Prime banner

Fazley Elahi (30) seorang pekerja migran asal Banglades menggagas sebuah kegiatan seni dan budaya berbasis pekerja migran di Singapura. Dalam mewujudkan gagasannya, Fazley Elahi mengajak beberapa rekan senegaranya untuk memperkuat tim yang dia bentuk.

Merealisasikan gagasannya, Fazley Elahi mengawali dengan mengunjungi pusat kegiatan seni dan budaya para pekerja migran di Singapura asal Indonesia dan FIlipina. Fazley Elahi menyampaikan gagasan dan pemikirannya untuk membuat sebuah kolaborasi seni dan budaya yang disamping bisa menjadi materi pertunjukan pagelaran kesenian, juga diharapkan bisa menjadi perekat sesama pekerja migran dari berbagai negara.

Usaha Fazley Elahi berhasil diwujudkan dalam sebuah pagelaran kolaborasi kebudayaan yang bertajuk migran culture show yang berlangsung di Gedung Arya Samaj Singapura pada Minggu (07/01) kemarin.

Pagelaran yang didukung oleh Transient Workers Count Too (TWC2) tersebut mampu membuat gedung tersebut disesaki oleh pengunjung yang jumlahnya melebihi kapasitas gedung.

“Saya ingin mempromosikan ikatan budaya dan persahabatan antar negara yang berbeda melalui acara ini. Ini adalah kesempatan besar untuk meningkatkan pemahaman antara budaya dan stereotip tempur,” kata Fazley sebagaimana dikutip dari the straits times desk Singapura.

Menik Sri Suyati (46) seorang PMI yang berasal dari Jawa Tengah menjadi titik temu antara pekerja migran Indoonesia dengan pekerja migran dari negara lain di ajang tersebut.

Menik, yang memiliki latar sebagai mantan biduan dangdut tersohor di kampung halamannya Jawa Tengah menyebut, kolaborasi budaya Indonesia dengan Banglades bisa dipertemukan di Musik Dangsut. Sebab menurutnya Dangdut adalah genre musik Indonesia yang sebagian berasal dari musik Hindustan, Melayu dan Arab.

Menyelenggarakan pertunjukan kolaborasi seni dan budaya pekerja migran bukanlah hal yang mudah. Penyelenggara harus berjuang untuk bisa mendapatkan sponsor agar penyelenggaraan terbiayai, ijin, dan koordinasi.

Penyelenggara menghabiskan waktu di luar pekerjaan pada hari kerja untuk mencari sponsor. Mereka juga membuat halaman Facebook untuk mempublikasikan acara tersebut.

Fazley berharap, acara ini bisa menjadi acara rutin tahunan yang potensial untuk terus dikembangkan.

“Kami ingin terus memberikan kesempatan ini bagi buruh migran untuk terikat pada seni,Yang lebih penting, saya ingin menunjukkan kepada Singapura bahwa pekerja migran bukan hanya pekerja, tapi juga memiliki gairah dalam seni yang berbeda.” katanya.

Wati, seorang pekerja migran Indonesia di Singapura yang ikut menjadi penikmat acara ini mengaku sangat terhibur dan memandang gelaran acara tersebut sebagai bentuk kreatifitas yang patut diacungi jempol.

Kepada Apakabaronline.com, Wati mengutarakan harapan positifnya, kegiatan kolaborasi budaya bisa memperbaiki keburukan yang selama ini sering menjadi konsumsi media mengenai hubungan pekerja miggran Indonesia dengan Banglades yang selalu dihiasi dengan aroma negatif.

“Ini positif. dalam hati kecil saya, dengan gelaran seperti ini saya berharap bisa menepis pandangan miring dan negatif mengenai hubungan TKW dengan Banglades yang selalu dianggap negatif dengan berbagai bentuk perbuatan asusilanya” tandas Wati. [Asa/Net]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner