Longsor Sukabumi, 15 Korban Masih Dicari

Ratusan petugas SAR gabungan melakukan penggemburan tanah untuk mencari korban bencana tanah longsor di kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (4/1/2019). | M. Agung Rajasa /Antara Foto
Ratusan petugas SAR gabungan melakukan penggemburan tanah untuk mencari korban bencana tanah longsor di kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (4/1/2019). | M. Agung Rajasa /Antara Foto
Prime Banner

SUKABUMI – Tim SAR gabungan melanjutkan pencarian korban tanah longsor di Kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Hari ini, Jumat (4/1/2019), tim SAR mencari 15 korban lagi yang masih tertimbun material longsor.

Menurut laporan Kompas.com, jumlah korban yang tertimbun pada awal adalah 33 jiwa. Hingga Kamis (3/1), ratusan anggota tim SAR gabungan berhasil menemukan 18 jiwa.

Korban terakhir yang ditemui dalam kondisi meninggal berjumlah lima jiwa. Masing-masing, menurut lansiran CNNIndonesia.com, adalah Mulyani (60), Madtuha (50), Andra Maulana (8), dan dua lain yang belum berhasil diidentifikasi.

Kelima jenazah itu sudah dievakuasi. Sedangkan luka berat mencapai tiga orang dan 64 orang dinyatakan selamat.

Bencana tanah longsor ini terjadi di lereng perbukitan Gunung Surandil pada Senin (31/12/2018), sekitar pukul 18.00 WIB. Longsoran seluas 10 hektare akibat hujan deras selama satu hari itu menimpa dusun adat Garehong yang dipenuhi 30 rumah dan dihuni 32 kepala keluarga (KK).

Proses pencarian korban sudah memasuki hari kelima. Durasi lama kerja tim SAR tak lepas dari medan yang cukup sulit.

Kepala Polres Sukabumi, AKBP Nasriadi, mengatakan 364 personel SAR dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan harus menggunakan alat berat. Masing-masing tiga ekskavator, dua Rescue Truck Personel, satu mobil kompartemn, dua mobil D-max, dan satu sepeda motor trail.

Menurut Ketua Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, proses evakuasi memang tidak mudah. Selain medan yang sulit, tim SAR gabungan juga harus melihat situasi dan kondisi.

Tim SAR gabungan juga menghadapi kendala utama berupa faktor hujan. “Jika kondisi cuaca cerah maka pencarian korban dapat dilakukan hingga malam hari. Sebaliknya jika hujan dapat menyebabkan evakuasi dihentikan lebih awal,” ujar Sutopo dalam siaran pers, Jumat (4/1).

Selain itu, lokasi cukup rentan dengan longsor susulan. Sutopo menjelaskan muncul suara gemuruh di lokasi longsor pada Kamis (3/1) malam.

“Ada batu besar yang berada di mahkota longsor ke bawah. Kondisi ini cukup membahayakan bagi personel di lapangan,” katanya.

Longsoran susulan juga sempat terjadi pada Rabu (2/1) malam. “Semalam pukul 22.00 WIB -22.30 WIB terjadi longsor susulan pergeseran tanah yang cukup signifikan,” tutur Koordinator Humas dan Protokoler Basarnas Kantor SAR Bandung, Joshua Banjarnahor.

Evakuasi korban bakal dilakukan hingga hari ketujuh sesuai keputusan Bupati Sukabumi dalam penetapan masa tanggap darurat. Periodenya pada 31 Desember 2018 hingga Minggu (6/1).

 

Warga akan direlokasi

Sutopo menjelaskan bahwa wilayah Kampung Cimapag tak layak menjadi permukiman karena berada di lereng dengan kemiringan 30 persen. Lantas tanahnya pun mudah menyerap air dan konturnya gembur.

Jadi, menurut Sutopo, wilayah itu seharusnya dijadkan konservasi budidaya dan bukan permukiman. Itu sebabnya BNPB akan merelokasi warga setempat.

“Nantinya mereka akan direlokasi atau rumah tidak akan kembali dibangun di sini, tetapi akan dicarikan tempat yang lebih aman,” kata Sutopo, Rabu (2/1).

Total ada 29 KK yang bakal mengalami relokasi. Soal relokasi, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil masih menunggu kesepakatan warga untuk menentukan titik lokasi kampung baru.

“Mereka itu punya adat di mana punya lahan desa yang tersebar dalam radius 2-3 kilometer. Saya tugaskan kades minggu ini untuk menyampaikan pilihan lokasinya. Setelah tanggap darurat, kami bikin upaya agar merelokasi satu kampung ke tempat baru yang sudah jadi kesepakatan,” tutur Ridwan di Bandung, Kamis (3/1).

Soal biaya relokasi dan pembangunan rumah akan ditangani pemerintah pusat bersama Pemprov Jawa Barat. “Lahannya akan kami siapkan yang disesuaikan dengan keinginan warga serta tidak jauh dari lokasi sebelumnya tetapi relatif aman,” kata Wakil Bupati Sukabumi, Adjo Sardjono, dilansir dari Antara []

You may also like...