Prime banner

Malang – Matahari tepat di atas kepala, saat Salimin, 44 tahun, menata ratusan sempol di gerobak motor. Ia berangkat menyusuri aspal menuju lapangan desa, lokasi karnaval Hari Ulang Tahun Harjokuncaran tengah berlangsung selepas salat Dzuhur.

Salimin adalah satu dari sekian banyak warga Kabupaten Malang yang memilih berwirausaha untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ia memilih sempol, jajanan asli Malang, Jawa Timur, yang terbuat dari tepung dengan berbagai pilihan campuran, seperti ayam, daging, ikan, atau kornet. Hasil adonan itu dikukus, dibentuk, kemudian ditusukkan ke bambu layaknya sate, lalu digoreng sebelum disajikan.

“Saya memilih berjualan sempol ikan tuna dan ayam. Ikan tuna gizinya tinggi, anak-anak juga suka,” kata Salimin.

Harjokuncaran hanya berjarak 30 kilometer dari pesisir Pantai Sendang Biru, di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Lokasi itu membuat desa-desa di sekitarnya berlimpah kekayaan laut, seperti ikan tuna. Bahkan, dari laut di selatan Malang inilah, konon salah satu ikan tuna terbaik dihasilkan.

Potensi alam ini juga yang akhirnya dilirik Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Kementerian yang dipimpin Muhadjir Effendy itu memberi kail keterampilan berbasis ikan tuna kepada warga dengan 3.200 Kepala Keluarga tersebut melalui program Desa Vokasi.

Desa vokasi adalah kawasan perdesaan yang menjadi sentra penyelenggaraan kursus atau pelatihan berbagai kecakapan vokasional dan pengelolaan unit-unit usaha berdasarkan keunggulan lokal dalam dimensi sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan. Sebuah program yang dibangun sebagai bagian dari upaya menyelesaikan dua persoalan mendasar yang banyak terjadi di desa-desa, yakni kemiskinan dan pengangguran.

Momentum hajatan besar desa seperti karnaval memang sangat ditunggu-tunggu Salimin. Karena omset penjualannya bisa meningkat paling tidak dua kali lipat dari hari biasa. Tahun ini, dalam satu hari karnaval, Salimin bisa mengantongi 380 rupiah.

Padahal, setiap hari, rata-rata penghasilan kotor dari berjualan sempol hanya sekitar 150 ribu rupiah. Dipotong modal sekitar 90 ribu, dan menyisakan 50 ribu rupiah sebagai laba bersih.

Salimin selalu menyisihkan sebagian besar dari penghasilannya untuk kebutuhan sekolah anaknya. “Dari 380 ribu rupiah, 300 ribunya saya ‘tabung’ di Pondok (pesantren), bayar SPP 120 ribu rupiah, sisanya untuk kebutuhan sekolah lainnya,” sebut Salimin.

Kesadaran Salimin untuk menyekolahkan anaknya patut diacungi jempol. Selain karena ia ingin pendidikan anak-anaknya melampaui dia yang terpaksa berhenti di jenjang SMP, Salimin juga menyadari bahwa pendidikan penting sebagai pemotong rantai kemiskinan. “Buat saya, sekolah penting banget, Jangan seperti saya dan Ibunya yang hanya lulusan SMP dan Aliyah,” kata Salimim.

Lain Salimin, lain pula dengan Ina, 40 tahun, masih warga Harjokuncaran. Di tangannya, bahan baku ikan tuna bisa berubah menjadi molen kering. Adonan tepung yang dicampur dengan daging tuna dipilin melingkar membungkus pisang rojo nongko yang di potong seperti batang korek api.

“Molen kering sangat laris saat Lebaran kemarin. Saya sering kewalahan menerima pesanan. Bahkan, harga jualnya bisa meningkat dari 30 ribu menjadi 50 ribu per kilogram,” kata Ina.

Sama seperti Salimin, keterampilan membuat molen kering ini juga didapatnya dari pelatihan di program Desa Vokasi, yang difasilitasi oleh PKBM Ceria.

Harsono Misbahul Anwar, 39 tahun, pengelola PKBM Ceria, menuturkan kriteria desa yang menjadi prioritas sasaran program adalah desa tertinggal dan memiliki sumber daya alam melimpah. Meski melimpah, sebagian besar di antaranya belum diberdayakan karena keterbatasan keterampilan warga.

Kecamatan Sumbermanjing Wetan terpilih karena pendidikan dan keterampilan warganya masih rendah. Kondisi tersebut sering memaksa warganya menjadi buruh migran untuk menopang perekonomian keluarga. Untuk diketahui, daerah selatan Malang, yakni Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Gedangan sejak lama menjadi kantong pekerja migran.

“Sebagian besar yang menjadi buruh migran itu perempuan, meninggalkan anak dan suami demi mencari uang,” ungkapnya.

Keprihatinan itu yang kemudian membulatkan tekadnya memfasilitasi warga desa untuk meningkatkan keterampilan melalui jalur pendidikan non formal. Pria kelahiran Situbondo ini memaparkan, dalam program pendidikan nonformal diajarkan banyak keterampilan yang dikemas dalam berbagai program, di antaranya keaksaraan fungsional, kesetaraan, dan lainnya.

Misbahul berharap jika warga sudah terampil, dapat mulai berwirausaha. Dengan begitu warga tidak perlu lagi menjadi pekerja migran, karena rezeki bisa di dapat di dalam negeri. “Akan lebih menyenangkan bila rezeki diperoleh di negeri sendiri, dekat dengan keluarga,” tutup Misbahul. [Asa/CL/E-3]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner