Prime banner

Tak pernah terbayangkan dalam pikirannya bahwa dia akan menjadi pekerja dan perantau di negeri orang. Jauh dari anak–anaknya, keluarga, teman dan sahabat yang ditinggalkannya sejak beberapa bulan yang lalu di kampung halaman. Dia muda, pernah mengenyam pendidikan tingginya dan juga memiliki penampilan anak zaman sekarang.

Namun keadaan telah membawanya kepada sebuah jalan perjuangan yang harus dijalaninya demi menghidupi anak–anaknya sendiri setelah perpisahan terjadi dengan pasangannya yang juga ayah kandung dari anak–anaknya. Perpisahan yang memaksa dirinya untuk membulatkan tekad untuk menjadi TKW di sebuah negeri sub tropis, sebagai pengasuh orang–orang jompo yang membutuhkan perawatan. Perpisahan yang membuatnya pun terpaksa terpisah dengan anak–anaknya yang masih kecil demi mencari penghasilan untuk mencukupi biaya hidup anak–anaknya dalam keseharian.

Dia bukannya tak berpendidikan, bahkan perguruan tinggi pernah dia enyam sekalipun harus berhenti di tengah jalan. Karena menikah dan kemudian harus melahirkan dua anak yang lalu menjadi pusat perhatian dan sekaligus tumpuan harapan masa depan. Namun tak dinyana, rumah tangganya tak berumur lama karena perceraian kemudian menjemputnya. Suami yang diharapkan akan menjadi teman di sepanjang hidupnya memilih untuk berpisah untuk suatu alasan yang diyakini sekaligus menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya.

Lebih menyakitkan lagi, anak pertama lelakinya kemudian dibawa oleh suaminya untuk diasuh dan dibesarkan, sedang anak kedua yang perempuan ditinggalkan begitu saja. Keadaan kemudian menjadi semakin memberatkan karena kemudian suaminya tak memberikan tunjangan keuangan, terutama untuk anak mereka yang perempuan. Setelah berpikir dalam kemelut kondisi kemelut di dalam hati, akhirnya dia memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai TKW di sebuah agen PJTKI yang kemudian memberangkatkannya ke negeri jiran.

Suhu udara kering yang membekukan di musim dingin tak mampu membuat hatinya kebas dari rasa rindu terhadap anak-anaknya yang mendalam. Namun ditelannya dalam–dalam, demi memusatkan pikiran dan tenaga untuk mengerjakan tugas dan kewajibannya sebagai pekerja untuk merawat orang–orang jompo yang membutuhkan bantuan dalam aktivitas keseharian. Berkawan akrab dengan orang–orang jompo yang banyak termenung dan terdiam, membuat kesunyian yang hening menjadi sahabatnya dalam menjalani hari demi hari di perantauan.

Dia tetap melayani dengan hati dan merawat dengan segenap kesungguhan, para orang–orang tua yang notabene juga diabaikan oleh anak–anak mereka sendiri. Anak–anak mereka yang juga sibuk mencari kehidupan dan tak memiliki cukup waktu untuk merawat para orang tua mereka sendiri. Hingga harus menyerahkan tugas dan kewajiban ini kepada orang lain yang berasal dari seberang lautan. Kepada dia, salah satu dari ribuan TKW yang merantau jauh dari kampung halaman. Meninggalkan orang–orang yang dicintainya namun dengan menggenggam rindu membeku di dalam tiap–tiap hati mereka.

Dalam sebuah syair sederhana, dia pun menumpahkan rasa rindunya;

Membeku dalam Rindu

Kini ku terbiasa berteman dingin dan sepi.

Hampir lupa ramainya dunia.

Manula pikun tugasku kini.

Jauh dari tawa dan canda.

 

Berbulan lamanya tinggalkan mereka.

Gadisku kecil tak lagi balita.

Kutitipkan pada neneknya.

Yang belum pikun dan mau menerima.

 

Ayahnya entah pergi ke mana.

Memisahkan anak lelakiku denganku dan adiknya.

Tak lagi mau berupaya.

Sejahterakan kami seperti yang janji-janji di saat pertama

 

Pagi tadi kuterima kabar.

Gadis kecilku semalam sakit terkapar.

Demam tinggi bagai terbakar.

Badan yang mungil hebat bergetar.

 

Andaikan ku punya sayap.

Pastiku kan terbang dalam sekejap.

Menerobos awan, hujan dan gelap.

Tuk sekedar mampu mendekap.

 

Salahkah aku meninggalkannya?

Jika pilihannya hanya dua.

Pergi jauh mencari makan tuk mereka.

Atau mengais belas kasihnya Indonesia.

 

Di negeri sendiri kami kehilangan asa.

Kesempatan menipis waktu tersia-sia.

Menunggu peluang mendapatkan kerja.

Sedang perut kami tak bisa terus puasa.

 

Kupandangi manula pasienku.

Duduk di kursi roda diam membisu.

Kubisikkan padanya pintaku.

Walau kutahu dia tak paham bahasaku.

 

Nek, doakan aku agar kesempatan memihakku.

Agar kubisa segera membebaskan rinduku.

Membesarkan mandiri anak-anak dengan tanganku.

Sebelum aku tak berdaya sepertimu.

 

Nek, doakan aku agar bisa bersabar sepertimu.

Menanti anak-anakmu menjengukmu.

Sabarmu,sabarku…sabar seorang ibu.

Yang sama-sama menanti dekapan anak-anak penuh rindu.

[Penulis: Yasin bin Malenggang, Ketua dan Pendiri SPINMOTION]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner