbau agar warga dan wisatawan tidak berada, tidak melakukan pendakian, serta tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Barat daya sejauh 10 km dari kawah Gunung Agung.

Selain itu, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai juga sudah ditutup. Akibat penutupan sementara Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, sebanyak 445 penerbangan yang terdampak, baik penerbangan menuju maupun dari Bali.

Penerbangan yang berangkat dari Bali dibatalkan atau ditunda, sedangkan penerbangan menuju Bali yang sudah berangkat sebelum 07.15 WITA akan dialihkan pendaratannya ke beberapa bandara sekitar Bali.

Dari Pos Pengamatan Gunung Agung di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, terdengar jelas letusan sekitar pukul 21.15 Wita. Suantika membenarkan jika bunyi itu bersumber dari Gunung Agung. “Itu letusan-letusan kecil yang terjadi di Gunung Agung,” kata Suantika.

 

Radius bahaya pun berubah dari 6 kilometer menjadi 8 kilometer dengan zona perluasan dari 7,5 kilometer menjadi 10 kilometer ke arah utara-timur laut, tenggara-selatan dan barat daya‎.

“Kami deklarasikan mulai pukul 06.00 Wita hari ini, Senin 27 November 2017 statusnya kita naikkan dari Siaga menjadi Awas,” kata Suantika.

Dalam radius dan zona sektoral itu, Gede melanjutkan, ada 17 desa yang terdampak. Desa tersebut adalah ‎Desa Ban, Dukuh, Baturinggit, Sukadana, Kubu, Tulamben, Datah, Nawakerti, Pidpid, Buanagiri, Bebandem, Jungutan, Duda Utara, Amerta Buana, Sebudi, Besakih dan Pempatan.‎

“Warga di sekitar itu harus dikosongkan. Tidak boleh ada aktivitas apa pun dalam radius dan zona sektoral itu,” ujar Suantika. [Asa/Net]

 

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner