Prime banner

Setelah seharian dibawa beterbangan oleh mesin bersayap, mulai dari negeri judi hinggap sejenak di Bangkok dan sampai Bandara Juanda Surabaya, rasanya kaku juga seluruh ototku. Tapi suasana bandara yang ramah dan banyak perubahan, membuat letih tubuh jadi sembuh seketika.

Dulu, lima tahun silam tepatnya, pulang ke Tanah Air adalah tantangan bagiku. Dari mulai harus antre yang mengekor di pengecekan dokumen pribadi, hingga acara rebutan troli dengan calo bandara. Belum lagi ditambah jika keluar dari pintu gerbang bandara harus berjejal. Entah dengan siapa, penumpang atau penjemput, pokoknya berjubal bikin macet jalanan kaki. Tapi hari ini semua telah disulap, serba rapi dan nyaman.

Dari kejauhan pelupuk mataku, terlihat samar papan bertuliskan Starbuck Coffee. Lengkap sudah pengobat letihku. Sebentar lagi pasti secangkir Latte panas itu akan ikut menyambut kedatanganku. Telah kupilih sofa paling empuk dan kutaruh pelan secangkir Latte yang mengepul. Aroma paduan susu segar dan kopi ini sungguh menggelitik hidungku. Tanpa terhitung, dalam puluhan menit secangkir kopi jumbo itu telah kusesap tandas.

Kugendong tas punggung warna hitam dan koper hitam di sampingku, mengikuti langkah kaki yang terbalut sepatu kulit lembu. Taksi bandara berbaris tertib. Sepertinya mereka paham, ada penumpang yang akan menaikinya. ”Ke bandara domestik, Pak!”

Pak Sopir cukup memberi jawaban dengan kode anggukan ramah.

”Mau liburan ke mana, Mas?”

”Mengikuti jejak kaki saja, Pak.”

Tawa sopir itu makin melebar. Sepertinya dia setuju dengan gaya gurauanku yang sedikit menyebalkan.

Kuteliti tiap inci jalanan gelap ini. Sesekali lamunanku menembus ke Pulau Bali, yang akan kujamah esok pagi. Sudah dari dulu tiap kali kudengar tentang Pulau Dewata itu, membuatku ingin segera menapakkan kaki di sana.

Lagi-lagi pengemudi bayaran itu membuyarkan lamunanku. ”Mau mendarat di bandara sebelah, Mas?”

”Di mana saja Pak, yang penting selamat.”

Tawanya masih saja menggelitiki mataku, membuatku tidak ingin memperhatikannya.

Akhirnya, gantian aku juga yang menyapa si Bapak. Karena di depan sudah terlihat pagar pembatas pemberhentian roda mobil. ”Berapa harus kubayar, Pak?”

”Tiga ratus ribu saja, Mas!”

Bapak ini jago juga untuk jadi tukang tipu-tipu ya… Bukankah tarif sudah mulai stabil. Dari bandara sampai Blitar saja hanya empat ratus ribu.  Ini kan masih sama-sama di kawasan Surabaya. ”Gimana kalau lima ratus ribu, Pak?”

Bukannya menjawab, si bapak malah tertawa keras-keras. Apa menurutnya aku bercanda lagi? Padahal mukaku tidak dalam keadaan konyol. Malah seram, kurasa.

Lalu kukeluarkan lima potongan kertas seratusan ribu dan sepenggal kalimat kubacakan dari demo hatiku. ”Pak, sesungguhnya aku tahu tarif dari bandara ke sini. Aku juga tahu kalau Bapak sesungguhnya meminta bayaran lebih. Lain kali jangan begitu ya, Pak! Karena uang dari hasil Bapak menipu itu tidak membawa berkah.”

Sopir bayaran itu hanya bisa bengong.

Dan, kulanjutkan langkah kaki. Kurasa sudah tidak ada waktu menunggu jawaban pembelaan diri darinya. Pandanganku sengaja kulempar lurus ke depan. Kedua lubang telingaku juga kusumpal dengan alat pendengar Mp3, biar dikiranya aku rada tuli. Padahal tidak ada alunan musik yang mengaliri kabel Mp3 ku. Jelas sekali suara Pak Sopir itu memanggil-manggilku. Tapi jalanku kuatur semakin cepat.

Perbedaan yang lumayan jauh dari bandara internasional ke bandara domestik. Di sini tidak ada perubahan sama sekali. Yang ada justru penurunan, dan sepi. Sepi? Tentu saja sepi, ini tengah malam!

Kurasakan teriakan usus dalam perutku. Kurasa ia sudah sangat ingin kusuapi. Maklum, sejak tadi pagi belum ada sebutir nasi pun kumasukkan ke dalamnya.

Kuteliti tiap sudut dinding yang berlogo rumah makan. ”Sop Buntut”, dua kata yang sudah menyatakan rasa enak, tanpa kubuka buku menu.

”Sop buntut dan teh lemon, Om.”

Si Om penjual mengangguk tanda paham. Lima menit kemudian, pesanan telah mendarat di mejaku. Kutelan ludahku sendiri dalam-dalam, karena melihat seonggok nasi putih di antara kuah dan jeruk nipis. Juga secolek sambal cabe merah merona plus segelas kaca tinggi teh lemon.

Sendokan pertama rasanya kurang garam. Sendokan kedua, kucari buntutnya ke mana? Kenapa yang ada hanya cuilan daging dan lemak?

Sendokan ketiga tidak kulanjutkan ke sendok nomor empat. Hanya kusesap teh lemon yang tanpa aroma lemon itu sampai kering.

”Berapa, Om?”

”Seratus dua puluh ribu saja, Mas.”

”Serius nih, Om?”

”Loh, sampeyan itu gimana sih, Mas? Ya double serius toh!”

”Murah banget!”

Sebenarnya dalam hatiku lagi berperang. Memerangi lima tahun silam. Mengapa begitu banyak perubahan. Mulai dari yang membanggakan hingga yang mengharukan. Bagaimana kalau yang makan sop buntut tanpa buntut tadi adalah mereka yang punya gaji lima puluh ribu per hari? Bukankah kerja dua setengah hari hanya untuk membayar sop buntut?

Malam yang tinggal seperempat ini membuat tubuhku lemas. Puncak kelelahanku mungkin telah datang. Hingga di atas kursi kayu yang keras dan penuh lubang pun bisa membuat mataku terpejam.

Belum puas kunikmati mimpi, petugas bandara membangunkanku. ”Penerbangan paling pagi sudah dibuka pintunya, Mas!”

Tanpa kujawab, langsung kutuju pintu pengecekan tiket. Sudah satu jam kududuki kursi cokelat tua ini. Tapi kenapa petugas pengumuman belum juga mempersilakan kami masuk ke pesawat? Bukankah seharusnya setengah jam yang lalu aku diterbangkan?

”Sabar ya Mas, silakan menunggu pengumuman dari kami.”

”Non! Ini bukan urusan sabar atau tidak loh… tapi lebih pada pelayanan Anda yang tidak memuaskan! Penerbangan terlambat berjam-jam tidak ada pemberitahuan, maksudnya apa?”

Percuma protesku. Toh, yang tidak terima atas keterlambatan ini cuma aku sendiri. Penumpang yang lain ke mana, ya? Apa mungkin mereka telah terbiasa dengan hal demikian? Yang kuingat hanya bagaimana tadi aku mesti bolak-balik menanyakan jam terbang.

Tubuhku seperti dilempar begitu saja. Dan, di dalam pesawat ragaku seperti terhipnotis. ”Mas! Mas! Bangun, sudah sampai Ngurah Rai. Memangnya mau mendarat di mana nih?”

Kucari datangnya suara itu, tapi yang ada aku sudah dipunggungi.

Yang tersisa hanya sesosok gadis hitam berambut kribo setengah gimbal dengan gigi putihnya. Mungkin dia tadi yang membangunkanku. Andai aku ponsel, mungkin sekarang kondisiku fullbatery. Jalanku pun begitu rileks dan penuh percaya diri.

Sepatu kulit warna hitam mengkilap yang membungkus kakiku sepertinya menciptakan suara khas. Dan membuat orang yang berjalan berjajar denganku jadi ingin menoleh.

”Mas! Sudah tidak tidur lagi kan?” Ternyata gadis kribo gimbal tadi yang menggodaku.

Kujulurkan lidah dan kupelototi dia. Tapi tak kujawab sedikit pun kalimat gurauannya. Mungkin aku sosok yang seru baginya, tapi menjengkelkan juga dengan kekonyolanku. Dia tak pernah tahu, sesungguhnya aku pun selalu memperhatikan tiap jengkal lekuk tubuhnya. Kayaknya dia juga sendirian ke pulau ini. Cuma, dari penampilannya, dia berani sekali memamerkan bentuk tubuhnya. Indah jika kunikmati.

Lorong panjang yang berdinding seni tradisional Pulau Dewata telah selesai kulewati. Keluar dari gerbang Bandara Ngurah Rai, seperti sudah tercium aroma khas pulau ini. Lagi-lagi kedai kopi berlogo gadis berambut panjang dan menyunggi bintang hijau itu menyambutku. Tempat istirahat paling nyaman bagi pencinta kopi sepertiku.

Telah kuincar sofa warna gelap dengan meja bundar kecil yang pasti hanya akan ada aku dan barang bawaanku yang boleh bersanding denganku.

Kusandarkan bokongku tanpa beban dan mataku yang setengah terpejam. Sambil kuteriaki waiters di sebelahku untuk memesan secangkir Latte. Oh, Tuhan! Inikah takdirmu? Kenapa gadis kribo itu sudah berada di sebelahku? Tidak. Tidak. Ini pasti hanya kejutan kecil. Tolong hambamu ya, Tuhan. Hamba ke sini bukan untuk mencari jodoh! Kamu harus tenang, OK?! Hatiku bicara sendiri tanpa henti.

Gadis itu sok cuek padaku. Mungkin dia sudah tidak mau lagi melihat gayaku yang sok cool. Aku pun akan mengucap syukur jika kita tidak saling menyapa. ”Hot coffee latte, please.” Suara barista itu membangunkanku dari sofa. Kuletakkan secangkir Latte sekenanya di atas meja. Dia tetap saja tidak menyapaku, tapi matanya tak berhenti meneliti tubuhku. Aku merasa telah ditelanjangi oleh pandangannya. Geli! Sangat menggelikan.

Sengaja kupelototi dan kubuat dia muak lahir batin kepadaku. Tapi dia malah menertawaiku. Tuh kan, aneh! Ternyata aku salah mengambil cangkir. Kopi yang kuhisap adalah cangkirnya, bukan cangkirku. Niat hati ingin menolak keras lelucon ini, tapi akhirnya kunikmati juga.

Giginya yang rapi dan putih membuatku kecanduan untuk melihatnya. Suaranya yang serak menggoda begitu renyah untuk kudengarkan. Canda tawa kita mengalir bak air sungai yang hendak menuju muara. Setiap bahasa tertata seperti telah ada skenario di balik layar.

Awan ini seolah juga punya rencana agar kami selalu bersama. Matahari yang tadi menyala terang, kini ditelan hitam begitu saja. Mana mungkin aku tega membiarkan dia sendirian di tempat seramai ini dan belum ada penginapan yang siap dia tuju? Dia pun sepertinya mampu membaca hatiku. ”Setelah ini kamu mau ke mana? Maksudku menginap di mana, gitu?”

”Di mana aja, asal tidak sekamar denganmu.”

”Kamu bisa enggak sih untuk tidak bercanda?!”

Akhirnya dia ngambek juga.

”Antarkan kami ke Legian, Pak Sopir!”

”Silakan masuk, Non…”

Pemandangan yang asyik dari lawan jenis ya ini, nih! Tadinya kebakaran jenggot, dialusin sedikit aja sudah ketawa manja.

Kepalaku mulai menerawang ke area Legian. Kota kecil yang paling terkenal dengan bar dan tempat hiburannya. Aku sangat takut, kalau-kalau menghanyutkan aku dalam kekhilafan. Aroma arak Bali tercium begitu kental. Membuatku semakin waspada.

Rem taksi yang kami tumpangi menghentikan kami di jantung Legian. Gadis kribo di sampingku ini sepertinya sudah berpengalaman. Di tempat yang tidak sepi orang, ia berusaha menjaga diri dengan melingkarkan tanganku ke pinggangnya. Menolak?

Bagaimana aku akan menolaknya. Suasana malam dan aroma parfum lembut gadis itu telah membuatku nyaman. Dan merangkulnya adalah suatu kewajiban bagiku malam ini.

Sesekali gadis itu menyunggingkan gigi putihnya ke arahku. Membuat tekanan adrenalinku langsung mendidih. ”Hey, kamu! Tahu enggak sih! Aku lagi berperang melawan nafsuku. Please, deh! Jangan ganggu aku!” Teriak batinku tak henti-hentinya.

Barisan gadis ayu yang dibalut make up menor dan berpakaian setengah jadi, membuatku semakin sulit menahan diri untuk tidak masuk ke dalam bar yang mereka suguhkan. Ditambah lagi harumnya alkohol semakin menimang kebodohanku. Ya, Tuhan! Kenapa gadis ini malah menuntunku ke bar?

”Kamu sudah siap tak nikmati, ya Non?” Pertanyaan jahat dalam benakku. ”Awas, jangan sampai mabuk ya!” Ancamannya seperti konyol. Tapi memang aku tak sanggup berjanji. Botol demi botol alkohol itu mengaliri tubuhku. Dia pun makin asyik dengan liukan goyangannya. Mungkin dia sudah mulai menikmati jahatnya alkohol.

Entahlah, aku mabuk atau hanya lepas kontrol kesadaran. Yang jelas, aku tak ingat apa-apa tentang yang terjadi semalam. Siapa yang menjamah atau yang terjamah? Ke mana pula baju dan celanaku? Lalu, gadis itu? Mengapa jadi aku sendirian yang tertidur lemas di atas kasur empuk ini?

Akhirnya aku khilaf juga! Sedikit kuingat tentang semalam. Aku telah melakukan dosa dengan gadis kribo itu. Kutangisi kesalahanku sendiri.

Mataku tak henti mencari ke mana gadis itu. Namun yang kutemukan hanya sepucuk kertas kusut. ”Terima kasih atas semalam, kamu hebat! Semoga apa yang telah kau masukkan dalam tubuhku tidak menjadi bocah. Aku masih ada urusan di Kintamani. Tak perlu mencariku.”

 Ugh, ke mana harus kucari kamu, kribo! Jangankan nomor ponselmu, namamu saja aku belum sempat tanya. [Aliq Nurmawati]

Northpoint, 25 Mei 2017

 

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner