Prime banner

”Banyak orang yang berpuasa tidak mendapat apa pun dari puasanya kecuali lapar dan dahaga saja.” — Muhammad, Rasulullah.

Menjalani ibadah puasa Ramadhan di Hong Kong memang memiliki ujian dan tantangan yang cukup khas. Biasanya, Ramadhan berbarengan dengan cuaca panas cukup ektrem yang mendera Negeri Beton. Selain itu kita, pekerja migran Indonesia yang telah berkeluarga, juga memiliki masalah laten: hubungan jarak jauh dengan orangtua, anak, dan pasangan hidup yang kerap terselingi dengan kesalahpahaman dan masalah komunikasi.

Namun, apa pun kondisinya, berpuasa di bulan Ramadhan hukumnya wajib. Kabar gembiranya, kualitas pahala yang akan kita terima seringkali sejalan dengan kesulitan dan kualitas ibadah kita.

Agar ibadah yang tidak mudah kita laksanakan ini dapat membawa kita ke level takwa (la’allakum tattaqun), kita harus betul-betul memperhatikan apa saja yang dapat membuat puasa kita sia-sia. Sebab, berpuasa bukan hanya menahan diri untuk tidak makan dan minum semata.

”Hakikat puasa adalah menahan nafsu dari setiap perbuatan dan ucapan yang dilarang Allah Ta’ala, baik yang diharamkan maupun yang dimakruhkan,” demikian tulis Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari al-Fannani, dalam buku karyanya yang sangat fenomenal: Fathul Mu’in.

Itu artinya, sepanjang Ramadhan kita juga harus berpuasa dari status-status dan komentar-komentar mencaci maki, mengeluh, menyindir, memfitnah, dan menggibah di media sosial yang kita miliki. Termasuk, berpuasa dari postingan yang mengumbar aurat dan mem-posting hal-hal yang tidak berguna.

Ramadhan harus kita jadikan sebagai bulan tempat kita melatih diri untuk hanya berpikir, berucap, dan berbuat yang baik-baik saja. ”Sebagian perkara yang sunnah muakkad bagi yang puasa, ialah menjaga lisan dari setiap perkara yang diharamkan, seperti berdusta, menggunjing (memfitnah), dan memaki orang. Sebab perbuatan tersebut menghapus pahala puasa,” tulis al-Malibari.

Sebaliknya, marilah kita perbanyak amal ibadah dan perbuatan baik sepanjang bulan Ramadhan. Misalnya, dengan memperbanyak sedekah. Bagi kita yang menjadi tulang punggung keluarga, hukumnya sunnah muakkad di sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk memberikan uang belanja lebih kepada keluarga di kampung halaman, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Jika mampu, kita juga disunnahkan memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka.
Yang juga disunnahkan di bulan Ramadhan, memperbanyak membaca Qur’an. Yang utama, membaca Qur’an dilakukan pada malam hari dan caranya adalah dengan tadabbur (mengingat artinya).

 

Sahur dengan Kurma

Tentu tidak mudah bagi kita bekerja sambil berpuasa. Terlebih, sebagian besar dari kita di Hong Kong bekerja mengandalkan tenaga secara fisik. Namun sebetulnya, masalah itu bisa kita atasi dengan bersahur. Agar kuat sampai sore, konsumsilah tiga buah kurma saat sahur.

”Orang yang berpuasa Ramadhan dan puasa lain, disunnahkan sahur, walaupun hanya meneguk air. Sunnah mengakhirkan (sahur) selama tidak jatuh pada waktu syak (ragu akan terbitnya fajar). Sunnah bersahur dengan kurma,” tulis al-Malibari dalam Fathul Mu’in.

Semoga dengan menjaga diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa sebagaimana diutarakan di atas, serta mengisi bulan Ramadhan dengan berbagai amal ibadah dan perbuatan baik, niscaya puasa kita berkualitas. Begitu juga dengan pahalanya.

Dengan begitu, kita tidak hanya mendapatkan lapar dan dahaga, seperti yang telah diingatkan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam. Aamiin! (*)

Penulis : H. Abdul Razak, SS., Da’wah Worker, Islamic Union of Hong Kong

 

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner